Thursday, January 12, 2017

[Sinopsis K-Movie] My Annoying Brother: Hyeong Part 1


Go Doo Sik merupakan seorang narapidana. Ia duduk dengan al kitab di hadapannya.


Sementara itu di tempat lain, Go Doo Yeong sedang berjuang melawan juduka lawannya dalam pertandingan nasional. Awalnya ia berhasil memperoleh nilai seri namun lawan mengalahkannya dengan bantingan keras. Kepalanya membentur lantai sangat keras.

Doo Young mengarahkan pandangannya ke arah pelatih di pinggir. Lama kelamaan pandangannya menjadi gelap sampai ia tidak bisa melihat sama sekali.


Asisten pelatih, Lee Soo Hyeon panik karena menyadari ada yang aneh dengan Doo Yeong.

Soo Hyeon ada di bangku tunggu rumah sakit memegang erat ikat pinggang Doo Yeong.


"Terjadi kerusakan pada saraf optiknya. Tidak ada pengobatan pada saat ini yang bisa menyembuhkan kerusakan pada saraf optik. Sungguh disesalkan, ia telah kehilangan penglihatannya secara total." Keterangan dokter.

 Doo Sik memeluk erat al kitab nya setelah tadi ia meletakkan potongan artikel di sana.


Doo Sik kembali mengajukan permohonan bebas bersyarat tahun ini. Petugas meninjau berkas Doo Sik dan mereka menjadi ragu karena Doo Sik tidak memiliki sertifikat keahlian apapun. Jadi jika ini dikabulkan, Doo Sik mau apa setelah keluar?

"Jangankan sertifikat, keluar dari tempat ini pun aku tidak pantas. Menipu uang orang dan menggunakannya sebagai modal dagang. Begitu teringat gara-gara perbuatanku banyak orang menjadi menderita, sekalipun masa hukumanku sudah berakhir, aku juga tidak berhak dibebaskan dari tempat ini." Jawab Doo Sik melas.


Petugas menyinggung soal al kitab yang dibawa Doo Sik, apa itu adalah konseling Doo Sik. Doo Sik jelas mengelaknya, tindakan menipu orang tidak boleh digunakan untuk menipu Tuhan.

 Doo Sik membukanya lalu menunjukkan potongan artikel tentang Doo Yeong pada petugas. Petugas tak mengerti apa maksudnya.

"Anak itu... adalah adik (dongsaeng) ku. Karena aku kurang baik, jadi tidak pernah aku menceritakannya pada orang lain. Khawatir akan membawa dampak buruk bagi dongsaengku."

 Doo Sik melanjutkan cerita pilunya, kedua orang tua mereka meninggal dalam waktu yang bersamaan. Tinggal dongsaengnya yang telah buta seorang diri. Ia adalah orang yang jahat. Sudah seharusnya menerima hukuman. Tapi...

Doo Sik makin maju mendekat pada meja petugas dan suaranya makin parau. Begitu teringat akan dongsaengnya, ia tidak sanggup menelan nasinya. Yang ada di depan mata dongsaengnya yang buta itu pastilah hanya hamparan kegelapan. Ia tidak tahu jika dongsaengnya makan secara teratur atau jatuh sakit.

"Alasan utama aku mengajukan pembebasan bersyarat ini dikarenakan kondisi anak ini."

Setelah mengungkapkan itu, Doo Sik mengambil kembali potongan artikel dongsaengnya. Ia juga mengusap airmatanya yang tiba-tiba mengalir.


Doo Sik akhirnya bebas. Ia pulang ke rumah dongsaengnya. Tangisnya dihadapan petugas berubah menjadi senyum menyeringai,

"Go Doo Yeong telah memberikan secercah cahaya dalam kehidupanku."

Doo Sik membunyikan bel tapi tidak ada yang menyahut, ia pun nekat meloncat pagar dan setelah mendarat kakinya sakit. Ia melihat halaman rumah yang tak terawat.

"Pertama kali pulang ke rumah dalam kurun waktu 10 tahun, tapi kok begini?"

 Pintu rumah tak dikunci dan itu membuatnya heran. Di dalam rumah kondisinya pun tak jauh beda dengan di halaman, berantakan sekali dan gelap.

Hal pertama yang Doo Sik lakukan adalah membuka tirai di ruang utama.

"Jadi apa rumah ini? Sialan."

 Selanjutnya, Doo Sik membuka kamar Doo Yeong. Ia tak tahan dengan baunya dan mengumpat. Doo Yeong ternyata ada di dalam sedng berselimut rapat.

Doo Sik kesal karena Doo Yeong ada di rumah tapi tidak membukakan pintu untuknya, kampr*t. Ah iya, Doo Sik baru ingat, sekarang Doo Yeong adalah orang buta, ya?

 Karena didalam gelap, Doo Sik menyibak tirai. Doo Yeong menyuruhnya keluar, bukannya menurut, Doo Sik malah menyibak tirai yang sebelahnya.

Sebelum keluar, Doo Sik menyapa, "Lama tidak berjumpa nih!"

"Sana!" Sergah Doo Yeong.

 Doo Sik masak ramen, ia makan dengan sebelah kaki dinaikkan ke kursi.

"Kampr*t. Hidup sudah begitu lama tidak kusangka akhirnya kau ada manfaatnya juga bagiku. Terima kasih, kampr*t!" Ujar Doo Sik.

Doo Sik melanjutkan, saat menerima telepon itu seharusnya Doo Yeong sudah tahu jika paling lama juga cuma setahun. iau pulang bukan atas kemauanku sendiri. Jadi... Mari mencoba tinggal bersama setahun. Setelah itu ia akan menghilang dari sana.

Tak ada jawaban apapun dari Doo Yeong apa lagi tanda-tanda ia akan keluar kamar. Doo Sik kesal, dimana sopan santun Doo Yeong? Saat rumah kedatangan seekor anjing liar, setidaknya keluar cek sebentar.

Doo Sik mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah, ia bergumam, "Ini rumah kira-kira laku berapa duit ya?"

Doo Sik sedikit meninggikan suaranya, "Kau punya berapa? Hei, ibumu pasti mewariskan setidaknya sedikit untukmu."

 Doo Yeong turun dari ranjangnya, ia perlahan-lahan meraba untuk menutup jendela dan tirai. Doo Sik masih mengoceh di luar.

"Dan juga, kau jangan berharap jika aku akan merawatmu. Pikiran seperti itu sebaiknya kau buang jauh-jauh sedini mungkin."

Sekalinya Doo Yeong selesai, ia kembali meringkuk di ranjangnya dengan menutupi seluruh tubuhnya.

 Doo Sik sedang keluar tapi sebenarnua ia sudah dalam perjalanan kembali ke rumah. Doo Yeong menggunakan kesempatan itu untuk mengisi perut.

Ia meraba laci dapur untuk mengambil ramen. Ramen sudah ada di tangan selanjutnya ia mengambil piring. Membuka bungkus ramen itu, meletakkannya di piring dan makan mie-nya mentah-mentah.

 Doo Sik membuka pintu gerbang. Doo Yeong buru-buru putar badan dan berjalan balik ke kamar namun sayang, ia tersandung kaki meja dan terjatuh.

"Ngapain kau?" Sindir Doo Sik.

 Doo Yeong cepat berdiri, ia meraba-raba lagi dan kali ini ia menjatuhkan pot bunga yang bunga dan tanahnya sudah kering. Doo Sik memegang lengan Doo Yeong tapi Doo Yeong menepisnya.

"Jalan dari dapur ke kamar sendiri saja tidak becus. Mau sok apa kau? Aku mau masuk ke kamar. Terserah kau mau ngapain saja, kampr*t."

 Doo Sik pura-pura masuk kamar padahal ia masih ada di luar hanya menutup pintu kamarnya saja agar Doo Yeong tidak curiga. Setelah itu, Doo Yeong perlahan-lahan berjalan kembali ke kamarnya. Doo Sik baru masuk kamar setelah memastikan dongsaengnya masuk kamar.

Doo Sik ke minimarket membeli rokok, ia menyebutkan merek-nya, Lamborghini ice-tone. Tapi si kakek penjaga tidak tahu apa itu. Giliran seorang pemuda yang cuma menyebut Lamborghini menthol, si kakek langsung paham dan mengambilkan yang dimaksud.

Doo Sik lalu minta juga yang seperti itu tapi sayangnya sudah habis. Doo Sik menyuruh pemuda itu untuk meletakkannya kembali.


"Aku yang minta tadi. Lamborghini menthol." Bantah si pemuda.

 Doo Sik menklaim kalau dirinya yang duluan menyebut nama mereknya dengan benar dan lengkap. Si pemuda kedap-kedip, setelah itu ia kabur.

Doo Sik mengejar pemuda itu dengan kesal karena mempermainkannya. Si pemuda berhenti, ia mengerti dan akan melemparkannya pada Doo SIk tapi ia malah mengacungkan jari tengah.


"Lain kali kalau sampai aku melihatmu lagi, berarti itu adalah hari kematianmu." Kesal Doo Sik dengan mengangkat sendalnya.

 Soo Hyeon di depan rumah, ia meninggalkan pesan suara untuk Doo Yeong karena Doo Yeong tidak mau menjawab telfonnya, mengatakan kalau ia ada di depan.

"Jika kau ada di rumah.."

Soo Hyeon tidak melanjutkan kalimatnya karena terkejut setelah terjungkal kebelangan. Ia tadi nyender di pintu gerbang dan pintunya tidak dikuncijadinya kebuka dan membuatnya terjungkal.

Soo Hyeon segera berdiri dan masuk ke dalam. Ia juga membawa belanjaannya.

 Soo Hyeon meletakkan belanjaannya di meja. Ia menuju kamar Doo Yeong, mengetuk pintu lalu membukanya dan Doo Yeong kelihatannya sedang tidur. Soo Hyeon pun menutup kembali pintu kamar.

 Soo Hyeon mulai membersihkan rumah sambil mendengarkan musik melalui earphone. Ia juga masak dan mencuci piring.

 Doo Sik tiba-tiba muncul disampingnya saat ia mencuci piring. Refleks, Soo Hyeon mengayunkan tangannya memukul Doo Sik.

"Ss--Ss--Ssiapa?" Tanya Soo Hyeon dengan mengangkat panci.

Doo Sik balik bertanya, apanya yang siapa? Kenapa ia sipukul? Apaan ini?

 Kesalahpahaman selesai. Soo Hyeon menyajikan masakannya untuk Doo Sik. Soo Sik menanyakan siapa Soo Hyeon, pacarnya Doo Yeong?

"Doo Yeong tetap tidak mau makan?"

"Nanti kalau lapar juga makan. Sudah besar juga dia." Jawab Doo Sik santai.

"Bukan itu yang kumaksud!"

Doo Sik kesal karena Soo Hyeon dari tadi membentaknya terus. Soo Hyeon menatap Doo Sik sebal sambil meletakkan semangkuk nasi.

 Soo Hyoen lalu ke kamar Doo Yeong untuk membangunkannya. Tapi ia terkejut saat Doo Yeong tidak bergerak.

 Doo Yeong berakhir di rumah sakit masih menutup matanya. Doo Sik membisikinya.

"engarkan aku baik-baik! Aku keluar dari penjara bukan untuk menghadiri pemakamanmu. Jangan sok bergaya. Jika memang mau mati, mati saja dengan tenang. Jika tidak, kau harus makan dan tetap hidup.

Setelahnya Doo Sik pergi dan Doo Yeong meneteskan airmata.

 Soo Hyeon bicara dengan Doo Sik di luar mengenai kondisi Doo Yeong yang ternyata malnutrisi, intinya ia menyalahkan Doo Sik.

"Tidak hanya kemampuan Doo Yeong yang merupakan kemampuan atlet nasional, tapi staminanya juga stamina atlet nasional. Tidakkah setidaknya kau memperhatikan jika dia makan atau tidak?"

Doo Sik gerah mendengar ocehan Soo Hyeon, ia menyuruh Soo Hyeon untuk membawa Doo Yeong saja jika memang Soo Hyeon begitu mengkhawatirkannya,

"Katanya kau pelatih? Tidak usah khawatir yang berlebih." Tutup Doo Sik.

 "Apa maksudmu?"

"Bukankah kau bilang staminanya adalah stamina atlet nasional? Kalau gitu harusnya kuat sekali."

"Kau itu sampah ya?"

 Doo Sik sudah melangkah tapi ia kembali lagi menatap tajam Soo Hyeon. Gara-gara Doo Yeong hidupnya memang berubah menjadi seperti sampah.

Petugas memanggil wali Doo Yeong untuk membayar tagihan RS. Doo Sik undur diri. Soo Hyeon menarik tangan Doo Sik karena kartunya sudah melewati limit.

"Aku orang yang tidak punya kartu, ngerti? Aku sungguh mendambakan bisa punya kartu." Doo Sik menepis tangan Soo Hyeon sambil menggerutu.

"Kenapa bisa ada kuny*k seperti begini?" Kesal Soo Hyoen setelah Doo Sik pergi.

 Soo Hyeon mempersiapkan makan untuk Doo Yeong sambil bicara, Hyeong seperti apa itu?

"Seberapa tidak pedulinya dia. Orang lain kalau lihat, pasti akan mengira itu bukan hyeong kandung."

Doo Yeong membenarkan, memang bukan Hyeong kandung kok. Ah... Soo Hyeon mengerti sekarang.

 Hari berikutnya, Doo Sik memaksa Doo Yeong untuk duduk makan. Ia memasakkan ramen untuk Doo Yeong.

"Jangan membuat show apapun lagi! Saat makan sebaiknya kau duduk manis di sini dan habiskan makananmu. Jangan membuatku naik darah."

Doo Sik mengambil daging ham soreng akan memasukkannya ke mulut. Doo Yeong bisa menebak, daging ham goreng ya?

 Doo Sik menurunkan kembali daging itu. Ia menatap mata Doo Yeong tak percaya, bahkan menguci refleks mata Doo Yeong dengan tinjunya tapi Doo Yeong tidak berekasi, artinya Doo Yeong bener-benar tidak bisa melihat.

Doo Sik kembal i mendekatkan daging ke mulutnya tapi Doo Yeong berkata lagi, "Spam." (merek daging ham-nya). Doo Sik terkejut sampai menjatuhkan dagingnya.

"Mata sudah tidak berfungsi dan sekarang hidungmu juga ikut rusak? Spam apa? Sembarangan. Keberadaanmu yang lebih cocok disebut spam, kampr*t. Dan... Seharusnya kau tuh berterima kasih karena aku adalah orang yang bermoral tinggi. Ngerti? Kalau kau makan tuh nasi aku akan bersyukur tak terhingga."

Doo Yeong mengireksi, apa ramyeon itu nasi?"

"Kau menganggap remeh ramyeon? Shin Ramyeon, Neoguri, Haemul Ramyeon, Nagasaki... betapa banyak ragam. Kau yang tidak tahu apa-apa. Makananmu terlalu enak dulu. Jadi makan ramyeon 10 tahun pun tidak apa-apa. angan banyak omong! Cepat makan!"

 Doo Yeong malah menendang meja. "Suka-suka aku!"  kesalnya. Doo Sik berjalan kembali ke kamarnya, ia mencium sesuatu lagi,

"Kau pakai parfumku?"

Doo Sik malah meninggikan suaranya karena Doo Yeong selalu memanggilnya "Kau" bukannya "Hyeong". Doo Sik membaliknya, lalu kenapa Doo Sik selalu memangginya "kampr*t".

Doo Sik ikut berdiri, niatnya sih maunendang Doo Yeong. eh malah ia kesakitan karena mengangkat kakinya ketinggian.

"Mulutmu ini... mulutmu. Kenapa mulutmu tidak bermasalah? Alangkah baiknya jika satu set rusak semua."

 Ah.. Doo Sik kesal karena nafsu makannya jadi hilang. Ia menuju kulkas untuk mengambil sesuatu dan berjalan lagi di depan Doo Yeong.

Doo Yeong mengambil tangan Doo Sik untuk membantingnya seperti yang ia lakukan saat bertanding Judo. Doo Sik meringis kesakitan.

"Kau bisa melihat ya? Kau... Kau bisa melihat sedikit ya? kampr*t!" Umpat Doo Sik sembari menahan sakitnya.

"Orang bermoral? Dasar preman!" Balas Doo Yeong.

Saat Doo Yeong berjalan, Doo Sik membalasnya dengan menjegal kakinya hingga ia terjatuh. Jadilah dua saudara itu meringis kesakitan tapi kelihatannya Doo SIk jadi taut dekat-dekat Doo Yeong.

 Doo Sik ke bank (mungkin ingin menarik tabungan Doo Yeong). Petugas mengatakan tidak bisa karena yang bersangkutan harus datang sendiri.

"Walaupun sedikit merepotkan, tapi tolong sekalian bawa surat persetujuan dongsaeng Anda juga ke sini."

Doo Sik protes, masa tidak bisa? kan ia Hyeong nya. Keluarga. Tapi petugas tetap tidak bisa dan Doo Sik kembali dengan kecewa.

 Sebelum pulang, Doo Sik mempir dulu di minimarket. Ia akan membayar cola tapi lupa belum mengambil juhi jadinya ia meninggalkan colanya dimeja kasir untuk pergi mengambil juhi.

Si pemuda yang waktu itu datang lagi, namanya Dae Chang. Ia juga mau beli cola, kebetulan di meja kasir ada, langsung comot aja. Bayar dan pergi.

Doo Sik kembali setelah mengambil juhi dan ia bingung karena colanya hilang. Ia melihat keluar, melihat Dae Chang meminum cola. Aish... Doo Sik melupakan juhinya untuk mengejar Dae Chang.    

 "Sini kau! Hari itu aku sudah memperingatkanmu. Hari di mana aku melihatmu lagi, akan menjadi hari kematianmu."

Doo Sik kesal karena ia yang mengambil cola itu duluan. Dae Chang malah bertanya, apa Doo Sik tinggal disana?

"Kalau iya kenapa?" Balas Doo Sik.

Dae Chang ingin mereka membuat kesepakatan saja. Siapa yang duluan bayar, jadi milik orang itu. Oke?

"Kerja apa kau sebenarnya?" Tanya Doo Sik.

"Terus kenapa kalau kau tahu?"

Doo Sik membuka kancing bajunya, menunjukkan tato di dadanya. Ia menakuti Dae Chang, menyuruhnya menebak apa pekerjaannya.

Dae Chang langsung menciut. Ia gagap menjawab pertanyaan Do Sik tadi tentang pekerjaannya, ia mengaku pada Doo Sik mengenai pekerjaannya, Pendatang gelap... Pekerja gelap...

Doo Sik tak mengertimaksud Dae Chang dan Dae Chang malah menyuruhnya untuk cari sendiri. Dae Chang akan pergi. Doo Sik menariknya kembali untuk cola tapi cola itu malah tumah di baju Doo Sik.

"Omo! Maaf... Jas ini... aduh..." Dae Chang takut dan akhirnya ia kembali melarikan diri.

Doo Sik mengejarnya tapi ia kembali melepaskan Dae Chang dan lagi-lagi mengancamnya.

Doo Sik membelikan Jajangmyeon dan Tangsuyuk (daging babi goreng asam manis) untuk Doo Yeong. Ia bahkan sampai menyuapi Doo Yeong tapi Doo Yeong menolaknya.

Doo Yeong merasa ada yang tak beres dengan Doo Yeong. Doo Yeong beralasan kalau ia hanya sedih melihat Doo Yeong semakin kurus, hatinya sedikit tersiksa.


Doo Sik lalu menyarankan pakai garpu. Ia mengambilkan garpu tapi Doo Yeong tetap tidak mau makan dari suapannya. Doo Sik kesal tapi ia berusaha tetap menahannya. Lalu ia menyuruh Doo Yeong untuk menusuk sendiri saja.

 Doo Yeong siap menusuk tapi tusukan pertama malah wortel kedua timun. Doo Sik mengarahkan untuk menusuk dibagian kiri, Doo Yeong kesal jadinya dan memilih untuk tidak makan.

Doo Sik lalu menusukkan satu daging dan memberikan garpunya pada Doo Yeong, akhirnya Doo Yeong mau makan. Doo Sik senang, lalu kembali menyodorkan Jjangmyeon. Doo Yeong memakannya dengan lahap.

"Ini yang di Yangjagang itu, 'kan?" Tanya Doo Yeong.

Doo Sik lalu melihat tulisan di mangkuk. Iya itu dari Yangjagang. Doo Sik kembali terkejut dengan kemampuan Doo Yeong. Daebak!

 Dan inilah intinya, Doo Sik membahas soal tempat persemayaman Ayah mereka dan Ibu Doo Sik yang akan segera di pindah. Karena itu harus mempersiapkan beberapa dokumen.

"Katanya sih tidak boleh jika hanya persetujuan dariku saja karena kau juga dongsaengku. Katanya sih mereka minta surat persetujuan? Harus bawa itu ke sana. Yang pasti sih bikin susah orang saja. Untuk urusan sekecil ini, birokrasinya sangat berbelit-belit." gerutu Doo Sik.

"Terus?"

Doo Sik menanyakan tempat stempel Doo Yeong. Doo Yeong bertanya, kenapa memindahkan tempat persemayaman abu membutuhkan stempel segala.

 "Apaan kuny*k? Reaksimu sekarang ini... Memangnya aku akan menggunakan stempelmu itu untuk menipu orang? Seperti begitu? Wah dasar... hatiku terasa dingin, dasar. Hei, bagaimana pun juga memangnya aku bisa menipu orang menggunakan stempelmu? Hei, ya sudah! Gak butuh! Kalau begitu abu kedua mendiang kita taburkan saja ke dalam Yangjaecheon." Akting Doo Sik.

Tapi ia berhasil karena ia berhasil mengelabuhi Doo Yeong.

 Doo Sik kembali ke bank dan tujuannya kesampaian. Ia lalu ke dealer mobil dan memilih model terbaru. Ia sempat kagok juga saat melihat-lihat isi mobilnya.

Dan ia suka dengan mobil itu tapi sebelum membayar ia tanya dulu, Ada diskon buat penyandang cacat?

 Soo Hyeon mampir ke rumah Doo Yeong dengan membawa macaroon. Ia menyuruh Doo Yeong menebak dimana ia membeli macaroon itu. Seperti biasa, Doo Yeong selalu menebaknya dengan benar, Icheon-dong.

Soo Hyeon duduk di samping Doo Yeong, dengan hati-hati ia menawari Doo Yeong untuk kembali berlatih Judo. Doo Yeong mengingatkan kalau matanya tidak bisa melihat. Bagaimana caranya mau mulai berlatih lagi?

"Jangan salah paham. Dengarkan aku dulu. Aku sudah tanya... Ada timnas olympiade untuk penyandang cacat."

 Doo Yeong langsung berdiri membuat macaroon dipangkuannya jatuh semua. Ia berjalan menuju pintu. Soo Hyeon masih belum menyerah, jika Doo Yeong ikut serta, sudah pasti...

Soo Hyeon berhenti karena Doo Yeong tersandung dan hampir jatuh.

"Aku sudah tinggal di rumah ini selama 20 tahun lamanya. Mencari kamar tidurku sendiri saja aku masih belum bisa. Mungkinkah aku berlatih judo? Seperti ini apa namanya? Ini namanya kepedean." Ujar Doo Yeong lalu masuk ke dalam.

Di kamarnya ia membentur-benturkan kepalanya di pintu, frustasi.

Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon