Wednesday, April 29, 2015

[Sinopsis] Super Daddy Yeol Episode 9 Part 1



Super Daddy Yeol Episode 9


Seseorang membawa tas di kedua tangannya. Ia berjalan menuju sekolah Sa Rang. Tapi tak diperlihatkan wajahnya.


Yeol menyanyi memberi warna baru untuk pertunjukan Sa Rang. Kemudian ia memberikan microphonenya pada Mi Rae. Mi Rae ragu untukmenerimanya, tapi ia ingat perkataan Rola Jang saat mereka di toilet. Rola mengatakan kalau ia bisa tahu Mi Rae adalah pemain jaman dulu dan ia meminta Mi Rae untuk menunjukkanya bersama hari ini demi Sa Rang.


Mi Rae menerima microphone dari yeol dan melanjutkan nge-rap. Di bangku penonton Rolajang bersorak. Rola Jang ikut turun ke panggung, dan seperti yang diduga, ia yang paling heboh. 


Music tiba-tiba mati. Dan Ki Tae pelakunya, ia sengaja mematikan music karena merasa mereka melakukan pelanggaran. Semua orang bingung.


Tapi tenang, masih ada satu penyelamat lagi. Ayah yang memainkan clarinet muncul tepat waktu. Sa Rang berbisik pada Mi Rae kalau ini adalah kartu rahasianya.


Kilas balik..


Ayah menjelaskan pada Sa rang kalau ia tidak bisa bernyanyi tapi kalau instrumental ia jagonya. Ayah menyebut clarinet dengan cabaret. Sa Rang bertanga apa itu. ayah tak bisa menjelaskan pokoknya nenek Sa Rang yang sudah meninggal langsung jatuh cinta padanya setelah mendengarnya.

“Tidak ada seperti music instrumental yang bisa menggerakkan perasaan seseorang.” Jelas Ayah.


Ayah menambahkan kalau Yeol saat masih kecil sering ikut bernyanyi saat ia memainkan clarinet. Sa Rang pemasaran lagu apa itu.


Kembali ke pertunjukkan. Shi Eunberteriak-teriak menganggap ini pelanggaran, orang tua lainnya menegurnya yang memberi contah tak baik pada anak-anak. Akhirnya ia pun duduk kembali dengan kesal. 


Lagu yang dimaksud Ayah sekarang dimainkan, pengiring yang sebelumnya menari sekarang bernyanyi membentuk paduan suara.


Sa Rang, Mi Rae dan Yeol tersenyum. Sa Rang menggandeng yeol dengan tangan kanannya dan Mir ae dengan tangan kirinya. Mereka kemudian ikut bernyanyi mengikuti alunan clarinet Ayah.


Penonton memberika tepuk tangan meriah kecuali Ki Tae, Shi Eun dan Ji Hye yang terlihat kesal.


Karena pertunjukkan Sa Rang sukses besar. Tak ada alasan bagi Rola Jang untuk tinggal lebih lama. Ia melambaikan tangan lalu pergi dengan keren dari pintu yang dibuka Yeol tadi.

Sa rang kembali ke ruang tunggu di belakang panggung. Teman-temannya mengerumunnya bahkan Min Woo merangkulnya. Ia memuji penampilan Sa Rang dan yakin kalau Sa Rang akan jadi juara pertama. Tapi ini ancaman bagi Bomi.

Kilas balik..


Bomi menulis surat untuk Sa Rang, ia berterimakasih karena Sa Rang sudah menyelamatkannya waktu itu, ia tidak lagi membenci sa Rang dan mengajak sa Rang untuk bertemu.

Saat ia berjalan untuk memberikan surat itu pada Sa Rang. Ia melihat Min Woo sedang berduaan dengan Sa rang. Min Woo memegang tangan Sa Rang memintanya untuk ikut audisi paduan suara.

“Kau pasti bisa” Min Woo yakin.

Bomi tak suka melihatnya, ia tak jadi memberikan surat itu pada Sa Rang malah menggenggamnya erat sampai lusuh.


Kemlai ke masa kini.


Ji Hye keluar dari ruang pertunjukkan. Ia menemui Woo Hyuk yang sudah datang tapi tak masuk, Ji Hye menanyakan alasannya.


“Meski aku datang, juga tidak ada tempat untukku” jawab Woo Hyuk. Lalu ia menyuruh Ji Hye masuk ke dalam mobilnya karena taka da tempat juga untuk Ji Hye.


Ibu guru akan mengumumkan siapa pemenang acara final Festival Seni Sekolah. “Pemenang kompetisi paduan suara berbakat hari ini adalah….”


Scene beralih ke ruang tunggu. Bomi menjambak rambut sa Rang dan Sa Rang membalasnya. Anak-anak lain berteriak agar mereka berhenti. Min Woo mencoba untuk memisahkan mereka juga.


Bomi mengatakan kalau awalnya ia ingin berterimakasih pada sa Rang karena telah menyelamatkannya, meminta maaf atas kejadian sebelumnya dan meminta untuk berteman kembali. Tapi semua berubah saat ia melihat Sa Rang menemui Min Woo diam-diam dibelakangnya. Sa Rang menjelaskan kalau ia tidak ada maksud begitu. 


 Min Woo memisah paksa mereka. Ia membela Sa Rang dengan mengatakan kalau sa Rang tak melakukannya, ia yang meminta sa Rang untuk ikut kompetisi. Dan agar sa Rang bisa berbaikan dengan Bomi ia meminta Sa rang untuk bergabung dengan paduan suara.


“Aku yang membujuknya” Jelas Min Woo.


Ibu guru melanjutkan menyampaikan pemenangnya dan Sa Rang yang menjadi juara. Semua bersorak girang. Tapi Ki Tae dan istrinya tak bisa menerima ini, mereka bersikeras kalau ini adalah pelanggaran karena adanya orang dewasa yang membantu Sa Rang. Terjadilah keributan disana.


Sa Rang mengambil microphone lalu berteriak meminta mereka berhenti. Dan berhasil. Sa Rang mengatakan kalau bukan ia pemenangnya tapi Bomi. Semua bengong mendengarnya.

“Aku dibantu oleh ibuku, ayahku dan kakekku. Aku terpilih sebagai pemenang karena bantuan mereka, bukan karena kemampuanku. Pemenang sesungguhnya adalah Bomi. Uhm Bomi.” Jelas Sa Rang.

Bomi Dan kelompok paduan suara lainnya menuju panggung. Sa Rang melanjutkan kata-katanya.

“Bomi lebih pantas karena dia berhasil olah karena usahanya sendiri. “ 


Sa Rang kemudian menghampiri Bomi. Ia mengulurkan tangan duluan dan mengucapkan selamat. Ia mengatakan kalau ia tidak bisa mengalahkan Bomi seperti Yang sudah ia duga. Bomi menjabat tangan Sa Rang.

“yang ingin ke temukan lagi adalah dirimu. Yah, memeng benar aku suka Min Woo, tapi teman pertamaku dan teman sebangkuku yang pertama adalah kau, Bomi.” Ujar Sa Rang.


Bomi menangis haru kemudian Sa rang memeluknya. Semua orang juhga bisa merasakan ketulusan Sa Rang.


Dalam perjalanan pulang, Yeol bertanya pada Sa Rang, apa ia tidak akan menyesal karena melepas kesempatannya untuk lebih dekat dengan Min Woo. Sa rang menjawab dengan tegas kalau ia tidak akan menyesal karena tujuannya adalah untu menunjukkannya pada Ibunya.

“bahwa aku bisa” Lanut Sa Rang.

Sa Rang lalu bertanya pada Mi Rae bagaimana penampilannya tadi. mi rae mengetakan kalau putrinya adalah yang terbaik.


“Ibu lihat? Sudah kubilang keajaiban itu ada.” Ujar Sa Rang. Mi Rae sekarang percaya.


Kakek terbangun dari tidurnya. Kakek ikutan membenarka kalau keajaiban itu ada dan membuat kehidupan lebih bermakna.

“Lihat dia.. beberapa bulan lalu kemungkinannya 0. Dia bujang tua bau busuk. Bagi dirinya, peristiwa sekarang ini adalah keajaiban.” Kata Kakek yang ditujukan untuk Yeol.

Yeol menganggap Ayahnya merusak suasana. Ia menyuruh Ayahnya untuk tidur saja. Ayah setuju, ia merasa terlalu berlebihan hari ini, sehingga rasanya agak lelah.


“Tadi sangat menyenagkan. Alangkah baiknya jika ibumu juga melihatnya.” Kata Ayah sebelum menutup mata.


Yeol merenung di balkon. Dibenaknya masih ternginyang saat Sa rang memanggilnya Ayah tadi. dia mengulagi kata ‘Ayah.. Ayah..’ lalu tersenyum. Menurutnya kata ‘Ayah’ tidak seburuk yang ia bayangkan.

Mi Rae mendadak munsul mengejutkannya, “kau suka? Tanyanya. Mi Rae melanjutkan “Apa kau suka dipanggil Ayah?”

Yeol menjawab kalau ia sudah berjanji dan menepatinya. Mir ae berterimakasih pada yeol, ia mengaku salah.


“meskipun tidak 100% masih ada kemungkinan untuk gembira dan bahagia. Bisa menjadi indah, aku baru pertama kali ini menyadarinya. Terimakasih sudah membantuku menyadarinya” Kata Mi Rae tulus.


Mi Rae akan pergi tapi Yeol memegang tangannya, Yeol akan mencium Mir ae tapi Mi Rae menghindar. Yeol menyadari kalau ia masih belum 100% untuk Mi Rae. Tapi Mi Rae malah yang mencium yeol duluan.


Kegiatan mereka terganggu oleh suara gedoran pintu. 


Ternyata Woo Hyuk yang datang dengan mabuk. Woo Hyuk terseok-seokmasuk lalu terbaring dilantai. Dengan mata tertutup ia memanggil-manggil Mi Rae dengan sebutan Sunbae.

“Aku berusahauntuk tidak melakukannya… Aku berusaha untuk tidak menyerah. Tapi Tidak! Aku tidak bisa menyerah! Aku tidak bisamembiarkannya” Oceh Woo Hyuk dalam mabuknya.


Mi Rae langsung membekap mulut Woo Hyuk sebelum ocehannya semakin ngawur karena disana juga ada Ayah. Yeol membangunkan Woo Hyuk. Woo Hyuk membuka matanya dan dia malah marah-marah sama Yeol, mengatai Yeol bodoh, yang tak punya hak mencintai Mi Rae yang sempurna dan juga bermulut besar. 


Setelah mengatakannya Woo Hyuk pingsan. Ayah menyuruh Yeol untuk membiarkannya menginap karena tidur adalah yang terbaik pada saat mabuk. Akhirnya Woo Hyuk tidur di kamar Yeol.


Dan Yeol tidur bersama Ayahnya. Yeol mengeluh kalau recanamya hari ini sama sekali tidak sepertiini. 


“Jika berjalan sesuai rencanamu, apa itu hidup? Bahkan PR liburan anak-anak tak sesuai rencana.” Jawab Ayah.

Yeol merasa pengap, ia akan tidur di ruang tamu. Ayah menahan tangannya menyuruhnya untuk tidur disana bersamanya. Karena tak aka nada lagi kesempatan seperti ini.

“Meski kau tidak berteriak ‘ayah, bantu aku,’ seperti sa Rang. Setidaknya kita punya kenangan tidur di bawah selimut yang sama” Kata Ayah.

Ayah melanjutkan kalau nanti Yeol baru akan merasakan hal ini, bahkan katanya terkadang mereka akan merindukan musuh mereka sendiri. Yeol akan menyadari juga bahwa rasa benci Yeol padanya juga berharga.


Yeol menurut diajak tidur bersama tapi dia tidak mau berpegangan tangan. 


Mi Rae tidur bersama Sa Rang. Sa Rang berkata kalau ia paling suka wangi Ibunya. Mi Rae bertanya wanginya seperti apa. Sa Rang menjawab kalau wangi Mi Rae adalah wangi hangat. Mi Rae kembali bertanya, apa ada wangi yang sepertiitu.

“YA, ada. Saat aku menciumnya, aku tertidur yenyak karena kehangatannya. Aku sama sekali tidak takut pada hantu atau serangga dan merasa aman. Satu-satunya wangi didunia. Wangi hangat.” Jelas Sa Rang

“Bagaimana ini? Setelah kau menikah, kau tidak bisa menciumnya lagi.” Tanggapan Mi Rae.

Sa Rang menjawab kalau ia tidak akan menikah, ia juga sudah menyerah soal Min Woo. Mi Rae menanggapi kalau anak-anak yang bicara seperti itu biasanya menikah duluan seperti penghianat.

“Tapi Ibu tidak akan menghianatiku. Selama ibu tidak meninggalkanku, hal itu tidak akan pernah terjadi. Tidak. Aku bisa menemukan ibu karena wangi ibu. Aku hanya harus menemukan wangi itu.” Kata sa Rang.


Mi Rae menjelaskan kalau manusia setidaknya harus pergi satu kali, dimanapun dan siapapun. Tapi bagi Sa Rang itu tidak untuk Ibunya karena ia akan memeluk Ibunya erat, seperti yang ia lakukan saat ini.


Keesokan harinya Yeol tertidur dengan memeluk tangan Ayahnya, setelah mendengar dengkuran Ayah ia terbangun dan langsung menyingkirkan tangan Ayah dari pelukannya. 


Sa Rang mengetukpintu lalu masuk. Ia menyampaikan pesan Ibunya untuk Yeol yang menyuruhnya segera makan jika sudah bangun. Sa Rang tidak memanggil Yeol dengan sebutan Ayah. Ia langsung berbalik pergi.

Yeol memanggilnya. Ia memberitahu Sa Rangkalau putri yang baik akan bilang, “Ayah, sarapan sudah siap.”

Sa Rang menganggap perkataan Yeol terlalu berlebihan. Ia melarang Yeol merasa lega karena ia belum sepenuhnya mengakui Yeol sebagai ayahnya. Lalu ia benar-benar pergi.


Yeol malah tersenyum. Ia tahu kalau Sa Rang malu-malu kucing seperti Ibunya. Ia merasa menang karena Sa Rang sudah mulai suka padanya sekarang.


Mi Rae akan membangunkan Woo Hyuk tapi kamarnya kosong, Woo Hyuk meninggalkan pesan untuk Mi Rae.


Untuk sementara aku akan membiarkanmu sendiri. jika kau butuh bantuanku, katakana saja kapan saja. Aku akan selalu menunggumu”


Yeol masuk, Mi Rae langsng menymbunyikan pesan Woo Hyukdibalik punggungnya. Yeol penasaran pada apa yang disembunyikan Mi Rae. Ia merebutnya tapi Mir ae menghindar, akhirnya ia menarik Mi Rae kepelukannya. Mi Re mendorong Yeol menjauh.

Yeol mengeluh kalau ia sudah melakukan seluruh Rehabilitasi dan sekarang ia menagih hadiah yang Mi Rae janjikan. Mi Rae mengatakan kalau masih ada satu lagi yaitu Rehab Ryu Hyun Woo, bahkan Yeol sudah berjanji dihadapan wartawan.


“Itu kau yang..” Yeol kesal.


Mi Rae mencubit pipinya dan menepuk pantatnya. “ ini pujian istimewa. Apapun yang kau bayangkan akan menjadi kenyataan setelah itu. Melebihi bayanganmu” Kata Mi Rae lalu ia keluar.


Yeol masih mencerna kata-kata Mi Rae, “melebihi yang aku bayangkan? Lebih besar? Mati kau!” Yeol lalu menyusul Mi Rae.


Hyun Woo keluar dari Rumah sakit sendiri. ia menyetop taxi tapi didului orang. Kemudian Yeol menghampirinya, ia mengatakan kalau kemarin ia sibuk karena pesta rumah baru. Hyun Woo malah menghadap kearah lain.

“Hey! Manusia bisa saja sesekali terlambat. Kenapa kau pergi begitu saja karena hal seperti itu?” Bentak Yeol.

Woo Hyuk mengatakan kalau Yeol terlambat pada sesi pertama mereka. “Murid mungkin saja terlambat. Tapi jika guru terlambat, maka bukankah kita sudah tahu apa yang bisa dipelajari?” sindir Hyun Woo.

Woo Hyuk akan pindak ke pusat rehabilitasi yang lebih baik. Tapi tak akan semudah itu, tak tahu dari mana asalnya Mi Rae tiba-tiba menabrak Hyun Woo yang hendak pergi. Mi Rae memohon pada Hyun Woo untuk memaafkan Yeol satu kali ini saja.


Bahkan Mi Rae memaksa Yeol untuk membungkuk minta maaf. BTW dari tadi Yeol belum mengucapkan kata maaf lho.. Yeol bangkit duluan dari membungkuk, ia bertanya pada Mi Rae apa yang ia lakukan.


Mi Rae memarahi Yeol seperti anak kecil, kalau salah ya seharusnya minta maaf dan apa mengingkari janji itu benar?!. Tapi Yeol mempermasalahkan soal membungkuk pada yang lebih muda.


“Karena kau membantuku masalah Sa Rang, sekarang giliranku membantu. Aku akan membantumu masalah atlitmu.” Bisik Mi Rae.


Lalu Mi Rae mengambil paksa tas Hyun Woo dari tangan Hyun Woo dan menggandeng Hyun Woo untuk pergi ke sesi latihan pertama.


Mi Rae membawa Hyun Woo ke kantornya. Ia menunjukkan 2 foto. Foto pertama atlit sepak bola yang terluka dan dikerumuni teman-temannya dan satu lagi foto atlit yang terjatuh dari sepeda balap. Mi Rae menyuruh Hyun Woo untuk memilih mana yang lebih menyakitkan.


Hyun Woo memilih yang jatuh dari sepeda. Mi Rae menanyakan alasannya. Dengan enteng Hyun Woo menjawab kalau atlit itu sendirian, taka da orang yang membantunya. Mi Rae mengerti, jadi Hyun Woo lebih sensitive mengenai apakah ada orang yang bersamanya daripada sakitnya lukanya. 


Hyun Woo membantahnya..

“Kau kesepian, bukan?” todong Mi Rae.

Mi Rae ingat Hyun Woo pernah memberitahunya kalau ia kesepian seperti Yeol. Dan sekarang Hyun Woo iri pada Yeol karena yeol punya keluarga.

“AKu tidak pernah bilang aku iri, aku hanya..” Hyun Woo mencoba menutupi kebenarannya.

Mi Rae menyelanya, “Pelatih Han telah berubah, lebih ceria dan bahagia, sehingga…” Mi Rae menatap Yeol “ Sekarang kau ingin mempercayainya”. Sebenarnya Mi Rae mengulangi kata-kata Hyun Woo dulu saat check up.

Hyun Woo tak bisa membantah lagi. Mi Rae menasehati Hyun Woo agar tak membohongi dirinya sendiri. jika iri, katakana iri, jika kesepian, katakana kesepian. Jika ingin percaya padanya, maka percayalah padanya.

“itu bukanlah hal yang memalukan. Setelah mengakui perasaanmu, tubuhmu akan memproduksi hormone yang sehat.” Lanjut Mi Rae.

Hyun Woo mulai emosi, ia membentak Mir ae yang berani membodohinya seperti ini. “Aku…” Tiba-tiba detak jantung Hyun Woo meningkat. (dari tadi Hyun Woo dipasangi alat pendeteksi detak jantung kalo gaksalah). Hyun Woo melepas alat yang melekat padadadanya.


“Rehabilitasi macam apa ini? Bagaimana denganmu? Apa kau berbeda? Bukankah kau membodohi dirimu akan sesuatu?” Bentak Hyun Woo.


Hyun Woo lalu memasangkan alat itu pada Mi Rae. Yeol melerainya. Setelah terpasang. Hyun Woo bertanya pada Yeol, apa Yeol tak penasaran bagaimana perasaan Mi Rae yang sebenarnya.

“Apa kau mencintai pelatih Han?” Tanya Hyun Woo pada Mi Rae.

Mi Rae tak menjawab, ia dan Yeol hanya berpandangan. Hyun Woo kembali bertanya tanpa melepaskan pandangannya pada Mi Rae, apa Mir ae bahagia hidup bersama Yeol.


“Aku… Sekaramg, aku…” Mi Rae bingung.


Hyun Woo tertawa sinis, “ Kau tak bisa langsung menjawab. Lalu, apa kalian saling mempercayai 100%? Kau tidak merahasiakan apapun darinya?”

Detak jantung Mi Rae meningkat. Yeol tak tahan lagi, ia mencabut kabel pada alat itu. Yeol menyuruh Hyun Woo berhenti karena Mir ae adalah dokter dan Hyun Woo pasiennya.

“Apa kau pernah melihat pelatih berlari dan bukan pemainnya? Ini sebabnya kau di kelas 3. Pasien berusahamenjadi wasit dan pelatih sekaligus.” Jelas yeol.


Mendapat perkataan itu dari Yeol, Hyun Woo sakit hati. Tanpa ba bi bu lagi, Hyun Woo langsung pergi.


Mi Rae menatap Yeol. Yeol menyuruhnya agar tak usah khawatir karena ia juga akan melakukan hal yang sama jika situasinya sama.

“Aku puas. Aku bisa mengatakan itu. sekarang ini, aku bersemangat, gembira dan sangat senang. Aku puas.” Tanggapan Mi Rae.

Yeol menjelaskan kalau itu yang disebut kebahagiaan dan itulah cinta.

Mi Rae menyalahkan kata-kata yeol pada Hyun Woo tadi. meskipun ada pemain kelas 3 tapi taka da pasien kelas 3. Dan sekarang Hyun Woo adalah pasien bukan atlit.

“Dasar pelatih kelas 3!” ujar Mi Rae.


Mi Rae mengajak yeol untuk menangkap Hyun Woo. 


Di apartemennya. Hyun Woo mengadkan pesta dengan teman-temannya.  Mereka semua minum-minum.


Bel berbunyi, Hyun Woo membukanya. Mi Rae yang nongol dibalik pintu. Hyun Woo akan menutup kembali pintunya, tapi Mir ae menggunakan kakinya untuk menahan pintu. Mi Rae melongo kedalam, ia bertanya, apa Hyun Woo sedang berpesta?

Hyun Woo menyuruh Mi raeuntuk tak mengurusi urusan orang lain. Mi Rae mengajaknye keluar, ia akan mentraktir makan daging.


“Aku tidak butuh karena aku hanya kelas tiga.” Jawab Hyun Woo ketus. Lalu menutup pintunya.


Hyun Woo dkk melanjutkan pesta. Mi Rae tak menyerah. Ia menggunakan pengeras suara untuk mengganggu Hyun Woo.

“unit 306. Atlit Ryu Hyun Woo. Pemain baseball professional sedang minum alcohol selama masa rehabilitasi. Dan bermain wanita.apa itu boleh?” kata Mi Rae.


Mi Rae lalu minta maaf atas apa yang dikatakan Yeol, ia membujuk Hyun Woo agar tak marah lagi. tapi Hyun Woo malah menutup jendelanya dan malah mengeraskan ssuara musiknya.


Karena tak ada hasil, Mir ae memutuskan untuk mulai serangan terakhir.


Teman-teman Hyun Woo pamit pulang. Tiba-tiba “Pyar..!!!” Ada seseorang yang melempar jendela kaca dengan bola baseball. Semua teman Hyun Woo takut dan memilih untuk pergi cepat-cepat. Bisa menebak kan siapa itu?. Yup pasti yeol.


Hyun Woo yang kesal langsung turun dan menemui orang yang melempari rumahnya. Tapi setelah melihat kalau orang itu Yeol. Ia langsung berbalik.

“Kau seperti aku. Itu sebabnya hatiku sakit, karena kau akan kesepian seperti aku. Buat keluarga yang akan selalu beradadi sisimu. Aku juga akan menjadi keluargamu.” Kata-kata yeol yang mampu menghentikan langkah Hyun Woo.


“Aku akan mengomeli dan memarahimu, tetapi aku akan selalu berada disisimu supaya kau tidak kesepian.” Lanjut yeol. Dan kali ini Hyun Woo berbalik menghadapnya.


Sayangnya Yeol sudah tak ada ditempatnya saat Hyun Woo menoleh. Ada bola baseball yang ditinggalkannya. Hyun Woo mengambilnya dan membaca tulisan yang tertulis diatas bola.

“Ace Ryu Hyun Woo, Brither.”

Tampaknya Hyun Woo tersentuh dengan itu.

*****


Bersambung ke Part 2


Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon