Tuesday, July 12, 2016

[Sinopsis] Lucky Romance Episode 14 Part 1


Sinopsis sebelumnya: [Episode 13 Part 1] dan [Episode 13 Part 2]

Soo Ho memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Daepyo atas rasa tanggung jawabnya, bukan hanya itu ia juga akan memberikan semua yang ia punya, saham, aset pribadi dan seluruhnya. Diiringi dengan narasi perkataan dukun.

"Semuanya sudah dipertaruhkannya, dia akan kehilangan semuanya. Suatu saat di kehidupannya, ketenarannya akan memudar. Saat ada kekayaan, kekayaannya akan hilang. Nama (ketenaran) dan kekayaan, kalau dia kehilangan semuanya yang tersisa hanyalah tubuhnya. Bahkan hal terakhir yang dimilikinya akan hancur oleh kesialanmu."


Soo Ho bertemu Bo Nui setelah Bo Nui menemui Ibunya. Bo Nui menyampaikan kalau Ibu sangat khawatir. Soo Ho berterimakasih, ia memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Zeze dulunya ia mulai dari ruangan yang kecil. Tak apa. ia bisa mulai dari 0 lagi.

"Kamu tahu aku jenius, kan?" tutup Soo Ho.

Bo Nui juga yakin bahwa semuan pasti terselesaikan, ia harap demikian. Soo Ho berjanji akan membuatnya begitu, apapun yang terjadi, akan ia perbaiki.

Bo Nui mengangguk dan tersenyum. Soo Ho kemudian mengajak Bo Nui main, soalnya kalau dipikir-pikir dan baru ia sadari 7 tahun lamanya ia tak pernah memanfaatkan liburan. Jadi hari ini... ia ingin main bersama Bo Nui tanpa memikirkan yang lainnya.


Mereka nonton film, Bo Nui meneteskan meneteskan airmata saat menatap Soo Ho. Soo Ho kemudian menggenggam tangan Bo Nui dan mendekapnya.


Setelah nonton, saatnya jalan-jalan. Soo Ho menebak pasti Bo Nui tadi menangis karena film bukan karena dirinya.

"Aku tahu kamu bakalan bilang itu kata-kata bodoh. Tapi kalau memang salahku bagaimana?Zeze dan kamu jadi seperti ini. bagaimana kalau memang karena salahku?"

Soo Ho meyakinkan Bo Nui kalau semua ini bukan karena Bo Nui. Karena bahkan Bo Nui tidak melakukan apapun.

"Lihat aku, aku melarangmu khawatir. Melarangmu ragu." Perintah Soo Ho.

Bo Nui mengerti. Lalu mereka makan bersama, suap-suapan.


Bo Nui mondar-mandir dirumahnya, lalu ia berhenti menatap foto Soo Ho yang tergantung di dinding. Ia teringat kata-kata Soo Ho.

"Ini bukan salahmu. Yang pasti tidak, tak seperti itu."

Bo Nui mendekat ke foto di dinding. Ia berucap kalau mungkin saja kebetulan. Mungkin bukan salahnya, Hanya saja.. hal buruk kerap terjadi, silih berganti. Dan ia berhenti kala teringat kata-kata dukun.

"Kalau kau melanjutkan hidup tanpa menyerahkan persembahan para arwah akan murka. Jadi hatimu sudah kau berikan padanya."


Dal Nim mengatakan pada Amy mengenai pengunduran diri Soo Ho sebagai daepyo bahkan sampai menyerahkan seluruh asetnya. AMy tidak menyangka, harus ya sampai segitunya. Dal Nim juga tidak tahu, sebetulnya kesepakatan apa yang terjadi pada para atasan.

Amy melarang Dal Nim mengernyit. Nanti jadi keriput. Dal Nim kesal, tak tahu harus bagaimana, juga khawatir pada Bo Nui.

"Bo Nui?"

"Dalam sehari pacar tampannya berubah jadi kodok. Dengan kepribadiannya begitu, aku sih yakin dia bakalan menyalahkan diri sendiri. Dia benar-benar membuatku khawatir." Jawab Dal Nim.

Gary tetap pada pendiriannya, Ini game-nya. Wajahnya, hidupnya! Sudah ia bilang tak apa-apa, kenapa pihak agensi tak mau mengerti?

"Nah itu dia. Dari sudut pandang perusahaan, mereka tak punya apa-apa lagi kecuali angka-angka di kalkulator!" Jelas Amy.


Gary menunggikan suaranya saat memanggil Amy. Amy melanjutkan, semua uang hadiah Gary ludes dalam dua bulan  ini, pendapatan gary akan disesuaikan dengan rangkingnya ditambah tercorengnya nama Gary atas kejadian ini. "Mereka punya alasan untuk membuat keputusan."

"Kau tak punya alasan kecuali berpihak pada perusahaan." SIndir gary.

Amy membentak, Ia sudah habis-habisan berkelahi dengan perusahaan. Ia sampai merendah, kalau gugatan dibatalkan, akan mereka lakukan apa saja.

"Makanya aku menyuruhmu menyampaikan pesanku. Kalau gugatan tak dibatalkan, kontrakku selesai." Debat Gary.

Amy berhenti sebentar untuk menarik nafas panjang. Ia kemudian menjelaskan pada Gary situasinya. Masalah ini tidak bisa Gary putuskan sendiri, karena Gary bisa kena dampaknya!

"2 bulan liburan, mencari Ayahmu kalau perusahaan menggunakan alasan ini, mereka bisa."

"Suruh saja menuntutku. Akan kuberikan dendanya." Gary tetep kekeh.

Amy kembali menghembuskan nafas panjang, ia terus berusaha untuk membujuk Gary, "Dari pihak Zeze, Daepyo-nya mengundurkan diri dan semua asetnya diserahkan. Mereka akan melakukan semuanya untuk menstabilkan keadaan. Saat kondisi stabil, mereka akan punya banyak ruang untuk membuka peluang negosiasi dengan IM Sports."

"Siapa yang mengundurkan diri?" Tanya Gary.

"Soo Ho. Simbol Zeze menanggung semua tanggung jawab. Bukan potret yang buruk. Dan media akan melunak. Dia orang yang menemukan jawaban paling cepat dan jelas. Mungkin tahu apa yang dia lakukan, makanya mengambil keputusan itu."

"Lantas, Je Daepyo bagaimana nasibnya?"


Soo Ho sekarang menandatangani kesepakatan Transfer Saham dengan Ryang Ha. Ryang Ha mencoba membujuk lagi, apa harus Soo Ho bertindak sampai sejauh itu.

Soo Ho hanya tersenyum lalu ia mengeluarkan kartu staf-nya juga yang merupakan kunci untuk masuk ke kantor Zeze. ponsel Ryang ha terus berbunyi dan kali ini ia mengangkatnya, sebelumnya ia minta maaf pada Soo Ho.

Itu adalah telfon dari pemegang saham yang bertanya sampai kapan situasi ini akan berlangsung, karena harga saham Zeze jadi anjlok. Ryang Ha kesal, mengatakan kalau ia juga tidak bisa apa-apa.

Soo Ho melihat 2 polisi yang lewat di depannya (saat ini ia ada di kafe Ryang Ha).


Di kantor, semua staf juga memperbincangkan masalah Zeze yang beritanya jadi topik panas. Yon Bal berharap agar pelakunya lekas tertangkap karena polisi bolak-balik ke sana membuatnya takut.

"Kalau gitu, Daepyonim bisa kembali?" Tanya Ji Hoon.

"Kerusakannya di mana-mana. Tuntutan masih ada, kita belum bisa menemukan password-nya yang kita lakukan hanya cari tahu server mana yang terinfeksi. Tak ada gunanya menangisi susu yang sudah tumpah."

"Rasanya beliau lagi keluar sebentar, ngomelin kita melakukan ini-itu." Ucap Dal Nim sambil menatap ke ruangan Soo Ho diikuti yang lainnya.


Balik ke Ryang Ha dan Soo Ho. Ryang ha selesai mengangkat telfon, ia minta maaf lagi pada Soo Ho namun hanya dibalas senyum.

"Jangan senyum, Nyuk! Bikin tambah sesak saja."

Soo Ho juga memberikan mobilnya walaupun para tetua sudah sepajat untuk membolehkan Soo Ho tetap memiliki mobil itu karena Ia tidak ingin mengingkari janjinya bahwa akan memberikan semuanya.

Kau. Kau yakin mereka tak tahu, kan?" Tanya Soo Ho.

"Apa? Apa?"

"Hei!"

"Tahu, tahu. Kau yang mengungkitnya lebih dulu."

"Apapun yang terjadi, pastikan staf lain tidak tahu."

"Khususnya Bo Nui. Dasar, kau sungguh mau lakukan ini semua."


Bo Nui menawarkan diri untuk membeli makanan untuk semua staf. Saat itu Ryang ha dan Soo Ho juga keluar dari gedung.

Saat Ryang Ha mengatakan kalau Soo Ho hanya punya tubuh tersinya, Soo Ho mengoreksi kalau ia masih punya otak, otak yang jenius. Lalu Ryang Ha menyuruh Soo Ho menunggu karena ia akan mengambil mobil.

Soo Ho duduk di depan gedung, ia menelfon Bo Nui. Tepat saat itu Bo Nui membuka pintu keluar gedung. Soo Ho mengajak Bo Nui ketemuan karena kebetulan ia ada di kantor saat ini.

Soo Ho menoleh ke samping dan melihat Bo Nui berdiri tak jauh darinya. Soo Ho berdiri, Bo Nui menjawab kalau ia ada di luar sekarang dan rasa-rasanya bakalan agak lama.

Soo Ho terlihat kecewa karena Bo Nui berbohong tapi ia mengukitinya saja. Bo Nui mutup telfon dan menghembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan jalannya.


Ryang Ha mengangkuti barang-barang Soo Ho dengan mobilnya kecuali satu koper dan tas ransel. Ryang Ha mengatakan kalau barang-barang itu akan ia bawa ke rumahnya.

Soo Ho melamun sehabis memasukkan barang-barangnya ke bagasi mobil. Ryang ha memanggilnya, Ia tahu Soo Ho pasti sedih, secara Soo Ho menghabiskan usia 20 tahunnya untuk membangun Zeze dan sekarang mengundurkan diri dari perusahaan itu, betapa sedihnya.

"Hyeongmu ini minta maaf. Benar-benar maaf tak bisa melindungimu. Harusnya kujual semua sahamku..." Ujar Ryang Ha sambil menangis.

Soo Ho melarangnya menangis, ia hanya minta agar Ryang Ha menjaga posisinya untuk melindungi IF dan para staf. Ryang Ha menyuruh Soo Ho untuk tinggal sementara di rumahnya saja, Ia mengaku kalau ia sudah membersihkan rumahnya tapi tetap saja berantakan tak peduli mau berapa kali ia bersihkan.

"Jangan hambur-hamburkan uang. Belanjakan saat aku minta bantuan." Jawab Soo Ho.

"Terus kau mau tinggal di mana?"

Soo Ho tidak menjawabnya namun mukanya tampak sumringah dan ia pergi dengan langkah ringan bahkan dengan suka cita.


Soo Ho menuju rumah Bo Nui dan langsung berbaring di sofa. Ia berkata pada Bo Nui kalau ia ingin tinggal di sana karena sekarang ia pengangguran yang tak tahu harus menuju kemana.

Bo Nui menyarankan ke rumah Ryang Ha, tapi Soo Ho gak mau karena tempatnya gak layak buat manusia. Bo Nui menyarankan kembali untuk ke rumah orang tuanya, Soo Ho gak mau karena disana banyak air dan itu membuatnya lemah.

"Sebelumnya kan pernah ke sana denganku."

"Tahu ah! Tahu ah! Aku tak punya mobil, lagian terlalu jauh." "Sebagai warga negara yang baik kamu jangan begitu. Bantu yang sedang kesulitan. Aku kan pacarmu. Pacar. Pacar. Aku pacarmuuuh. Pacar."


Bo Nui tetap saja mengusir Soo Ho. Soo Ho memasang wajah memelas. Akhirnya Bo Nui luluh, ia menyilahkan Soo ho untuk masuk dan Ia akan tidur di sauna sebagai gantinya.

Soo Ho langsung berubah pikiran, ia menyuruh Bo Nui untuk masuk ke dalam dan Bo Nui beneran masuk dan cepat-cepat menutup pintu.

Soo Ho meminta Bo Nui untuk memberinya waktu sebentar lagi. Soo Ho bahkan sampai menyandar ke pintu. Dari dalam Bo Nui mengatakan kalau dirinya benar-benar minta maaf.

Gary memergoki SOo Ho, ia bertanya sedang apa Soo Ho disana. Soo Ho menjawab kalau ia nganterin Bo Nui pulang dan sekarang sedih mau balik pulang.

Kemudian perut SOo Ho berbunyi. Ia berkata kalau ia lapar sambil seyum lebar dan memegangi perutnya.






Dan berakhirlah mereka di kedai ramen. Soo Ho langsung menyeruputnya saat Ahjumma menyajikan semangkuk Ramen. Soo Ho menanyakan mengenai ayah Gary.

"Beliau di kuil, sudah lama tinggal di sana. Kubujuk untuk tinggal bersamaku di Kanada tapi beliau tak mau." Jawab Gary.

"Sekarang kau punya banyak waktu. Kau bisa menemuinya.

"Terima kasih. Susah mengatakan kata satu ini."

Soo Ho hanya tersenyum. Dan yang menjadi pertanyaan Gary adalah, kenapa Soo Ho meninggalkan perusahaan. Soo Ho menjawabkalau situasinya yang mengharuskannya pergi

"Tapi kami akan berhasil mengembangkan IF. Sebelum pergi, aku sudah membuat kesepakatan." Jelas Soo Ho.

Gary mendebat kalau SOo Ho tak seharusnya membuat kesepakatan itu menggunakan jabatan daepyonya sebagai ganti.

Soo Ho tidak melakukannya demi IF. melainkan karena developer aslinya memang bagus. Dan terlebih lagi Game ini sangat penting untuk Gary dan Bo Nui.

"Ah, sumpah aku tak suka kau. Aku harus melihat kelemahanmu supaya bisa mengalahkanmu. Makin mengenalmu, sepertinya kau orang yang baik." Aku Gary.

"Aku tak percaya kau baru menyadarinya." Balas Soo Ho.

Gary memberi ijin khusus pada Soo Ho untuk tinggal di rumahnya kalau tak punya tempat. Soo Ho tak mau karena ia tinggal di rumah pacarnya.

"Kau kira aku sok akrab karena ingin? Tadi kulihat kau diusir!"

Gary berpesan agar Soo Ho tak menyusahkan Bo Nui. Soo Ho membantah hal itu. lalu timbul pertanyaan Gary, kalau begitu kenapa tadi Bo Nui mengusir Soo Ho.

"Nah, itu dia. Aku tak tahu alasannya. Kalau kau tahu, katakan." Pinta Soo Ho.

"Pokoknya, jangan membuatnya menangis. Dia sudah terlalu banyak menangis. Apapun yang terjadi buatlah dia tersenyum, Je Soo Ho."

Soo Ho tak menjawab. Lalu ia meletakkan sumpitnya saat Gary memintanya untuk menjawab. "Dia tak akan menangis karenaku. Justru aku yang menangis karena Bo Nui." Jawab Soo Ho lalu melanjutkan makannya, bahkan ia menggeser mangkuk Gary mendekat lalu menyumpitnya namun Gary mengambilnya lagi karena ia juga mau makan.

Gary pulang ke rumahnya, ia berbicara pada boneka burung hantunya bahwa ia benar-benar sudah kalah, game over!


Soo Ho ke atap apartemen Bo Nui-Gary. Di apartemennya Bo Nui bingung mau mengetik pesan apa untuk Soo Ho

"Kamu di mana?" dihapus

"Pergi kemana?" dihapus

"Mau ke sini..." dihapus juga.

sampai akhirnya Soo Ho yang menelfon. Soo Ho tahu kalau Bo Nui pasti khawatir, dan ia berkata kalau Hari ini ia tak bisa lihat bintang lalu menutup telfonnya setelah mengucapkan selamat malam.


Bo Nui melihat Soo Ho di atap apartemennya. So Ho meringkuk berbaring di atas meja membuat Bo Nui tak tega, akhirnya ia mengijinkan Soo Ho untuk tidur di apartemennya.

"Cuman sehari." syarat Bo Nui.

"Sehari, ya? Sehari. Sehari di ruang keluarga, sehari di kamarnya Bo Nui, sehari di kasur ini, sehari di dapur. Tak terasa bakalan jadi sebulan."

Bo Nui tidak membolehkan, besok harus cari tempat tinggal pokoknya. Soo Ho menjawab kalau pasti ketemu kalau dicari tapi ia tak ingin.

"Kamu tak suka ya bersamaku?" Jebak Soo Ho.

"Bukan gitu.."

"Oke, itu yang ingin kudengar."


Dan mereka akhirnya sepakat 1 minggu saja. Dan Soo Ho memaksa Bo Nui untuk memakai piyamanya agar secara fisik dan mental is merasa 100% santai dan nyaman.

"Oh tapi kamu terlihat sangat cantik. Kek malaikat." Puji Soo Ho.

Soo Ho siap masuk ke kamar Bo Nui tapi Bo Nui hanya ingin mengambil selimut untuk Soo Ho dan menyuruh Soo Ho tidur di sofa.

"Aku butuh alasan jelasnya kenapa harus tidur di sofa."

"Kamu mau diusir? Belum lama kamu bilang tak punya tempat tujuan dan memohon mengizinkamu masuk."

Soo Ho tertawa garing, "Apa? Astaga! Begitu ya? Nih. Aku tak percaya. Bikin takut saja. Tak mungkin. Kamu itu yang bahaya. Aku tak tahu. Kalau mau ke toilet atau minum, keluarlah. Aku berbaring di sini jadi kalau kamu lihat wajahku, atau pegang-pegang tanganku, awas ya! Jangan lakukan. Kamu kan suka menyelinap." Padahal dalam hatinya kesal dan saat Bo Nui tak melihat ia nendang-nendang kesal.

Dalam kamarnya Bo Nui belum tidur, ia terus kepikiran perkataan dukun "Bahkan hal terakhir yang dimilikinya akan hancur oleh kesialanmu."

"Tidak..." Yakinnya.

Soo Ho bertenya dari depan pintu, apa Bo Nuisudah tidur. Bo Nui tak menjawab hanya diam-diam mendekat namun tak membuka pintu. Soo Ho merasa kalau Bo Nui sudah tidur.

"Sudah membolehkanku tidur di sini, makasih. Mimpi indah ya." Ujar Soo Ho.

"Malam." Balas Bo Nui dengan hanya menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara.


Bo Nui berlar ke arah Soo Ho begitu juga sebaliknya dan dari arah lain ada mobil melaju kencang.

Byarr... Bo Ra membuka matanya karena mimpi itu, "Eonni... eonni..." Panggilnya.


Pagi harinya Bo Nui terbangun ia tidak menemukan Soo Ho di sofa tapi ternyata Soo Ho hanya sedang di toilet dan setelah keluar ia menawari Bo Nui kopi.

Soo Ho ingin mengantar Bo Nui ke kantor tapi Bo Nui tidak mau, malah menyuruh Soo Ho untuk cepat-cepat cari tempat tinggal saja.

"Selama ini kamu sudah bekerja keras, jadi istirahatlah saat di sini. Tidur siang, bermalas-malasan." Imbuh Bo Nui.

"Selesai kerja langsung pulang ya. Akan kutunggu seperti anak anjing. Guk-guk!"

"Aku akan segera pulang."

Soo Ho balik masuk lagi dan menyuruh Bo Nui menunggu, katanya ada yang ketinggalan. Bo Nui berhenti dan mengecek tas nya, ia tak lupa kok untuk membawa garam dan kacang merah.

Kemudian Soo Ho keluar lagi untuk memberikan sebuah ciuman. Bo Nui hanya tersenyum diikuti Soo Ho.


Soo Ho kembali masuk ke dalam rumah. Ia mulai serius berbicara di telfon  "Iya, ini aku. Bagaimana? Baiklah, aku akan ke sana."


Jon Bal pesimis bahwa mereka bisa mengembangkan IF lagi. Seung Hyun membenarkan, bahkan jika mereka bisa membuatnya lagi tak mungkin bakalan ada yang mau melihatnya.

"Tapi Daepyonim melindunginya sampai akhir jadi kita harus meneruskannya dengan baik." Yakin Bo Nui.

Lalu Hyun Bin menanyakan kabar Soo Ho. Yon Balmengingatkan kalau Pria akan terpuruk kalau dicampakkan saat tak punya apa-apa.

"Jangan dengarkan mereka. Karena sayang Daepyonim, makanya mereka bilang begitu." Ujar Seung Hyun.

"Iya, akan kusampaikan salam kalian." Jawab Bo Nui.

"Soal "kere" jangan disampaikan ya." Tambah Jon Bal.


Soo Ho menelfon Bo Nui mengatakan kalau ia mengerjakan pekerjaan rumah. "Semua kulakukan dengan baik kecuali kenyataan kamu tak di sini, jadi aku menghubungimu supaya tak khawatir saat kerja."

Ternyata SOo Ho saat ini ada di kantor Daebak Soft (kantornya Bos Won). Dan Ryang Ha barusan datang saat Soo Ho menutup telfon.

Ryang Ha bisa sudah menyewakan tempat yang lebih bagus untuk Soo Ho tapi Soo Ho malah memilih tampat itu. SOo Ho mengatakan kalau itu dulunya kantor Bos Won.

Ryang Ha terkejut, "Ngapain kau di sini? Mau sembunyi? Kau mau menangkapnya sendiri?"

"Aku mau menemukan ransomware-nya. Kerusakan yang sudah terlanjur terjadi memang tak bisa kita apa-apakan. Tapi imej Zeze akan naik lagi." Jawab Soo Ho.

"Sebentar, apa mungkin? Kalau kau bisa menyelesaikannya harusnya bilang saat dapat direksi!"

"Tidak, tak mungkin selesai dalam 2 hari seperti yang mereka kehendaki. Aku juga tak bisa melakukannya sendiri."

"Lagi mikirin aku? Aku tak becus dalam hal ini."


Ryang Ha menyarankan untuk merekrut Bos Won, tapi kemudian paman Ahn datang. Ryang Ha yang tak tahu bertanya, kenapa Paman Ahn datang.

"Aku lupa! Harusnya bawa ayam goreng!" Jawab Paman AHn.

"Tak usah. Terima kasih sudah datang." Ujar Soo Ho terus membungkuk.

Paman Ahn senang karena Soo Ho menelfon. Dan mereka mulai bekerja sama. Ryang Ha yang bertugas membelikan makanan dan ia kembali melihat kemiripan mereka saat mereka minum.

"Hei!" tegur Soo Ho.

"Anu, hubungan darah bukan hanya yang mirp saja. Imajinasimu sungguh sederhana." Jawab Ryang Ha.

Paman Ahn merasa senang karena ia mulai kembali meng-coding setelah sekan lama.

"Kukatakan sekali lagi, ini sanhat rahasia. Tolong jangan katakan pada siapapun." Pinta Soo Ho.

dan ketiganya berjanji.


Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon