Sunday, May 1, 2016

[Sinopsis] Memory Episode 8 Part 1

Tags


Setelah mendengar kabar dari Ibu bahwa Ayah dibawa oleh detektif. Tae Suk berjanji akan mencari tahu jadi Ibu tak perlu khawatir. Ibu minta maaf.

"Kenapa ibu minta maaf? Nanti kutelpon."

Jeong Jin masuk , ia khawatir pada Tae Suk. Tae Suk tak menghiraukannya. Ia kemudian bergegas pergi, Jeong Jin mengikuti Tae Suk. Saat Jeong Jin tanya ada apa dan mau kemana Tae Suk. Tae Suk menjawab kalau ini bukan urusan Jeong Jin.

Jeong Jin akan menyetir untuk Tae Suk tapi dilarang oleh Tae Suk dengan alasan kalau Jeong Jinharus bekerja. Jeong Jin menjawab kalau tugasnya adalah melayani Tae Suk juga.

"Tidak perlu."

Jeong Jin sedikit memaksa, saat ini Tae Suk tidak bisa menyetir. Tae Suk membenatk, Ia bisa menyetir!! Ia tidak bodoh!! Jeong Jin mencoba menjelaskan maksudnya tapi Tae Suk melarangnya ikut campur dan kembali kerja sana. 


Tae Suk masuk lift di dalam ada utusan Young Jin yang membawa berkas untuk Tae Suk. Tae Suk akan membukanya tapi orang itu melarangnya, nanti saja di buka, di sana ada CCTV. 


Jeong Jin kembali. Sun Hwa mencegatnya, ia bertanya, dimana Tae Suk, apa yang sebenarnya terjadi. Jeong Jin balik bertanya, apa Sun Hwa tahu sesuatu. Sun Hwa juga tidak tahu apa-apa.

lalu Sun Hwa menanyakan perihal surat pengunduran diri Jeong Jin, apa Jeong Jin mengambilnya kembali. Jeong Jin yakin kalau Tae Suk menyimpannya. Jeong Jin tanya, apa Tae Suk mengatakan kalau ia mengambilnya kembali? Sun Hwa lalu mengatakan kalau sepertinya ia yang salah dan berbalik. Jeong Jin menahannya, ia merasa kalau SUn Hwa menyembunyikan sesuatu darinya.

"Aku tidak harus memberitahumu segalanya. Bisa tolong lepaskan aku?" Jelas Sun Hwa.

Sun Hwa akan kembali ke mejanya, ia memandang lekat ke ruangan kosong Tae Suk. 


Tae Suk ke kantor polisi, Ia kesana sebagai pengacaranya Park Chul Min (Ayahnya). Kemuduain Detektif yang menangani kasus Ayah mendekat, ia mengenali Tae Suk.

"Kenapa ... kau bisa disini?" Tanya Detektif.


Hubungan keduanya dimulai dari kecelakaan Dong Woo. Detektif menutup kasus tabrak lari Dong Woo sebelum pelakunya tertangkap. Tae SUk jelas murka pada detektif. Detektif menjelaskan kalau bukan ditutup, melainkan dipindah ke divisi transportasi. Lagi pula tidak ada bukti dan juga saksi. Sulit jika terus di selidiki...

"Sudah tugasmu melakukan penyelidikan!" Bentak Tae Suk sambil menendang kursi.

Detektif mengatakan kalau mereka juga sudah melakukan yang terbaik. Tae SUk tak percaya, terbaik apanya, bahkan detektif pun tidak tahu merk mobil apa yang menabraknya. Detektif beralasan kalau tidak semua penyelidikan bisa berhasil.

"Kau yakin sudah menyelidiki TKP dengan baik?" tuntut Tae Suk.

"Orang pertama yang menemukan anak itu memindahkan jenazahnya, jadi lokasi kejadiannya tidak pasti. Saat aku tiba disana, banyak jejak yang sudah hilang. Jadi buktinya tidak tersisa."

"Seharusnya ada tanda... juga jejak tubrukan di baju Dong Woo."

Tae Suk menuduh kalau detektif lah yang menghilangkan bukti. Detektif lah orang pertama yang tiba di lokasi. Mustahil kalau TKP bisa sangat bersih secepat itu. Ia yakin, Detektif menghilangkannya. Detektif mau mengakhiri perdebatan ini, Tae Suk malah mencengkeram kerah detektif.

"Pikir baik-baik. Apa yang kau lupakan? Apa ada sesuatu yang menyolok saat kau tiba? Pikir baik-baik! Pikir!" Bentak Tae Suk.

Detektif yang lain mengamankan Tae Suk. Detektif menyuruh Tae Suk pergi saja ke divisi transportasi daripada meneriaki mereka.

Dimasa kini, Detektif menjelaskan pada Tae Suk kalau Pernyataan Istri korban dan Park Chul Min sama. meskipun tidak disengaja, ini jelas pembunuhan. Sepertinya Detektif selalu bertemu dengan Tae Suk kalau ada masalah. Rasanya tidak enak.

Tae Suk mauk ke ruang interogasi Ayah. Ia menyalakan rekaman HP nya lalu mulai menanyai Ayahnya sebagai pengacara.


Detektif melapor pada CEO Lee mengenai ayah Tae Suk. Meskipun ini masalah pribadi Tae Suk, ia ingin memberitahu CEO Lee soal ini.

"Terima kasih sudah menelpon."Ujar CEO Lee lalu akan menutup telfon.

Detektif jujur pada CEO Lee dengan melihat Tae Suk sekarang ini membuatnya teringat masa lalu, ia jadi kasihan papa Tae Suk. CEO Lee menyuruh detektif untuk langsung ke intinya saja.

"Aku akan sering bertemu dengannya dalam waktu dekat. Bagaimana kalau seandainya aku ada salah bicara? Pasti tidak bagus buat CEO."

CEO Lee menjawab kalau ancaman seperti itu tidak ada gunanya baginya. CEO Lee meninggikan suaranya, ia memperingatkan detektif, Kalau detektif kira sedang berada diatas angin, maka detektif salah.  Ia bisa dengan mudah membuat orang seperti detektif dipecat. kalau butuh uang, minta lah baik-baik. Ia tidak suka orang yang tidak sopan. Tapi... ia bisa murah hati, jika diminta baik-baik.


Ayah menjelaskan kronologisnya pada Tae Suk. Korban terkenal kasar dengan istrinya, suka memukul dan menuduh sembarangan. Korban juga menuduh istrinya ada hubungan apa-apa dengan Ayah, tapi Ayah bersumpah kalau ia tidak ada hubungan apa-apa dengan Istri korban. Malam itu, ia mendengar teriakan korban karena dipukuli, Ayah tidak bisa tinggal diam. Ia kemudian masuk dan mendapati kalau Korban sedang mencekik istrinya. Ayah menarik tangan Korban dengan paksa sampai Korban terpental dan kepalanya membentur kursi.

Tae Suk marah, kenapa Ayah tidak telfon polisi. Ayah mengatakan kalau istri korban menyuruhnya keluar dan ia yang akan telfon polisi. Ayah tidak tahu kalau korban mati, iapikir hanya pingsan sebentar. Tae Suk tak percaya kalau Ayah tak punya hubungan apa-apa dengan istri korban.

"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Seluruh dunia tahu. Bahkan Dong Woo yang di langit juga tahu." Sumpah Ayah.

Tae Suk melarang Ayahnya menyebut nama anaknya. Ayah mengaku kalau ia sangat merasa sedih soal Dong Woo. Tae Suk bertanya, kemana Ayah pergi setelah hari itu.

"Setelah Dong Woo pergi... kau bercerai, hidupku jadi berantakan. Rasanya seolah putraku yang membayar semua dosa-dosaku. Aku hancur sekali..." Ungkap Ayah.

"Anjing bisa menertawakanmu. Kau hancur? Kau bahkan tidak menelponku saat Dong Woo meninggal."

Ayah beralasan karena Tae Suk selalu marah padanya. Tae Suk menjawab kalau harusnya Ayah tetap datang. Kalau Ayah sungguh merasa berdosa, bahkan jika ia menyuruh Ayah pergi mati, seharusnya Ayah tetap datang. Tae Suk akan pergi kalau tidak ada yang mau dikatakan lagi.

"Lupakan soal aku. Tidak ada bedanya apakah aku ini pembunuh atau tidak. Kau tidak usah perduli." Ujar Ayah.

"Memang tidak."


Tae Suk di luar mendebat detektif, karena tidak ada bukti kuat kalau AYah adalah pembunuhnya. Detektif kekeh, karena CCTV menunjukkan kalau Ayah masuk ke dalam rumah korban. Tae Suk menjawab kalau CCTV hanya menunjukkan ayahnya masuk tidak menunjukkan kalau ayahnya membunuh korban.

Tadinya detektif berencana melaporkannya sebagai pembunuhan tidak disengaja. Jika Tae Suk ingin berdebat, detektif menyuruhnya ke kejaksaan. Tae Suk meminta detektif untuk menunjukkan bukti jelas pembunuhan itu padanya. Detektif menjawab kalau ia memiliki pernyataan saksi. Tae Suk membantah kalau itu hanya menjelaskan situasi, Tidak membuktikan kalau itu pembunuhan.

"Itu sesuai dengan pernyataan ayahmu."

"Makanya itu aku bilang, tunjukkan bukti jelas pernyataanmu. Hanya karena orang itu terdorong, belum tentu dia mati. Penyebab kematiannya juga belum diketahui."

Detektif tidak menggubris Tae Suk, mereka sudah selesai dalam penyelidikan dan akan mengirimkan jaksa penuntut setelah mendapat data dari Departemen Forensik. Tae Suk ingin bicara dengan Ny. Yang Soon Ok (Istri Korban/saksi).


Young Joo menemui Sun Hwa. Sun Hwa langsung ke intinya, ia meminta bertemu karena ingin menanyakan Apakah... ada masalah dengan kesehatan Tae Suk? Young Joo balik bertanya apa Tae Suk punya masalah di pekerjaan? Sun Hwa menjawab bukan itu maksudnya, mungkin ia terlalu sensitif, tapi sepertinya Tae Suk terlihat tidak tenang belakangan ini, ia sudah lama bekerja dengan pengacara, bisa dibilang, ia perlu tahu apa yang terjadi padanya, apapun yang terjadi, ia yakin ia akan memihak padanya.

Young Joo mengerti perasaan Sun Hwa, tapi rasanya masih berat. Sun Hwa tidak memaksa kalau memang sulit dikatakan. Lalu Sun Hwa menawari Young Joo, mau pesan apa.

"Dia menderita Alzheimer tahap awal. Aku tidak begitu yakin, tapi karena ini tahap awal, maka tidak akan ada masalah di kantor. Tapi, orang mungkin akan merasa ada perubahan. Seperti dirimu. Sebenarnya, aku sendiri masih belum mempercayainya. Aku tahu pasti suamiku menderita sekali. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana, jadi aku merasa bingung. Meskipun dia diam saja, aku tahu dia cemas kalau orang mengetahuinya. Bagi dia, pekerjaan adalah... sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Jika dia kehilangan pekerjaannya, dia mungkin akan runtuh. Aku tidak tahu apa aku meminta terlalu banyak, tapi aku ingin kau mendukungnya. Selama dia bisa bertahan, aku ingin Sun Hwa menolongnya. Aku mohon." Jelas Young Joo panjang lebar.

Sun Hwa mengerti, menolong Tae Suk adalah tugasku dan ia akan pura-pura tidak tahu soal ini di depannya. Young Joo senang mendengarnya, menurutnya itu tindakan terbaik.


Sun Hwa bersikap tegar di depan Young Joo, tapi setelah kembali ke kantor ia menangis tersedu di toilet. Sun Hwa lalu kembali ke mejanya. Jeong Jin bisa melihat kalau Sun Hwa habis menangis. Sun Hwa menyangkalnya, ia tidak nangis kok.

"Siapa? Siapa yang membuatmu menangis?" Tanya Jeong Jin.

"Apa urusanmu aku menangis atau tidak?"

"Tentu saja urusanku."

"Kenapa jadi urusanmu?!"

"Ah itu... Itu... kau tahu... kita ini rekan kerja... Kenapa melihatku begitu?"

"Aku, punya aturan mengenai orang di lingkungan kerja."

"Ah... apa aku minta Sun Hwa ssi... untuk pacaran denganku?"

"Kalau tidak, ya sudah."

Sun Hwa berjalan sambil tersenyum senang karena dirinya sudah ada dididalam pikiran Jeong Jin.

Young Joo mampir ke kedai mie mertuanya yang hari ini tutup. Ia bertanya pada Ibu apa ibu sakit. Ibu menjawab tidak, lalu balik bertanya, ngapain young Joo datang. Young Joo membawakan baju baru untuk ayah karena kemarin ia melihat baju ayah sudah lusuh. Ia tidak tahu ukurannya pas atau tidak. Dan ia bertanya dimana ayah. Ibu hanya menghembuskan nafas berat.


Tae Suk menanyakan alasan pada istri korban. Kenapa korban bisa salah sangka mengenai hubungan sang istri dengan ayahnya. Istri korban menjelaskan kalau Ayah (penjaga apartemen) sering datang untuk memperbaiki pemanas dan saluran air saat korban tidak ada tapi entah mengapa korban tahu dan membuat keributan di gedung apartemen. Karenanya, ayah dipecat.

Istri menjelaskan kalau ayah Tae Suk hanya ingin membantunya. Tapi situasinya jadi seperti ini, ia sungguh minta maaf.


Tae Suk kembali ke mobilnya. Ia membuka amplop dari Young Jin yang ternyata isinya adalah foto-foto istri Young Jin dengan laki-laki lain.

Selanjutnya, Tae Suk menemui Young Jin. Yeong Jin mengatakan kalau Tae Suk tidak perlu berterima kasih padanya. Ia sudah mempermudah pekerjaan Tae Suk. Tae Suk bertanya, siapa lelaki itu.

"Kau tidak tertarik soal politik ya? Dia adalah kandidat yang sedang naik daun dari partai oposisi. Kau tidak kenal Jeong Hae Sung? Dia adalah, sunbae di universitas istriku."

Tae Suk memperjelas pertanyaannya, ia tanya apa hubungan kedua orang itu. Young Jin memberi Tae Suk tokoh, bahan dan bahkan lokasi, selanjutnya tugas Tae Suk untuk menuliskan skenario. Sebelum itu, ia coba rangkum. Tidak ada yang namanya kekerasan yang dilakukan anak taipan.  Yang ada adalah si istri yang berselingkuh.

"Maka pengacara mengetahui perselingkuhan itu, dan melepaskan lelaki yang tidak bersalah ini dari tuduhan palsu. Bagaimana?" Lanjut Young Jin, Tae Suk hanya tersenyum.


Jung Won ke ruangan CEO Lee, ia bertanya rencana CEO Lee selanjutnya jika Tae Suk bersikeras tidak mau mengambil kasus Young Jin. CEO Lee yakin kalau Tae Suk pasti akan mengambilnya, ia hanya cemas pada sikap Tae Suk dan apa yang membuat Tae Suk berubah. Jung Won belakangan ini penasaran pada satu hal. Kenapa CEO Lee mempekerjakan Tae Suk. Menurutnya, Tae Suk bukan tipe ideal CEO Lee dalam beberapa hal.

"Anggap saja balas budi." Jawab CEO Lee.

Jung Won tambah tidak mengerti, balas budi apanya. CEO Lee akan memeluk Jung Won. Jung Won mencoba menolaknya, mereka kan sudah janji tidak akan begini di kantor. CEO Lee tetap memeluknya, sebentar saja katanya. CEO Lee berharap kalau ia bisa istirahat sebentar.

Jung Won melepaskan pelukan CEO Lee, apa ada yang mengganggu pikiran CEO Lee? Jung Won meminta CEO untuk bercerita saja padanya. CEO Lee menjawab kalau itu masa lalu.


Tae Suk tiba-tiba datang. Saat CEO Lee dan Jung Won masih saling pegang. CEO Lee kemudian melepaskan Jung Won. Tae SUk cuma mau bilang kalau ia akan mengambil kasus Young Jin, ia akan menyelesaikannya sampai akhir.

"Blazer itu... cocok buatmu." Kata Tae Suk ke Jung Won sebelum pergi.


Tae Suk memerintahkan Sun Hwa untuk mencari tahu hubungan Kwon Mi Joo (Istri Young Jin), Galeri Young Jin dan Jeong Hae Sung, Partai Dunia Baru. Dan menyuruh Jeong Jin untuk masuk ke ruangannya.

Tae Suk menunjukkan foto yang diterimanya dari Young Jin. Jeong Jin bertanya, apa kedua orang itu selingkuh. Tae Suk bilang tidak, jika memang perselingkuhan, Shin Young Jin akan mengatasinya dengan mudah. Lalu Jeong Jin tanya lagi, foto-foto itu mau diapakan?

"Kau sudah tahu, kenapa tanya?"

"Kau ingin aku mengarang cerita untuk mengancam mereka?"

"Benar."

Jeong Jin memprotesnya. Tae Suk menjelaskan kalau Shin Young Jin memang melakukan kekerasan pada istrinya. Itu sebabnya Young Jin memintanya menangani kasus ini. Nantinya kalau ketahuan orang, Young Jin akan menggunakannya sebagai tameng.

"Jadi Anda akan melakukan apapun yang disuruh Shin Young Jin?"

Tae Suk menjawab kalau itu adalah tugas mereka. Jeong Jin tak mau di bawa dalam hal ini. Ia tidak jadi pengacara untuk melakukan hal seperti ini. Ia tidak jadi pengacara demi membersihkan bokong kliennya!

"Kesempatan hidup adil bagi pengacara, lebih kecil dibandingkan menang lotre." Balas Tae Suk.

"Apa aku bilang soal hidup adil? Aku tidak berusaha jadi pahlawan negara ini. Tapi sebagai orang yang belajar hukum, setidaknya kita harus punya nurani! Bukankah begitu?!"

Tae Suk mengatakan alasannya. CEO Lee sudah ia anggap kakak sendiri, Grup Hankuk adalah klien terbesar firma hukum Taesun. Jeong Jin merasa kalau itu bukan alasan bagus tapi bagi Tae Suk itu sudah cukup. Jeong Jin kecewa, sepertinya ia sudah salah mengerti soal Tae Suk, ia bodoh. Tae Suk belum selesai bicara tapi  Jeong tidak mau dengar!

"Kau harus dengar!!!"

Tae Suk memelankan suaranya, apa yang akan ia katakan... sangatlah penting. kemudian Jeong Jin keluar dari ruangan Tae Suk. Tae Suk menatap keluar, ia mulai berhitung.

"100 - 7 = 93. 93 - 7 = 86. 86 - 7 = 79. 79 - 7 = 72. 72 - 7 = 65. 65 - 7 = 58. 58 - 7 = 51. 51 - 7 = 44."


kemudian terdengar suara Dong Woo yang belajar perkalian,, "3 x 1 = 3. 3 x 2 = 6. 3 x 3 = 9. 3 x 4 = 12. 3 x 5 = .... apa ya?"

Tiba-tiba Tae Suk berada di rumahnya yang dulu, dimana disana ia melihat Eun Sun yang sedang mengajari Dong Woo berhitung. Tae Suk menatap keatas menghirup udara segar, tiba-tiba ada tangan yang mencekiknya. tepat saat itu Tae Suk terbangun karena panggilan Young Joo. 


Tae Suk melihat Young Joo sebagai Eun Sun, ia mengajak untuk mengunjungi Dong Woo. Ia ingin tahu kalau bunga sudah mekar atau belum. kemudian Tae Suk kembali tertidur lagi. Young Joo menangis sedih, ia tidak bisa tidur lagi.


Tae Suk terbagun,  ia keluar dan menemukan Young Joo duduk termenung di kursi meja makan, menangis.


Paginya, Tae Suk membangunkan Jeong Woo untuk mengajaknya joging. Young Joo terbangun, ia mendapati pesan yang ditulis Tae Suk kalau Tae Suk dan Jeong Woo keluar untuk olah raga, tidak usah pikirkan sarapan, kembali tidur lagi saja.


Tae Suk kalah cepat dengan Jeong Woo. Tapi Tae Suk tersenyum dengan semangat Jeong Woo itu.



Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon