Wednesday, May 11, 2016

[Sinopsis] Memory Episode 10 Part 1

Tags


Tae Suk menyadari kalau orang yang menelfon sama dengan orang yang ditemuinya di toilet tadi siang.

Tae Suk lalu keluar menemui Sun Hwa dan Jeong Jin yang masih menunggu di luar. Tae Suk bertanya, apa tadi ada laki-laki yang mencarinya, laki-laki muda yang memakai setelan antara pukul 10 atau 11 pagi.

"Tidak ada." Jawab Sun Hwa.

Tae Suk bertanya lagi, apa telfon juga tidak ada. Sun Hwa menjawab kalau Produser Im menelpon soal waktu rekaman TV dan...

"Orang tidak dikenal atau yang belum pernah kelihatan?" Tae Suk melengkapi pertanyaannya tadi. Sun Hwa menjawab tidak ada.

Tae Suk gugup sekali, ia kesulitan bertanya dimana ia bisa mengecek daftar tamu baru setelah beberapa saat, kalimat tersebut keluar dari mulutnya. Sun Hwa dan Jeong Jin menjawab serentak, di CCTV, bisa diperiksa di kantor keamanan di basement. Jeong Jin mengikuti Tae Suk kesana dan Sun Hwa akan menelfon kesana.


Je Hoon kembali ke meja Sun Hwa dengan membawa tas Tae Suk yang ditinggalkan di toilet.

"Terima kasih. Tapi... Tahu dari mana ini tas pengacara Park?"

"Karena dia menentengnya setiap hari" Jawab Je Hoon dan Sun Hwa tidak bertanya lagi.


Tae Suk dan Jeong Jin menemui pihak keamanan tapi hasilnya nihil. CCTV waktu itu dimatikan karena ada kunjungan VIP, itu adalah peraturan dasar dalam keamanan lift... demi menjaga privasi. Itu adalah peraturan yang kami lakukan sejak pendiri Hwang Tae Sun ada disini.

Lebih singkatnya, CCTV dimatikan saat kedatangan Shin Young Jin dan istrinya, mereka menyamakan waktu mematikan CCTV dengan waktu kedatangan Tapi, ada kerusakan dalam sistem sejak pagi, jadi kurang lebih dimatikan selama 2 jam.

Jeong Jin menyarankan Tae Suk untuk memeriksa  daftar tamu. Tae Suk mengatakan kalau ia tidak tahu siapa namanya.


Sun Hwa mondar-mandir di depan mejanya. Tae Suk dan Jeong Jin datang. Tae Suk memberikan daftar tamu lantai 14 pada Sun Hwa, ia meminta tolong Sun Hwa untuk memeriksa jika ada orang yang aneh atau punya identitas tidak jelas. Lalu ia masuk ke ruangannya.

Sun Hwa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Jeong Jin tapi Jeong Jin juga belum tahu.


Tae Suk melamun, saat DOng Woo masih hidup dan membangunkannya saat hari libur. DOng Woo manja sekali dengan ayahnya.

"Kapan kau akan tumbuh sebesar ayah?" Tanya Tae Suk.

"Saat aku setinggi ayah."

Tae Suk membenarkannya. Dong Woo ingin cepat besar tapi Tae Suk tidak, ia ingin Dong Woo seperti ini selamanya.

Sekarang Tae Suk menyesali perkataannya itu, kenapa dulu ia berkata begitu, harusnya ia tidak bilang begitu.


Jeong Jin masuk untuk bertanya, kenapa tae Suk mencari orang yang yang tidak Tae Suk ketahui nama dan wajahnya.Tae Suk menjawab kalau ini masalah pribadi dan ia harus menemukan dia, Tae Suk menunjukkan CCTV yang merekam Hyun Wook.


Jaksa Kang mengajak Seung Hoo untuk ikut mencari Hyun Wook (mereka tidak tahu kalau Seung Hoo dan Hyun Wook saling kenal). Eun Sun bereterimakasih dengan bantuan Seung Hoo, ia memberi foto Hyun Wook pada Seung Hoo.

Mereka memutuskan untuk mencari di sekitar tempat Hyun Wook menelfon. Dugaan Eun Sun, Hyun Wook tinggal disana dan sering kesana.

"Pergilah ke semua toko dan bar dan tunjukkan foto ini. Cari tahu apa ada yang melihatnya." Perintah Eun Sun.

"Wajahnya tidak jelas. Apa bisa di dapat?" Tanya Seung Hoo.

"Perawakannya biasa dan tidak memiliki aksen. Dilihat dari pakaian dan caranya bicara, dia tidak mirip penjahat. Lebih mirip dengan pelajar atau anak baik-baik. Pokoknya, coba cari dulu. Kalau mereka kenal, mereka pasti bisa tahu hanya dengan melihat ini." Jelas Jaksa kang. Setelahnya mereka berpencar.

Seung Hoo menatap lekat foto Hyun Wook yang hanya menampakkan bagian belakang. ia menghela nafas berat.


Tae  Suk menjelaskan dugaannya pada Jeong Jin  kalau Hyun Wook kemungkinan besar adalah pelakunya, karena jika dia kesana sebagai saksi, dia tidak akan langsung pergi, Dia pasti akan menemuinya dan minta uang penghargaan.

"Bisa saja dia orang berbeda." Tanggap Jeong Jin.

"Kemungkinan dia orang yang sama 99%."

"Anda kan tidak lihat wajahnya."

"Lalu kenapa dia menggunakan saputangan dan memegang gagang telpon serta pintu toilet?"

"Agar tidak meninggalkan sidik jari?"

"Tempat ini sering didatangi orang. Kalau kau dia, apa kau akan begitu?"

"Jika dia sangat rapi, kemungkinan saja begitu."

"Kalau dia rapi, dia tidak akan menelpon wartawan Joo."

"Lalu, menurutmu apa alasannya?"

"Sepertinya karena penyakit itu... Aah... Itu... Orang yang mencuci tangan mereka 10x sehari. Dan mereka terlalu sensitif sehingga tidak mau memegang pegangan di dalam bis."

"Gangguan Obsesif-Kompulsif."


Tae Suk beralasan kalau ia sudah tua makanya sulit mengingatnya. Pokoknya, sehari setelah telpon itu. Seseorang dengan penyakit yang sama datang kesana.... sulit disebut sebagai kebetulan. Itu bukan kelainan biasa.

"Jadi... tersangka datang untuk minta uang dan pura-pura jadi saksinya? Tapi saat melihatmu, dia tidak bisa melakukannya lalu pergi? Begitu maksudmu?" Tanya Jeong Jin.

"Yah, itu hanya tebakan."


Sun Hwa masuk, ia sudah memeriksa daftar tamu. Ada 3 orang yang tidak ia kenali. 2 perempuan, dan satunya lagi sudah tidak muda lagi.

" Lalu, orang itu bahkan tidak mengisi buku tamu... dan naik sampai lantai 14?" Tanya Tae Suk.

Sun Hwa menjawab kalau kemungkinan orang itu lewat tangga darurat makanya tidak terdaftar. Sun Hwa akan menanyakan hal ini pada orang-orang kantor besok. Tae Suk berterimakasih.

Tae Suk menyuruh mereka berdua untuk pulang. Lalu menawarkan makan malam bersama, Baik Sun hwa maupun Jeong Jin setuju. kemudian Yeon Woo menelfon, menanyakan kenapa ayahnya belum juga pulang padahal sudah janji mau pulang awal. Tae Suk beralasan kalau ada pekerjaan mendadak dan berjanji akan segera pulang.


Young Joo mengambil ponsel untuk bicara pada Tae Suk, ia mengatakan kalau Tae Suk tak perlu buru-buru. Yeon Woo ngambek, ia tak mau janjian dengan Tae Suk lagi.


Tae Suk menyuruh Young Joo untuk makan duluan bersama anak-anak. Young Joo akan mengatasinya, lagipula Jeong  Woo belum pulang, Jadi mereka bisa makan sama-sama. Tae Suk menawarkan diri untuk menjemput Jeong Woo  saat pulang nanti. Ia memastikan kalau ia tidak apa-apa, ia akan hati-hati.

Tae Suk mau pulang tapi ia tidak menemukan tasnya, lalu ia keluar untuk menanyakannya pada Sun Hwa. Sun Hwa memberikan tas Tae Suk, ia minta maaf karena kelupaan tadi.

"Ini salahku, kenapa kau menyalahkan dirimu?"

"Karena aku lupa menyerahkannya kepadamu."

Jeong Jin mengatakan kalau mereka mau makan kulit babi dan minum soju. Tae Suk minta maaf karena tak bisa ikut, ternyata ia sudah janji dengan Yeon Woo. Jeong Jin dan Sun Hwa tak mempermasalahkannya.

Sun Hwa menatap kepergian Tae Suk.

-= Kilas balik =-


Sun Hwa tidak lolos saat wawancara di Taesun, tapi Tae Suk membantunya agar di rekrut, ia penasaran kenapa Tae Suk mempekerjakannya sebagai sekretaris.

"Sekretarisku keluar." Jawab Tae Suk.

"Kalau boleh tahu, kenapa anda tidak memilih orang lain? Kenapa anda memilihku padahal aku gagal dalam wawancara?"

Tae Suk tertarik dengan kalimat Sun Hwa "Aku tidak percaya hukum, aku percaya keadilan." kalimat itu membuat Sun Hwa gagal dalam wawancara dan merupakan alasan Tae Suk mempekerjakan Sun Hwa. Sun Hwa tidak mengerti maksud Tae Suk.

"Tidak lama lagi kau akan tahu, tapi aku ini bukan pengacara sembarangan. Menurutku ada baiknya aku punya orang yang jujur di sekitarku. Aku suka dengan kejujuranmu. Karena aku pembohong ulung."

-= Kilas balik selesai =-


Jeong Jin membuyarkan lamunan Sun Hwa. Sun Hwa mengatakan kalau ia tidak mau minum lagi. Jeong Jin tidak mau mengajak Sun Hwa minum-minum, ia mengajak Sun Hwa pulang.

"Kenapa Pengacara Jung ingin jadi pengacara di firma hukum?"

"Karena gajinya."

"Cuma itu?"

"Yah... Dulu, aku butuh uang."

Sun Hwa setuju untuk makan kulit babi dan minum soju karena Jeong Jin sudah menjawab jujur pertanyaannya.

"Ooh... apakah tipemu.. adalah orang yang miskin dan jujur?" Tanya Jeong Jin.

"Selama... bukan pengacara."

Jeong Jin hanya tersenyum.


Eun Sun masuk ke bar. Jaksa Kang melihatnya lalu ia ikutan masuk. Eun Sun menunjukkan foto Hyun Wook pada pemilik bar. Awalmnya pemilik bar tidak bisa mengenali siapa itu, tapi setelah Eun Sun mengatakan kalau orang itu sering memegang saputangan, ia ingat seseorang. Pemilik menunjuk Hyun Wook yang duduk tak jauh dari mereka.


Hyun Wook akan pergi setelah menerima telfon. Jaksa Kang dan Eun Sun mencegatnya, Eun Sun mengajak Hyun Wook untuk bicara sebentar. Hyun Wook tanya, siapa Eun Sun. Eun Sun menjawab kalau ia ibunya Park Dong Woo.

"Lalu?" Tanya Hyun Wook.

Jaksa Kang menunjukkan tanda pengenalnya.

Jaksa Kang menyuruh Hyun Wook mengaku, orang di foto dan yang menelfon Reporter Joo Sang Pil adalah dirinya kan. Hyun Wook mengelaknya. Eun Sun mengajaknya ke tempat yang lebih terang untuk bicara, ada yang ingin ia tanyakan. Hyun Wook tak mau karena ia ada janji.

Jaksa kang menahan Hyun Wook yang akan pergi, meminta kartu identitas Hyun Wook untuk pemeriksaan. Hyun Wook tak mau memberikannya karena tidak ada surat perintah,

"Kalau mau bicara denganku, bawa surat perintah." Lanjut Hyun Wook.

Jaksa Kang meminta Hyun Wook untuk mengatakan namanya agar ia bisa membuat surat perintah.

"Jangan bicara yang tidak-tidak. Gila ya?"Jawaban Hyun Wook yang langsung pergi. 


diluar ia berpapasan pada Seung Hoo yang menyuruhnya untuk bergegas pergi. Eun Sun memanggilnya.

"Beritahu kami berapa harganya. Uang penghargaan. Aku akan beri sebanyak yang kau mau."

Hyun Wook menjawab kalau uangnya banyak. Bagaimanapun UU Pembatasannya sudah lewat. Bahkan jika Hyun Wook tersangkanya, EUn Sun  tidak bisa apa-apa. Eun Sun hanya ingin tahu siapa yang membunuh putranya, ia mohon.

"Kenapa kau begini padaku?"

"Aku ingin tahu yang sebenarnya! Kau yang melakukannya kan?! Benar, kan?!"

Seung Hoo tegang dibelakang Eun Sun. Hyun Wook membenarkan, memang ia pelakunya, itu yang ingin didengar Eun Sun kan? Jaksa Kang mencengkeram kerah Hyun Wook.

"Kau ingin dipecat karena sudah menyalahgunakan jabatan?" Ancam Hyun Wook.

Jaksa Kang melepaskannya. Hyun Wook melanjutkan kalau ia sudah sangat terlambat, lalu pergi begitu saja. Eun SUn akan mengejar Hyun Wook tapi Jaksa Kang menghentikannya. Ia yang akan mengejar Hyun Wook dan memasrahkan Eun Sun yang masih syok pada Seung Hoo.


Jaksa Kang mengikuti Hyun Wook diam-diam. Hyun Wook tahu hal itu, kemudian ia lari, Jaksa Kangmengejarnya namun ia kehilangan jejak.

Jaksa kang bertemu dengan seseorang, ia bertanya apa orang itu melihat Hyun Wook, orang itu menunjuk ke arah yang salah. di balik tembok, rekannya membekap Hyun Wook. 


Jeong Woo keluar dari tempat les, ia melihat mobil ayahnya tapi orangnya tidak ada. Lalu ia mendengar suara muntahan, ternyata itu adalah Tae Suk yang muntah di pinggir tanaman.

Jeong Woo khawatir dengan ayahnya tapi Tae Suk memastikan kalau ia baik-baik saja. Lalu mengajak Jeong Woo untuk segera pulang. Tae Suk memanggil Jeong Woo dengan Dong Woo. Kali ini Jeong Woo tanya, siapa itu Dong Woo karena kemarin-kemarin Tae Suk juga memanggilnya dengan nama itu.

"Ah, maaf, maaf. Ayah, salah bicara."

Tae SUk menyetir pulang. ia salah jalan, Jeong Woo menunjukkan jalan yang seharusnya mereka lalui. Tae SUk gugup, Jeong Woo menyarankan agar Tae Suk menggunakan GPS saja.

Tae Suk menghentikan mobilnya untuk menyalakan GPS, tapi ia tidak bisa dengan mudah, jarinya bergetar. Tae Suk semakin panik, 


"Ayah. Aku tidak lapar. Jadi pelan-pelan saja. Tidak usah ngebut." Ujar Jeong Woo. Tae Suk mengerti, ia mau menangis dan tak bisa menahannya. Tae Suk keluar dari mobil, Jeong Woo mengikutinya.

Tae Suk beralasan kalau ia hanya mabuk darat, sebentar juga sembuh. Jeong Woo menawarkan untuk membeli obat tapi Tae Suk meyakinkan kalau ia tidak apa-apa.

Tae Suk menarik nafas panjang beberapa kali, setelah lebih tenang, ia mengajak Jeong Woo untuk segera pulang karena Young Joo pasti sudah menunggu.



Jeong Woo sampai rumah, ia langsung menuju ibunya. Ia menceritakan keanehan Tae SUk hari ini.  

"Itu bisa saja. Ayah jadi pelupa karena dia terlalu sibuk." Jawab Young Joo.


Young Joo menemui Tae Suk di kamar. Tae Suk sedang berganti baju, Young Joo menanyakan tentang mual-mual Tae Suk yang ia dengar dari Jeong Woo. Tae Suk menjawab mungkin karena makanan yang ia makan.

Young Joo melihat kalau Tae Suk memakai dua koyo sekaligus. Tae Suk beranggapan kalau efeknya akan lebih baik jika ia pakai dua sekaligus karena belakangan ini ia sering melakukan kesalahan.

"Apa kamu dokter? Overdosis tidak membuat pengobatanmu efektif. Efek sampingnya kau jadi mual." Jelas Young Joo sedikit kesal.

Tae Suk tidak tahu hal itu, Jae Min mungkin sudah bilang tapi ia lupa. Young Joo mencopot satu koyo Tae Suk dan meninggalkan lecet di kulit Tae Suk. Young Joo minta maaf karena sudah teriak dan akan mengambilkan salep untuk Tae Suk.

Tae Suk memeluk Young Joo,,"Aku cemas. Mulai sekarang... mungkin aku akan sering membuatmu kesal. Aku hanya akan membuatmu kesal. Aku sungguh minta maaf."

Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon