Saturday, January 14, 2017

[Sinopsis K-Movie] My Annoying Brother : Hyeong Part 2


Setelah membeli mobil, Doo Sik pergi clubbing. Dalam sekejap ia sudah mendapat mangsa. Gak heran sih, dengan tampangnya yang menawan.


Doo Sik membawa pulang wanita yang baru dikenalnya tadi. Ia meminta si wanita untuk tidak berisik karena mereka memiliki anjung gila, kalau bangun nanti ribut sekali. 


Mereka masuk ke dalam rumah. Doo Sik menggandeng wanita itu mengendap-endap ke kamarnya. Wanita itu melihat sekitar dan ia teriak kaget karena ternyata di sofa ada Doo Sik.

"Belum tidur?" Tanya Doo Sik pada Doo Yeong.

"Oppa, anjing gila itu ternyata orang ya?"

Doo Sik langsung mengelaknya. Tapi Doo Yeong tak percaya, ia memperingatkan si wanita untuk segera angkat kaki sebelum digigit anjing gila. Si wanita pun pergi karena takut. 


Pagi-pagi, Doo Sik menggerutui Doo Yeong karena sikapnya semalam. Doo Yeong yang sedang memegang ponsel langsung menghubungi Layanan komunitas Gui-dong.

"Ya halo, hari itu Anda pernah mengunjungi rumah saya. Nama saya Go Doo Yeong. Hari itu Anda sempat menyinggung sebentar. Anda pernah bertanya jika saya tertarik ke Pusat Rehabilitasi atau tidak. Sudah kupikirkan. Dibandingkan dengan kondisi sekarang ini, menurutku lebih baik ke sana. Saya ada sebuah pertanyaan. Mantan napi yang dibebaskan secara bersyarat untuk merawatku harus kembali ke dalam penjara, 'kan? Karena tidak membantu sama sekali."

Doo Sik segera merebut ponsel Doo Yeong dan mematikannya. Doo Yeong meminta Doo Sik menjauh dari hidupnya karena hidupnya bisa lebih tanang nantinya.


"Ini anak temperamen juga ternyata." Gerutu Doo Sik setelah Doo Yeong masuk kamar. 


Doo Sik bertemu dengan Soo Hyeon. Soo Hyeon mengatakan kalau kemampuan Doo Yeong jadi tersia-siakan. Walaupun atlet nasional penyandang cacat, tapi Doo Yeong bisa tetap berolah-raga.

"Hyeongnim, tolong nasehati dia."

Doo Sik kelihatan ogah, Kalau Doo Yeong nya tidak mau, lalu ia bisa apa. Maka dari tu Soo Hyeon memintanya untuk menasehati Doo Yeong baik-baik. Tinggal bersama ya sesekali nasehati, sesekali bujuk dia.

Doo Sik menatap SOo Hyeon, ia menegaskan kalau ia bukanlah orang yang punya banyak waktu luang.

"Preman lontong, 'kan?"

Doo Sik tercengang. Soo Hyeon membahas soal mobil Doo Sik yang diparkir di luar, Belinya pakai duit apa? Sampai kartu penyandang cacat Doo Yeong pun sudah siap dibuat. Orang yang begitu sibuk kenapa bisa mengurus semua itu?

"Kau begitu memperhatikanku. Aku tidak tertarik dengan orang yang terlibat dalam olah-raga."

"Kau gila ya?"

"Makanya, kenapa kau begitu kurang kerjaan? Dia begitu ketakutan hingga tidak berani keluar rumah. Sekalipun bukan hyeong kandung, tapi ini sudah sangat keterlaluan. Bagaimanapun juga kalian adalah saudara. Kau itu hyeong-nya."


Doo Sik tak mau terus duduk jika Soo Hyeon masih mau menasehati orang. Ia sibuk dan harus pergi. Soo Hyeon meninggikan suaranya karena Doo SIk sudah mulai beranjak, orang yang hubungannya seperti keluarga walaupun tanpa hubungan darah juga banyak sekali."

"Keluarga apaan? Omong kosong!" Balas Doo Sik. 


Di rumah kedatangan petugas komunitas. Mereka datang karena telfon Doo Yeong kemarin. Doo Sik beralasan kalau Doo Yeong hanya bosan makanya iseng.

"Sebaik apapun aku memperlakukannya, tidak akan bisa menghapus trauma yang dideritanya."

Lalu Petugas wanita bertanya, apa Doo Yeong makan dengan benar. Doo Yeong menjawab, Shin Ramyeon, Neoguri, Nagasaki.

Doo Sik segera memotong, ia mengarang cerita. Doo Yeong selalu saja makan ramen mentah karena tidak bisa memasak makanya saat ia datang, Doo Yeong selalu memintanya untuk memasakkan berbagai jenis ramen.

Petugas pria menyuruh Doo Sik memberitahu kalau tidak sanggup merawat Doo Yeong. Dept. Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat memberikan kimchi dan banchan secara gratis.

"Pekerjaan ini sungguh menarik." Jawab Doo Sik.

Petugas mengingatkan, kemungkinan Doo Yeong menderita depresi karena perubahan lingkungan. Doo Sik manggut-manngut memahami.

"Dengan adanya hyeongnim, ada bagusnya juga jika membawa dia jalan-jalan di sekitar daerah ini. Sekalian berjemur di bawah matahari." Saran petugas wanita.


Doo Sik lalu membawa Doo Yeong ke halaman. Tapi baru sebentar, Doo Yeong sudah minta masuk. Doo Sik mengingatkan kalau Doo Yeong harus kena matahari biar nanti tidak depresi.

"Kau lebih membuatku depresi." Jawab Doo Yeong.

Doo Sik juga menggerutu kalau Doo yeong membuatnya naik darah. Penjara dan rumah tidak ada bedanya!


Doo Yeong memandang lagit sambil memejamkan mata, lebih tepatnya pandangannya mengarah ke buah kesemek.

Doo Sik melihat ke arah pandangan Doo Yeong, ia mendesah lalu bertanya, tidak adakah tempat yang ingin Doo Yeong tuju. 

"Tempat persemayaman abu sudah pindah, 'kan? Aku ingin ke sana."

"Mau ke sana bersama denganku? Kau dan aku? Berintim ria? Gen yang sungguh tidak manusiawi."

Doo Yeong kesal, kalau tidakmau ya sudah, kenapa jadi ia dimarahi. Doo Sik juga kesal dan menyuruh Doo Yeong diam!


Doo Sik kemudian duduk di depan Doo Yeong lalu berbaring. Doo Yeong bertanya, apa Doo Sik ingat pemandian Jeongsu di Yangjagang.

"Di hari Appa gajian... Eomma, Appa... Dan kau juga aku... Ke tempat pemandian bersama. Setelah itu makan jjajangmyeon."

Doo Sik tidak mengingatnya. Doo Yeong mengatakan kalau mereka sekalipun tidak pernah kesana lagi setelah kepergian Doo Sik. Ia terus ribut ingin ke sana tapi ayah-ibu selalu bilang tunggu setelah Doo Sik datang, maka bisa ke sana bersama-sama.

"Ngomong apa sih kau?"


"Kau kira setelah kepergianmu kami hidup dengan bahagia? Mungkin karena masa-masa puber. Mungkin kau akan kembali setelah sukses. Mengarang berbagai alasan dan mencoba untuk memahamimu. Tapi kau masih saja belum kembali. Sehingga aku yang saat itu berumur 18 tahun harus menguburkan Ayah dan Ibu. Pada saat itu aku sudah menyerah. Hubungan antara kita sudah terputus."


Doo Yeong berjalan menuju pintu rumah, ia tidak akan melaporkan Doo Sik ke penjara jadi Doo Sik pergi saja dengan tenang, tinggalkan rumah dan jalani hidup dengan menyenangkan. Ia juga sudah terbiasa hidup sendiri.


Pagi-pagi, Doo Sik memaksa Doo Yeong untuk bangun, walaupun ia harus menarik selimut kebesaran Doo Yeong. Tapi usahanya berhasil, ia mengajak Doo Yeong ke sauna. 


Disana, Doo Sik menggosok punggung Doo Yeong sampai dakinya rontk semua. Doo Yeong mengakui kalau Doo Sik jado dalam halmenggosok daki selain jago makan.

"Aku tuh... Sebelum masuk penjara sempat bersembunyi di tempat sauna selama setahun lebih. Menggosok punggung orang ada setahun lamanya. Anak yang melarikan diri dari rumah, mana mungkin hidupnya bisa tenang? Demi menyambung hidup pernah menjadi kuli dan asisten di sebuah salon."

Doo Yeong jadi bertanya, kalau begitu kenapa melarikan dari rumah, bukannya hubungan Doo Sik dengan ibunya boleh dibilang cukup dekat. 


"Ibumu memperlakukanku dengan baik. Setelah kedatangan Ibumu, bekal makanan sekolahku itu selalu nomor satu di kelas. Begitu jam makan siang tiba, wanita yang selalu datang tepat waktu sambil membawa mie udon. sepertinya Ibumu yang pertama."

Doo Yeong juga masih ingat hal itu. Doo Sik melanjutkan, mendadak suatu hari Ajumma sebelah rumah berkata padanya. "Yang pintar sedikit, kunyuk." "Kau tidak punya otak ya?"

Doo Yeong ingin tahu, Kenapa? Kenapa?

"Wanita yang kau panggil "Ibu, Ibu" itu adalah orang yang menjadi perawat ibuku saat dia sedang sekarat. Jika Ibuku menyaksikannya dari atas, bisa mati penasaran dia. Karena itulah aku melarikan diri dari rumah. Puas? Kedua orang itu sangat berharap jika ibuku lekas mati. Karena pikiran seperti ini terus menghantuiku! Kenapa kau menanyakan hal ini? Sialan."

Doo Sik menggosok punggung Doo Yeong lebih keras. Doo yeong protes, Hampir berdarah nih! Doo Sik malarang Doo Yeong bandel, lalu ia mengguyur punggung Doo Yeong dengan air.

"Punggungmu ini... bertambah lebar. Dulu kerdil sekali."

Doo Yeong tersenyum simpul mendengarnya.


Doo Sik selanjutnya membelikan pakaian untuk Doo Yeong. Doo Yeong mengajaknya pulang saja karena pakaiannya sudah banyak.

Sambil memilih, Doo Sik mengatakan kalau Doo Yeong hanya punya pakaian olahraga sedangkan manusia itu berganting pada pakaian dan kuda bergantung pada pelana. 


Seorang Ahjussi yang sedang bersama wanita muda menabrak Doo Yeong hingga terjatuh. Doo Sik lalu membantu Doo Yeong berdiri tapi bukannya minta maaf Ahjussi itu malah menggerutu, Anjing yang baik tidak menghalangi jalan.

Doo Sik tidak terima, kalau menabrak orang sampai jatuh sudah sepantasnya minta maaf. Tapi jawaban Ahjussi tidak enak, buta ya? kalau buta harusnya bawa tongka, Keluar tanpa membawa tongkat, mau mengganggu masyarakat?


Kalau melihat orang yang memiliki keterbatasan fisik, sudah seharusnya kau lebih berhati-hati. Aturan seperti ini saja tidak tahu, brengs*k."

Ahjussi tidak terima karena Doo Sik yang masih muda berani mengatainya begitu. Doo Sik juga tak mau kalah, setidaknya ia masih lebih tua dibandingkan gebetan Ahjussi.

"Apa ini? Kenapa malah kau yang lebih emosi dari dia?"


Doo Sik menjawab kalau ia Hyeong-nya Doo Yeong. Doo Yeong yang tak mau ada keributan mengajak Doo Sik untuk pergi saja tapi DOo Sik malah membentaknya untuk diam, jangan ikut campur!

"Menggigit lebih dari yang sanggup kau kunyah."

"Sebentar! Apa? "Menggigit lebih dari yang sanggup kukunyah?"

"Kalau tidak bisa melihat apa-apa, sebaiknya berdiri saja di pojokan."

"Kalau punya mata, jangan menabrak orang. Matamu itu... cuma digunakan untuk melihat wanita muda?"

Ahjussi tidak ingin memperpanjang masalah ia maumenghindar tapi Doo Sik tidak mengijinkannya sebelum si Ahjussi minta maaf pada dongsaeng-nya.


Ahjussi kelewat kesal dan mendorong Doo Sik hingga perutnya membentur kotak. Doo Sik meringis kesakitan. Doo Yeong khawatir sementara Ahjussi bingung karena ia hanya mendorongnya pelan. 


Doo Sik dibawa ke rumah sakit, ada polisi juga disana. Ahjussi menjelaskan pada pak polisi soal kejadian sebenarnya tapi pak polisi memihak Doo Sik karena melihat Doo Yeong yang cacat.

Doo Sik memulai aktingnya, semua ini salahnya. Demi membelikan baju buat dongsaengnya, ia memaksanya keluar. Ia hanya ingin... supaya dia bisa mengatasi diskriminasi dunia ini. Karena itu ia membawanya keluar.

"Tidak kusangka ternyata diskriminasi itu sudah sangat mendarah daging. Semua ini salahku. Maafkan aku. Semua gara-garaku. Kau pasti sangat kesakitan."


Doo Yeong ikut-ikutan berakting nagis dan pak polisi terharu melihat mereka. 


Doo Sik pulang dengan belanjaan di tangan. Ia membahas soal akting Doo Yeong yang payah tadi. Doo Yeong menjawab, mungkin karena ketularan Doo Sik.

"Panggil apa kau?"

"Lalu aku harus manggil kau apa?"

"Kau kira kau itu Hong Gil Dong ya? Punya hyeong tapi tidak bisa memanggil "hyeong"?"

"Hyeong apaan. Anjing dan babi rontok semua giginya karena menertawanmu."

"Apa? Tadi kau sempat panggil aku "hyeong"."

"Kapan aku?"

"Tadi tuh! Tidak, mana ada aku memanggilmu."


Doo Yeong tetap mengelak dan Doo Sik bersikeras. Doo Sik lalu menjepit leher Doo yeong tapi ia ingat kalau Doo Yeong pernah membantingnya, tidak mau terulang lagi ia pun menjauhkan diri. 


Doo Sik kemudian hanya mengulurkan tangannya untuk Doo Yeong pegang dan berjalan ke rumah. Mulai saat itu hubungan mereka semakin dekat. 


Soo Hyeon ke rumah ingin bicara dengan Doo Yeong tapi karena Doo Sik masih di sofa ia memintanya untuk ke kamar karena ia mau bicara berdua dengan DOo Yeong.

Doo Sik menggerutu walaupun mulai beranjak tapi Doo Yeong bilang tidak apa-apa, ia menyuruh Soo Hyeon bicara saja. Jadilah Doo Sik kembali duduk. 


Doo Yeong kembali menegaskan kalau ia tidak mau.

"Begitu memalukan ya? Medali paralimpiade. Begitu tidak berarti?"

Doo Yeong benci melihat kenyataan bahwa dirinya adalah seorang penyandang cacat.

Seo Hyeon tahu, dalam keadaan normal, kata-katanya ini mungkin tidak berarti. Tapi pernah ada orang yang bilang padanya... Kecacatan itu bukan untuk diatasi tapi untuk diterima.

Doo Yeong bertanya, Bagaimana bisa iaterima? Dalam waktu semalam semua pintu di dunia ini tertutup dan ia menjadi bahan cemoohan.

Seo Hyeon tahu Doo Yeong menanggung sebuah keterbatasan fisik terberat di dunia. Tapi... orang lain bisa membantu Doo Yeong dalam keterbatasannya itu. Tapi Doo Yeong sendiri merasa itu sangat memalukan. Jika memiliki pemikiran seperti itu, maka tidak ada orang yang sanggup menolong.

"Kalau begitu kita saling bertukar saja. Aku telah kehilangan segalanya."


Doo Yeong berdiri, berjalan menuju ke kamar. Ia menempatkan posisi Soo Hyeon di tempatnya, jika Soo Hyeon juga kehilangan segalanya, Soo Hyeon tidak akan dengan enteng mengatakan ini hanya sebuah keterbatasan.

"Iya Doo Yeong... Tapi ini..."

Doo Sik angkat bicara, Doo Yeong sudah bilang tidak bersedia. Apapun itu, harus orangnya bersedia dulu baru bisa terlaksana. Jika dipaksa, apa yang terjadi jika ia menyerah di tengah jalan?


"Harus berapa dalam dia terluka baru kau bersedia menyerah? Sana! Jangan pernah ke sini lagi. Pergi! Cepetan!"

Soo Hyeon menampik tangan Doo Sik. "Kau punya hak untuk berbuat seperti ini? Doo Yeong makan atau tidak, kau tidak pernah peduli. Ini sudah zaman apa? Masih kurang gizi?"


Doo Yeong meredam ketegang, ia mengatakan ingin makan samgyeopsal (irisan daging babi bagian perut). Doo Sik setuju. Doo Yeong juga mengajak Soo Hyeon gabung.

"Oh, aku..." Jawab SOo Hyeon ragu.

Doo Sik sedikit berbisik menyuruh Soo Hyoen bilang saja tidak ada waktu habis itu angkat kaki dari rumahnya.

"Kalau gitu... Minum somaek (campuran soju dan maekju) juga?" Lanjut Soo Hyeon.

Doo Sik kesal, minum saja sendiri karena ia tidak minum dengan cewek. Doo Sik lalu keluar beli daging dan Doo Yeong tersenyum, kali ini agak lebar.


Dae Chang menawarkan permen produk dalam negeri di toko daging. Kebetulan Doo Sik pergi ke toko tersebut untuk membeli samgyeopsal. Dae Chang melihat Doo Sik duluan, ia berusaha untuk keluar dari toko tanpa menarik perhatian tapi Doo Sik malah merangkulnya.

"Sebentar! Kau itu moksa (Pendeta)?" Tanya Doo Sik karena Dae Chang memegang alkitab.


Dae Chang ikut bergabung untuk makan samgyepsal di rumah. Karena disana ada wanita cantik (Soo Hyeon), ia membuat somaek rasio emas khusu untuk Soo Hyeon. Soo Hyeon tersenyum menerimanya, ia menyuapi Doo Yeong.

"Tidakkah seharusnya dia juga makan sedikit?" Tanya Soo Hyeon.

Dae Chang sudah siap mengambil daging tapi Doo Sik mengatakan tidak perlu, Dae Chang sangat kenyang. Katanya juga Orang hidup itu tidak hanya bergantung pada makanan. Dalam anugerah dan kemuliaan Tuhan, senantiasa tidak akan kelaparan.

Doo Yeong bertanya, siapa Dae Chang. Doo Sik mengatakan hanya tetangga, tidak usah dipedulikan. Dae Chang memang terlahir untuk memanggang daging buat orang lain.

"Dongsaengmu?" Tanya Dae Chang.


"Sensus ya? Panggang tuh daging!" Jawab Doo Sik.

Doo Sik selanjutnya bertanya, apa Dae Chang sudah berumah-tangga. Dae Chang menjawab persis seperti Doo Sik tadi, "Makan tuh daging! Sensus ya?"

Doo Sik terbahak. Dae Chang beralih pada Soo Hyeon menegaskan kalau ia belum menikah. Soo Hyeon terbatuk mengiyakan.

"Kau tinggal di sekitar sini?" Lanjut Dae Chang.

Doo Sik menyela, mumpung ia lagi baik hati, ia akan membungkuskan daging untuk Dae Chang. Dae Chang request jangan yang berlemak, bawang putihnya dua saja dan sedikit bawang bombay. 

"Makan saja apa yang kukasih. Nih!"

Doo Sik menyuapkan ke Dae Chang bersamaan dengan Soo Hyeon menyuapi Doo Yeong.

ENtah apa yang terjadi tapi Doo Sik terbahak dan itu membuat Doo Yeong tersenyum lebar, Soo Hyeon pun ikut tersenyum melihat Doo Yeong.


Doo Sik keluar bersama Dae Chan, ingin membuang sampah tapi kemudian ia menitipkannya pada Dae Chan.

"Mana boleh kau pulang dengan tangan kosong? Nih!"

Walaupun kesal, Dae Chang tetap membawanya sampai ke pembuangan.


Soo Hyeon keluar setelahnya, ia bersyukur karena hubungan Doo Sik dengan Doo Yeong sudah ada banyak kemajuan.

"Kau itu aslinya memang sangat suka mengurusi hidup orang?" Sindir Doo Sik.

Soo Hyeon menjelaskan, Doo Yeong adalah sebuah bintang yang belum sempat bersinar tapi sudah jatuh. Karena itulah dia sangat kesakitan. Dan karena inilah ia jadi ikut campur.


Soo Hyeon sudah melangkah tapi ia kembali menengok, kelak ia tidak akan mengganggu mereka lagi. Dengan hadirnya Doo Sik, hadir pula senyuman di wajah Doo Yeong.

Doo Sik nampak tersentuh dengan kalimat itu. 


Doo Sik menyuruh Doo Yeong untuk mencuci piring, ia mulai mengajari Doo Yeong untuk hidup mandiri, walau sikapnya masih saja kasar.

Doo Yeong menjatuhkan gelas, untungnya cuma gelas plastik. Doo Sik mengambilnya dan ternyata sudah ada mangkok yang pecah. 


"Semua harus kau coba kerjakan. Baru bisa punya istri, kampr*t." Lanjut Doo Sik.

Doo Yeong menyergah, wanita mana yang orang gila mana yang bersedia menikah dengannya. Doo SIk menyemangati, dengan tampang Doo Yeong, ia rasa tidak susah.

"Kau pernah pacaran berapa kali?"

Doo Yeong tak ada waktu buat pacaran. Berlatih mati-matian pun belum tentu bisa meraih medali emas. Doo Sik menyesalkan, masa muda Doo Yeong begitu mengenaskan. Tidak bisa lagi, mulai hari ini Doo Yeong harus merayu cewek.

"Kau mempermainkanku ya?" Ucap Doo Yeong sambil mengibaskan spons cuci piring.

"Hal paling gampang di dunia ini adalah merayu cewek, kampr*t."

"Menurutku paling susah."


Doo Sik mendudukan Doo Yeong. Ia berpikir, bagaimana menjelaskan tentang wanita pada adiknya yang malang itu. Ia kemudian terpikir, menghadapi seorang wanita itu tidak ada bedanya denganjudo.

Doo Yeong mulai tertarik, judo? Doo Sik menaruh botol cola di depan DOo Yeong, ia meminta Doo Yeong menggenggamnya erat, ia juga menggenggamnya dan mereka saling tarik.

"Ulur! Tarik! Tarik ulur. Saling tarik ulur dengan cewek itu. Butuh ini... dorong tarik. Harus tunggu timing yang pas. Dan pasti akan datang. Begitu saat itu tiba, segera jatuhkan dia. Boleh dibilang sudah menang selangkah."

"Setelah berhasil menjatuhkannya?"

"Setelah menjatuhkannya... bukankah aku sudah pernah bilang? Tekniknya sama seperti judo. Setelah menjatuhkannya apa yang harus diperbuat? Gunakan pesona dan skill. Taklukkan dia. Buat dia hingga mabuk kepayang."


Doo Sik memutar botol colanya. Lalu botol itu hampir jatuh. Doo Sik menyuruh Doo Yeong menggenggamnya, ia ibaratkan kalau wanitanya mau kabur maka harus di tangkap dengan cepat.

Doo Yeong lagi-lagi meyerah, setidaknya ia juga harus punya sedikit modal. Doo Sik kembali menyemangati, yang penting menang dulu yang lain tidak perlu dipedulikan.


Doo Sik mengamati, bola mata Doo Yeong bisa digerakkan, kan? coba gerakkan bola matamu ke arah kiri lebih kurang 10 detik. Doo Yeong berhasil melakukannya. Doo Sik mengomandokan langkah selanjutnya, liat kaki dan coba lihat ke arah kanan atas selama 3 detik.

"Nyuk! Itu namanya kau lagi kesal sama orang, kampr*t!" Karena Doo Yeong salah.

Doo Yeong kesal, ia menendang meja. Tapi Doo Sik malah senang, baginya itu lebih menyakinkan. Doo Yeong mulai lagi, ia menyenderkan tangannya di kursi.

"Wah keren! Kasar, dingin, seperti kuda liar. Pertahankan perasaan yang sekarang, kemudian katakan kata-kata yang menyentuh hati."

"Kata-kata yang menyentuh hati?"


Doo Yeong mengikuti kata-kata Doo Sik, "Mata manusia itu ada 2 macam. Mata jasmani dan mata rohani. Mungkin kau sudah tahu. Tapi sangat disesalkan aku telah kehilangan... Akan tetapi Tuhan... telah menganugerahiku dengan sepasang mata yang lain. Yaitu mata rohani."

Doo Sik puas, kelar sudah!


Saatnya menata rambut, Doo SIk memotong sendiri rambut dongsaenngnya dan menatanya dengan gaya kekinian.

"Ganteng sekali..."


Doo Sik ke kamar untuk mengambilkan baju yang cocok. Doo Yeng mempraktekkan apa yang diajarkan hyeong-nya tadi, "Sepasang mata rohani."


Doo Sik membawa Doo Yeong ke klub malam. Ia mendudukkan Doo Yeongdi depan bartender. Doo Yeong protes, Kakiku hampir kram nih! Boleh ganti pose?

"Tidak boleh!"

"Pinggangku juga pegal."

"Tahan! Makanya, di dunia ini tidak ada hal yang gampang. Hyeong akan mencarikan seorang cewek yang hot buatmu. Jaga posemu dan duduk dengan manis!"

Doo Yeong berpesan, ia sukanya yang tipe-tipe Jeon Ji Hyeon. Doo Sik bergumam, repot juga kalau gitu. Ia disuruh cari yang seperti bidadari gitu?






Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon