Thursday, January 12, 2017

[Sinopsis K-Movie] Seondal: The Man Who Sells The River Part 1



-= Di tengah situasi kekacauan Byeongja, sebanyak ratusan ribu rakyat Joseon dijadikan budak. Beberapa diantaranya ditarik oleh pasukan Cheong-ui ke tengah-tengah pertempuran Daemyeong untuk dijadikan perisai anak panah. =-

Ribuan rakyat Joseon bertempur dengan prajurit Dinasti Qing yang bersenjata, disana ada seorang pemuda yang mengandalkan tombak untuk melawan prajurit berpedang.



Pemuda itu berhasil lolos dari prajurit, lalu ia melihat seorang anak yang siap ditusuk oleh prajurit berpedang tapi, ia dengan berani menusukkan tombaknya pada prajurit itu.



Si anak tercengang bagitu pula pemuda itu. lalu si anak mengucapkan terimakasih pada pemuda itu. Belum sempat pemuda itu menjawab ia ditarik oleh seseorang menuruni bukit.

Anak itu memanggilnya, "Hyeong-nim" sambil melongo ke bawah. Tapi kemudian ia ditarik juga oleh orang itu.

Mereka semua berguling-guling dan setelah berhenti pemuda itu melindungi kembali si anak, ia menodongkan tombak pada orang yang menariknya tadi.




"Aku orang Joseon." Kata orang itu.

Orang itu menyuruh mereka berdua untuk melumuri diri dengan darah dan berakting pura-pura mati. Ia sudah pakai jurus itu dan bisa 12 kali selamat dalam situasi seperti ini.




Pemuda itu melihat ada orang Joseon yang berdampingan dengan petinggi prajurit Dinasti Qing. Mereka bicara dengan bahasa Dinasti Qing, intinya berkat pengkhianat Joseon, pihak Dinasti Qing bisa memenangkan pertempuran ini.



Orang itu merupakan penghianat yang dimaksud, ia malah merasa terhormat karena bisa menyumbang jasa. Lalu petinggi itu memintanya bergegas karena putra mahkota Dinasti Qing sudah menunggu.

Pemuda itu memandang si penghianat dengan tajam dan penghianat pun menatap balik.

Setelah iring-iringan itu lewat, orang tadi naik mendekati Pemuda itu. Ia menyalahkan si penghianat itu sebagai sebab mereka jadi bernasih buruk seperti sekarang.

"Orang Joseon yang ada di sini kebenyakan seperti itu."

Pemuda itu tak mengerti, orang yang tadi itu pejabat Joseon, bagaimana bisa?

Orang itu menjelaskan kalau para pejabat itu mencari dan menangkap orang-orang Joseon dan menjual mereka sebagai budak kepada Dinasti Qing.




Si anak bergabung dengan mereka berdua.

"Sebagai badan pengamat, tidak apa jika tidak melindungi bangsa sendiri, tapi malah menjual bangsa sendiri demi memperkaya diri sendiri. Dasar penghianat yang pantas mati!"

Pemuda mengusulkan untuk kembali, ia membutuhkan kepintaran orang itu agar mereka tetap bisa bertahan hidup dan asalkan mengumpulkan sedikit keberanian, mereka pasti bisa pulang.




Orang itu menolak, ia takut tertangkap dan dikembalikan ke sana lalu mati konyol. Bagi pemuda itu, lebih baik mati konyol dalam pelarian daripada mati sia-sia di sana.

"Siapa namau?"

"Kim In Hong."

"Aku dari kasta rendahan. Tidak punya Marga. Cukup panggil saja aku Bo Won. Terus kau?"




Si anak menjawab, namanya Gyeon I. Bo Won menyamakannya dengan nama anak anjing membuat Gyeon I cemberut, lalu ia kembali beralih pada In Hong.

"Tuan muda Kim In Hong, jika pulang ke Joseon, kau punya ide apa supaya bisa makan enak dan minum dengan nikmat?"

Tak perlu ide segala, berhubung sudah pernah mati sekali di sana, sisanya adalah berdasarkan apa yang diperoleh. Jadi tidak usah dipertimbangkan lagi.

"Aku ingin hidup enek. Hidup adalah untuk hidup."

-= Beberapa Tahun kemudian -- Chungcheongdi, On-yang Byeolgeung =-




In Hong mengumpulkan emas dan membungkusnya menggunakan kain lalu mengikatnya di tubuh, ia kemudian menutupinya dengan pakaian kasim.



In Hong bercermin, dengan wajahnya yang menawan sungguh disayangkan jika ia harus melakukan pekerjaan seperti itu.

In Hong mendengar seseorang sedang menuju ke lokasinya saat ini. Itu adalah seorang pekerja wanita istana.




In Hong sengaja menggoda wanita itu untuk bisa melarikan diri dari sana. Dayang itu terpesona dengan rayuan In Hong. Lalu ia melanjutkan jalannya dan...



"Maling! Maling! Ada maling!!"

Para polisi istana langsung bergerak, mereka semua berkumpul di suatu lokasi untuk mendengarkan pengarahan. Saat itu digunakan In Hong untuk keluar dari lokasi persembunyiannya.




In Hong dengan santai menelusuri koridor istana, tampak kalau ia sangat hafal lokasi istana. Lalu ia memutuskan masuk ke perrpustaakaan dan berganti pakaian.

Para polisi menyisir seluaruh ruangan dan koridor tapi tak menemukan In Hong, hanya satu yang belum mereka periksa yaitu perpustakaan.

Semuanya berkumpul di depan perpustakaan, satu bertugas untuk membuka pintu dan ternyata yang keluar dari sana adalah seseorang berjubah Raja, Mereka pun berlutut di depan raja.




"Terlalu ribut. Segera hentikan keributan ini!" Ujar In Hong yang bahkan berani menyamar sebagai raja.

Para prajurit pun mundur karena mengira itu raja betulan. Dan In Hong bebas berjalan lurus dengan senyum lebar.



Tapi In Hong tidak bisa lepas begitu saja, dua orang kasing melihatnya lalu mengikutinya. In Hong terus berjalan dan pengikutnya malah semakin banyak, sekarang di tambah dayang-dayang istana.

In Hong mengetes para pengikutnya. Ia melangkah ke kanan, semua pun ikut melangkah ke kanan, begitu pula kalau ia melangkah ke kiki.

"Aku ingin menyendiri. Kalian segera undur diri!"

Kasim menjelaskan kalau sekarang terjadi insiden kecil di istana, maka..

"Apakah aku adalah alasan atas semua kaributan ini?"

"Tidak raja.."

Kalau begitu In Hong menyuruh mereka semua mundur. Saat itu kasim merasa kalau suara raja mereka berbeda.

"Setiap hari kau mendengar suaraku, tapi kau bilang suaraku berbeda? Aturan internal istana jadi begitu kacau!" Tegur In Hong membuat mereka semua menunduk.

dengan teguran itu, In Hong bisa bebas dari semua pengikut tapi sayang, ia salah rute dan berakhir di ruangan pemandian raja dimana raja yang sesungguhnya ada di sana.




Kepala Kasim berkata dari luar bahwa ia harus menaati dan menjunjung tinggi peraturan di Neisilbu. Raja tak mengerti maksud kasim. Beliau menoleh dan mendapati In Hong nyengir dibelakangnya. Menyadari ia sudah ketahuan, In Hong pun berlari keluar merusak pintu .



In Hong berhasil menuju gerbang istana dan semua menunduk hormat padanya (mengira dia adalah raja). Sementara para pengawal istana mengejarnya.



In Hong menuju ke sebuah rumah namun sayang, ia dihadang pedang oleh kepala pengawal.  Tapi ia tidak gentar sama sekali. Ya iyalah, orang itu Bo Won yang menyamar sebagai kepala polisi.

Bo Won menjelaskan kalau In Hong adalah oenjahat yang sudah lama ditargetkan oleh Badan Penyidik Istana. Karena telah melakukan penipuan, pencurian di seluruh pelosok 8 provinsi.

Bo Won kemudian menerogoh jubah In Hong dan mengambil buntalan emas. Ia melemparkannya pada para pengawal. Menyuruh mereka membawa emas itu kembali ke istana sementara ia akan membawa In Hong ke Pusat Penyidik Istana.




In Hong menegur Bo Won yang tadi terlalu berlebihan. Bo Won nyengir, maaf deh tadi cuma terlalu mendalami akting.



Para pengawal pun kembali ke istana. Si pemegang emas merasa aneh, bukannya emas itu batang persegi panjang kan? Tapi kenapa yang dibawanya tidak beraturan? Kemudian mereka membukanya dan ternyata itu adalah batu. SIal! Mereka pun kembali ke tempat In Hong tadi.



In Hong berganti baju sementara Bo Won memasukkan emasnya ke kantong di punggung kuda dengan gembira. In Hong selesai ganti baju dan langsung menunggangi kudanya. Begitu pula dengan Bo Won.

Tapi Bo Won kesulitan naik ke punggung kuda. In Hong menyindir, Bo Won itu gendut dan pendek seharusnya menunggang kedelai saja. In Hoong membela diri, kudanya saja yang ketinggian! Tapi untungnya ia berhasil menunggang kuda tepat waktu.

Saat para pengawal kembali mereka memacu kuda meninggalkan desa.

-- Hanyang, Uigeumbu --




Lee Wan (Kepala poslisi Kejaksaan) menjelaskan soal In Hong dan Bo Won pada anak buahnya. In Hong dikenal dengan panggilan Bong Yi Seonsaeng. Kelompok Bong Yi lah Seonsaeng yang paling merajalela beberapa tahun terakhir ini, yang juga merupakan pelaku kejahatan di Istana Onyang.



"Paling hebat dalam hal menyamar. Walaupun tidak ada lukisan wajahnya yang akurat, tapi hal yang bisa dipastikan adalah komplotan ini terdiri dari seorang pemuda berwajah tampan dengan seorang pria gemuk pendek yang berusia separuh baya."

Salah seorang bertanya, kenapa bisa dijuluki Bong Yi Seonsaeng. Lee Hwan menjelaskan dengan poster-poster yang ia bawa. Dimulai dari Hamgyong hingga ke Hamheung.




In Hong dan Bo Won menjual makhluk aneh pada seorang pengoleksi barang antik. Pengoleksi bertanya, makhluk aneh apa itu yang berhasil mereka tangkap.

In Hong mengoreksi, bukan ditangkap tapi merupakan karunia dari langit. Setelah itu Bo Won menjalankan tugasnya, ia berbicara dengan bahasa asing dan In Hong menterjemahkannya.

"Gunung Baekdu. Tempat yang paling berbahaya. Lembah mutiara. Beberapa hari yang lalu di malam hari mendadak muncul bulan yang bersinar terang. Ahhh... ternyata sebuah pertanda baik. Karena takut melukai seujung bulunya, selama tiga hari tiga malam dengan sangat berhati-hati ia kubawa hingga ke sini... Burung feniks."




pengoleksi terpukau dengan keindahan bulu burung itu, warnanya emas mengkilap. Tapi ia tidak gegabah, ia memastikan kembali, apa benar itu burung feniks.

In Hong membenarkan dengan yakin, itu burung feniks sebagai persembahan bagi Kaisar Dinasti Qing yang singgah ke sana sehingga pengoleksi bisa menyaksikannya secara langsung.

"Harganya berapa jika dijual kepadaku?"

Mereka menjualnya 3000 Nyang.




Hujan turun seperginya In Hong dan Bo Won. Si pengoleksi panik karena burungnya masih di luar. Setelah kehujanan burungnya berubah. Sebenarnya itu hanya ayam yang disamarkan menjadi burung feniks, bulunya palsu.

Jelas si pengoleksi menyesal bukan main.




Kejahatan In Hong menimpa Gyeongsang hingga ke Gyeongju. Mereka berdua menyamar sebagai biksu, Menipu keluarga, perempuan, anak, cucu dan menjual Cheomseongdae (observatorium astronomi di Gyeongju) seharga 10 ribu Nyang.



Selanjutnya Kota Naju di Jeolla-do. Bo Won bertugas menghalangi jalan dengan pura-pura menjatuhkan kayu yang dibawanya. In Hong menyamar sebagai wanita untuk menarik perhatian Pejabat kaya.



Dan mereka berhasil. Pejabat kaya itu kepincut dengan kecantikan In Hong. Tapi rencana mereka tidak sampai disitu.



Selayaknya pria yang tergila-gila dengan wanita, pejabat itumemberi In Hong banyak perhiasan mahal. Tapi... Bo Won (yang mengaku kakak In Hong) melarang keras hubungan mereka.

"Orabeoni, jangan begitu!" Bujuk In Hong.

"Lihat saja nanti bagaimana aku menghajar muka tua bangkamu sampai mekar!" Ancam Bo Won.

Pejabat itu tidak bisa melepaskan In Hong hingga ia menyogok Bo WOn dengan perak sebanyak ratusan hingga ribuan Nyang tapi sia-sia.




Pejabat itu tidak bisa menerima kenyataan dan hingga kini masih belum sanggup melupakan 'wanita' itu.



Kembali ke Lee Wan, ia menegaskan kalau Gerombolan Bong Yi songsaeng semakin lama semakin besar nyalinya. Kali ini mereka menyamar sebagai raja

"Kerugian awal dari kasus ini diperkirakan lebih kurang 30 ribu Nyang. Kawanan penjahat ini tidak boleh dibiarkan berkeliaran dan merajalela lagi. Harus segera ditangkap! Dan mengembalikan martabat hukum negeri ini!"




In Hong dan Bo Won dalam perjalanan menuju Hanyang. Bo Won sangat senang mereka berhasil dan ia mengakui kalau ini berkat In Hong.

"Aku bisa berperan mulai dari seorang pengawal istana hingga menjadi seorang jenderal. Kalau dulu, membayangkannya saja aku sama sekali tidak berani. Sungguh sekalipun mati tidak ada penyesalan yang tertinggal. Perencanaan yang matang, kerahasiaan, orangnya ganteng dan pintar ngomong. Tidak lain adalah Doryeonnim kita."

Tapi Bo WOn masih belum puas, kapan mereka bisa main besar-besaran. In Hong bertanya, apa Bo Won tahu dihidupnya ini permainan apa yang paling besar nan indah itu?

"Yang seperti apa?"

"Permainan selanjutnya. Permainan kita yang selanjutnya itu harus yang lebih besar dan lebih indah."

Bo Won tersenyum. In Hong prihatin, pasti Bo Won lelah ya. Bo Won dengan antusias mengiyakan berharap dibantu.

"Aku ingin sekali memberimu semangat. Tapi karena memang sudah menjadi tugas, terpaksa dengan berat hati aku menahan diri."

Bo Won menggerutu, bisanya cuma bicara tok.

Sebelum kembali jalan, Bo Won mengingatkan, setelah sampai di Hanyang tidak boleh gara-gara mendapat uang banyak, gaya hidup jadi boros. Terlebih-lebih rumah gisaeng. Sama sekali tidak boleh!

Tapi In Hong tidak mengindahkannya membuat Bo WOn kesal.




di Hanyang. Shaman (dukun) Yoon membaca mantera komat kamit sambil memperhatikan secara rinci Pelanggannya. Jenis perhiasan apa yang dipakai dan lain-lain..

Shaman Yoon mulai meramal. "Putramu..." Sebelum melanjutkan ia melirik Gyeon I yang menggesek-gesekkan telunjuk dihidung."...adalah anak tunggal." Lanjut Shaman Yoon.

"Benar." Jawab sipelanggan.

Shaman Hong terdiam, pelanggannya panik, kenapa? Shaman Yoon lalu membunyikan lonceng sehingga pelanggan fokus pada hal itu. Sementara ia kembalimelirik Gyeon I yang kali ini menggigit batang pohon.

"Karakter huruf nama putramu di antaranya ada karakter 'kayu'?"

"Betul."

"TEMBUS!"

Tembus apanya? pelanggan bingung. Shaman Yoon berbohong kalau ia melihat ada gas beracun yang menembus masuk ke kayu. Jika dibiarkan terus si pelanngan tidak akan pernah memiliki keturunan.




Si pelanggan tambah panik, itu tidak bisa dibiarkan, ia lalu menyerahkan 2 ikat uang pada Shaman. Shaman segera mengamankan uang itu.

Ia kemudian menulis jimat menggunakan tinta warna emas. Harus di bakar pada saat malam pertama lalu abunya diminum sampai habis.

"Dengan demikian bencana akan terhindari dan kebahagiaan akan menjelma."

"Terima kasih, terima kasih."




Bo Won datang, Shaman Yoon memanggilnya Janggun (Jendral). Bo Won memasukkan uang bagiannya kedalam celengan patung jendral di tempat Shaman Yoon.

"Kukira kau dijebloskan ke dalam penjara Uigeumbu." Canda Shaman Yoon.

"Mana tega aku meninggalkan Bodhisattva Yoon sendirian di dunia ini?"

"Aigoo, pintar sekali merayu. Kau tidak rela meninggalkan patung jenderalmu lebih tepatnya."

"Mana ada? Bikin orang sedih saja."




Shaman Yoon penasaran, apa Bo Won tidakpernah kepikiran, ia akan membawa seluruh uang Bo Won. Bo Won emosi, kalau Shaman kabur pasti akan...

Bo Won tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat melihat Shaman Yoon melepas baju luarnya. Ia berkata kalau ia percaya sangat pada Shaman Yoon.

"Aigoo, terharu setengah mati."

Shaman Yoon dan Bo Won sama-sama dijual ke Dinasti Qing, jadi di pundak Bo Won ada tato budak. Bo Won berbaring,



"Sudah pernah merasakan pengalaman yang lebih parah dari anjing dan babi. Hanya orang yang pernah menitikkan air mata yang mengerti bagaimana menyeka air mata orang lain. Dalam linangan air mata tumbuh rasa saling mempercayai. Sebenarnya ada satu hal yang masih kupercayai."

Yang mana. tanya Shaman Yoon. Bahwa Shaman Yoon suatu hari akan membuka pintu hatinya untuknya, jawab Bo Won. Shaman Woon mendekat bukan untuk memenuhi harapan Bo Won, tapi..

"Kau ingin selimut ini menjadi kuburanmu?"

Bo Won tersenyum, ternyata ia masih gagal juga.




Tapi Bo Won penasaran, kenapa Bong Yi Seonsaeng mereka sampai sekarang masih belum juga kembali. Shaman Yoon langsung menebak kalau In Hong sekarang pasti sedang minum-minum di kedai arak untuk menghilangkan rasa bosan.

"Dalam perjalanan ke sini bibirku sampai berbusa cuma mengingatkannya jangan berfoya-foya. Jadi tenang sajalah." Ujar Bo Won.

"In Hong Hyeongnim mana mungkin bisa berubah." Jawab Gyeon I.




In Hong dipanggul oleh dua orang pria, ia dikerumuni gisaeng. Keliling dari rumah gisaeng satu ke yang lain. Ia juga melemparkan uang nya dengan gembira.

"Pepatah mengatakan carilah uang bagaikan seekor anjing tapi hamburkanlah uangmu bagaikan seorang perdana menteri. Kita hamburkan ini bersama-sama."




In Hong pun pulang dan ia hanya memasukkan 2 nyang ke dalam celengan jendralnya. Bo Won menyindir, untuk apa menyisakan 2 nyang. Kenapa tidak dihamburkan saja semuanya? Oh, gak usah repot-repot. Lain kali langsung saja kasih ke rumah gisaeng.

Shaman Yoon tak setuju, Kenapa sih? Mengejar wanginya bunga merupakan sifat alami pria. Berpelesir merupakan sifat alami  dari Bong Yi Seonsaeng.

"Sudah sepantasnya seorang Shaman Yoon berwawasan luas." Balas In Hong.




Gyeon I masuk dengan wajah berdarah, ia sepertinya habis ber;ari. Ia mengatakan  Pasukan pemerintah datang! Dan menyuruh merekaCepat kabur!

Bo Won segera bergerak untuk menyelamatkan celengan jendralnya. Sementara In Hong mendekati Gyeon I untuk mengecek keadaannya. Ia sangat khawatir tapi setelah menyentuh darah Gyeon I ia berubah.



Gyeon I tersenyum, aktingnya berhasil karena semua ketipu. Bo Won padahal sudah menggotong jendralnya.

"Sungguh tidak berartinya aku di matamu. Yang pertama diselamatkan adalah patung jenderalnya." Ucap Shaman Yoon.

Setelah meletakkan jendralnya kembali, Bo Won menjewer Gyeon I untuk memberinya pelajaran. Gyeon I memastikan lagi, In Hong tertipu kan?




In Hong mengiyakan dengan senyum lebar. Gyeon I pun menuntut janji mereka, kalau ia berhadil membuat In Hong tertipu ia akan diizinkan ikut dalam aksi tim.

"Nunim, sepertinya kita harus mempersiapkan satu lagi patung jenderal." Ujar In Hong pada Shaman Yoon.



Gyeon I sangat gembira karena diijinkan bergabung, Ia ingin meniru gaya In Hong semuanya dan karena ia tidak punya kipas, maka ia mengambil ranting di jalan kemudian dipegangnya seperti In Hong memegang kipas.

In Hong memberi Gyeon I jurus, jangan sampai lawan membaca pikirannya. GyeonI tak menyangka cuma itu jurusnya tapi ia tetap akan mengingatnya dengan baik.

"Kau begitu ingin terjun ke dunia penipuan ini?"

"Bukan. Aku hanya ingin bekerja sama dengan Hyeongnim."




In Hong tersenyum, lalu mengeluarkan kipas dari saku lengannya dan memberikannya pada Gyeon I, ia mengingatkan, kalau penakut nanti bisa dimakan oleh lawan.

Gyeon I senang hati menerimanya, sekarang ia membuang rantingnya dan mulai lagi meniru setiap gerakan In Hong.




Sasaran penipuan mereka kali ini adalah seorang ayah, dimana anaknya berusaha keras untuk dapat menjadi jendral. Gyeon I berperan sebagai putra In Hong, mereka menjual pedang.

Gyeon I menjelaskan kalau pedangnya pernah digunakan oleh kakaek buyutnya untuk membunuh bajak laut pada malam bulan purnama di Hansan-do bahkan bekas darahnya masih ada. 

"Duduk sendirian di lantai garnisun. Pedang tersarung di pinggangnya. Berduka atas masalah yang menimpa negara." Lanjut Gyeon I.

"Hansando? Jangan-jangan Chungmugong? (Gelar anumerta yang diberikan pada jenderal berprestasi di era Joseon)"




Mereka berdua mengiyakan dengan menunduk. Tapi si ayah tidak yakin. In Hong lalu mengajak Gyeon I untuk pulang saja, sepertinya ini tidak bisa...

Kemudian In Hong pura-pura batuk-batuk yang mengeluarkan darah. Gyeon I protes, kalau pulang lalu biaya pengobatan In Hong gimana.

"Usia itu ada batasnya. Pedang ini... sama sekali tidak boleh dijual."

Mereka berdua sudah berdiri membawa pedangnya tapi Si Ayah menarik pedang itu. Katanya ada orang baru ada pedang.




Si anak yang tadi berlatih di luar masuk, ia berjanji pada ayahnya akan menjadi jendral yang lebih hebat lagi dari jenderal Chungmugong pemilik pedang itu. Jadi beli saja pedangnya.




Misi pertama Gyeon I berhasil dan ia sangat senang tentunya. In Hong bertanya, bagaimana cara bekerja yang baik?

"Nikmati prosesnya." Jawab Gyeon I.

"Tepat! Nikmati prosesnya."




Gyeon I akhirnya dapat mengisi celengan jendralnya. Bo Won penasaran, mau digunakan untuk apa memangga uang itu. Gyeon I menjawab ia tidak akan menggunakannya.

"Kunyuk, uang itu ada untuk dihamburkan." Balas Bo Won.

Gyeon I lalu menjawab kalau ia akan menggunakannya nanti. Shaman Yoon mendekat, nanti kapan?

Nanti setelah cukup, Gyeon I mau ke Dinasti Qing dan menebus semua orang-orang yang sekampung dengannya. Baik Shaman Yoon dan Bo Won terharu dengan niat mulia Gyeon I itu.

In Hong mendengar percakapan mereka, ia awalnya tersenyum senang tapi berubah sedih.




In Hong punya permainan selanjutnya yaitu dampago (sejenis tembakau). Sekarang di pasaran, satu Nyang (50 gram) tembakau harganya 1 Nyang perak. Wah.. Bo WOn tak menyangka jika semahal itu.

"Karena pembelinya banyak. Tapi yang jual hanya ada seorang. Jual beli dampago di Hanyang ada di tangan orang yang bernama Seong Dae Ryeon. Kita berhasil mendapatkan dua hingga tiga ribu Nyang emas dari Baelgung. Dampago yang tersimpan di dalam gudangnya ada 10 ribu Nyang." Jelas In Hong

"Ss--Ss--Sepuluh ribu Nyang?"

"Barang berkualitas terbagus yang akan digunakan sebagai upeti kepada Dinasti Qing. Bagaimana? Air liurmu hampir menetes, 'kan?"

"Tapi..."

"Jika sudah terlanjur diantar ke Dinasti Qing, semuanya sudah terlambat. Kesempatan tidak boleh disia-siakan."



Gyeon I memanggil kedua Hyeongnya untuk bersiap makan karena ayamnya sudah masak. Bo Won mengerti, Gyeon I lalu balik lagi untuk membantu Shaman Yoon.

"Dan juga masalah Gyeon I..." Ujar In Hong.

"Kenapa dengan Gyeon I?"

Sayangnya In Hong tak mau menjelaskannya lebih jauh sekarang, lain kali saja.




In Hong mulai menyusun "Taktik Dampago" = Taktik untuk mendapatkan Dampago.




Gyeon I kebagian tugas mengawasi kegiatan sehari-hari Seong Dae Ik. Ia mendapatkan : tiap hari Dae Ik berangkat pada waktu yang sama. Perhentian pertama adalah pabrik tembakau menginspeksi jumlah tembakau yang akan dijual pada hari itu. Setelah itu makan sarapan di kedai sup di seberang. Habis itu kembali lagi ke gudang dampago  dan berada di situ hingga matahari terbenam. Terakhir mampir ke gibang minum-minum dan berpesta pora baru kemudian pulang ke rumah, begitu.




Sedangkan Bo Won kebagian mengecek situasi di gudang. Ia menjelaskan hasil pengamatannya dengan peta. Baru awalnya saja ia mengatakan kalau tidak ada cara masuk gudang dampago karena penjagaannya sangat ketat.

"Harus punya surat bukti yang sudah disegel dengan stempel resminya. Sekalipun masalah stempel ini terselesaikan, tapi Seong Dae Ik tidak ada alasan memberikan stempel pada kita. Karena itu Seong Dae Ik tidak boleh berada di tempat. Benar gak?

Kalau begitu kita harus memancing pergi Seong Dae Ik dari situ. Penjaga gudang bagaimana? Ada ide apa yang bisa sekaligus membereskan mereka plus mengosongkan gudang? Bong Yi Seonsaeng tidak mungkin sanggup. Bahkan bapak Bong Yi Seonsaeng pun belum tentu bisa."




In Hong menyarankan untuk diskusi sambil minum saja gimana? Gyeon I mengikuti In Hong berdiri tapi In Hong menyuruhnya untuk kembali duduk.

2 komentar

lanjutkan mba..semangatt
aq sebenernya sudah nonton film ini, filmnya itu kocak,gokil bgt dan ngakak bgt dahh kalo nonton film ini, bakal kehibur soalnya.
dari Judul nya ajj kan sudah gak masuk akal, mana ada Sungai dijual, yang punya kan pemerintah.. hhahaahha

harus sampe kelar ya Mba sinopsisnya..

Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon