Tuesday, June 21, 2016

[Sinopsis] Love, Lies Part 2


So Yool menunggu Yoon Woo untuk makan bersama. So Yool menanyakan masalah sekolah Yoon Woo. Yoon Woo tidak mau belajar. So Yool khawatir, kalau sampai ibu Yoon Woo tahu pastilah beliau sangat kecewa. Yoon Woo menjelaskan kalau keinginan ibunya itu tiada berujung. Sekalipun Ia menjabat menjadi gubernur Joseon, ibunya juga tidak akan puas.

"So Yool... Di dunia ini... keinginan untuk bisa sukses itu sendiri adalah sebuah kejahatan. Semakin sukses seseorang, semakin ingin ia menginjak ke atas kepala orang-orang Joseon. Lebih baik berteman dengan tanah ini."

“Mencipta lagu lebih memiliki makna, bukankah begitu?”

Yoon Woo minta So Yool untuk menyanyikan lagu ciptaannya kelak. So Yool menjawab kalau dirinya tidak bisa menjadi penyanyi. Yoon Woo mengira kalau So Yool berpikiran lagu pop itu murahan. So Yool tidak pernah berpikiran demikian, dia hanya lebih suka Jeongak saja.



Selanjutnya, Yoon Woo mengajak So Yool ke tempat para gelandangan.

"Tapi So Yool, Dari antara orang-orang tersebut, ada siapa yang pernah mendengar lagumu seumur hidupnya? Karena orang-orang itu tidak memiliki telinga serta tidak berpendidikan sehingga tidak layak untuk menikmatinya. Iya, mungkin kata-kata San Wol Ajumeoni ada benarnya. Tapi yang mereka butuhkan bukanlah lagu-lagu yang bisa digunakan sebagai kenangan di saat senggang. Yang mereka butuhkan adalah air mata dan senyuman. Aku akan menciptakan Arirang masa kini. Orang-orang yang kelelahan dan penat ini, lagu-lagu yang dinyanyikan berdasarkan penderitaan mereka dan yang bisa membangun semangat Joseon mereka."


Yoon Woo mengantar So Yol pulang, sampai di depan rumah So Yol, Yoon Woo memberinya hadiah, tiket konser Lee Nan Yeong. 

"Nan Yeong Eonni memberikannya khusus untukmu." Kata Yoon Woo.

So Yool berniat untuk mengajak Yeon Hee juga. So Yool berterimakasih. Yoon Woo pamit, So Yool memanggilnya.


"Orabeoni! Aku suka jeongak. Tapi aku pasti akan menyanyikan lagu yang ditulis oleh Orabeoni. Terus, kalau boleh... Aku... ingin menjadi semangat Joseon."

Yoon Woo lalu mencium kening So Yool. So Yool membalas dengan mengecup bibir Yoon Woo.


Saatnya konser Lee Nan Young. Usai membawakan sebuah lagu, Nan Young mengutarakan rasa bahagianya karena bisa menyanyi dihadapan orang-orang yang diundangnya.

"Beberapa hari yang lalu aku mendengar seorang agassi bernyanyi. Sungguh tidak ada lagi rasanya lagu yang lebih merdu. Saking merdunya hingga aku tidak bisa tidur malam harinya. Benarkah lirik lagu adalah sesuatu yang sanggup memporak-porandakan hati seseorang?  Agassi beruntung yang membuatku berhasil mencari kembali kebahagiaan dunia ini, berada bersama dengan kita di sini. Bersediakah Anda menyanyikan sebuah lagu untuk kami?"

Nan Young menunjuk ke arah So Yool. Yoon Woo dan Yeon Hee yakin betul kalau So Yool lah yang dimaksud Nan Young.

"Seo Yeon Hee." Sebut  Nan Young.

Ketiganya terkejut mendengar Nan Young menyebut nama Yeon Hee. Tapi So Yool berbesar hati, dia menyuruh Yeon Hee untuk naik panggung.


Nan Young mendaulat Yeon Hee untuk menyanyikan lagu Mimpi Musim Semi yang diciptakan Choi Chi Rim (Yoon Woo). Walaupun agakgugup awalnya, namun Yeon Hee berhasil membawakan lagu "Mimpi Musim Semi" dengan indah sampai membuat Yoon Woo terpesona. Dan penonton yang lain memberinya tepuk tangan meriah.

Saat sedang berendam, So Yool jadi kepikiran ketika Nan Young menyebut nama Yeon Hee, bukan dirinya.

Di luar turun hujan. Yeon Hee ternyata janjian  dengan Yoon Woo di kedai kopi. Sementara So Yool berdiam diri di Geisha menatap kosong ke hujan di luar.


Yeon Hee pulang. So Yool memanggilnya dan bertanya, dari mana Yeon Hee.

"Orang itu, Orabeoni-mu... Sepertinya dia sedikit aneh ya? Katanya dia mau memproduksi piringan hitamku."

So Yool mengulang kata-kata Yeon Hee barusan. Yeon Hee membenarkan, Yoon Woo mengaku sebagai Choi Chi Rim (Si pencipta lagu dan penulis lirik lagu "Mimpi Musim Semi") didepannya tadi.

"Terus kau sendiri bagaimana? Kau bilang apa? Kau menyanggupinya?" Tanya So Yool dengan suara bergetar.

"Ternyata benar." Ucap Yeon Hee yang menyadari kalau Yoon Woo beneran Choi Chi Rim.


Yoon Woo menemui PD (Prodiction Directur)-nim kenalannya, dia mengatakan kalau telah menemukan seorang penyanyi yang luar biasa, tapi bilang tidak pernah punya niat membuat piringan hitam.

"Kenapa? Siapa? Kenapa tidak mau? Aku yang produksi dia juga tidak mau?" Tanya PD-Nim tak menyangka.

Yoon Woo menjelaskan kalau orang itu bahkan tak mendengar omongannya sampai selesai tapi langsung menolak.

"Benar-benar tabiatnya itu. Benar-benar menyerah dengan yang namanya wanita. Di mata mereka hanya ada aku seorang." Tanggap PD-nim.

Kemudian terlihatlah Yeon Hee yang pelan-pelan mendekati mereka.


"Choi Chi Rim Seonsaeng-nim?" Panggil Yeon Hee.

Yoon Woo langsung menyuruh Yeon Hee untuk menyanyi di kedai itu dengan iringan pianonya. Semua pengunjung terpukau dengan suara Yeon Hee, termasuk PD-nim.

Setelah itu, Yoon Woo menyuruh Yeon Hee pulang dan jangan lupa untuk kembali besok. Yeon Hee nampak masih bimbang.


Yoon Woo ikut masuk dalam payung Yeon Hee untuk meyakinkannya, ia ini pencipta lagu terhebat zaman ini, Choi Chi Rim.

"Kalau mau membuat piringan hitam berarti harus meninggalkan gwonbeon." Jawab Yeon Hee.

"Kukira ada apa. Begitu piringan hitam sudah dikeluarkan, uang yang kau dapatkan akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan menemani tamu."

Yeon Hee tidak mempermasalahkan itu, melainkan janjinya dan So Yool yang tidak akan meninggalkan gisaeng seumur hidup dan menjadi seorang seniman.

"Gisaeng apaan?" Yoon Woo meremehkan.

Yeon Hee menegaskan kalau dirinya dan So Yool adalah gisaeng, ia melarang Yoon Woo untuk menghina profesi mereka. Lalu ia berbalik menjauh.

"Hei, Seo Yeon Hee Agassi! Anak seorang gisaeng mana mungkin menghina seorang gisaeng? Aku tidak pernah memandang rendah seorang gisaeng. Tapi yang disebut dengan pertunjukan gisaeng hanyalah diperuntukkan bagi mereka yang menghabiskan uang sebanyak puluhan Won dalam waktu semalam. Mau kau bersedia atau tidak. Penjual mandu dan penarik angkong, hingga pengemis pun butuh untuk mendapatkan sedikit penghiburan. Suara yang menjadi milik semua orang barulah bisa menjadi semangat Joseon. Salahkah apa yang baru kukatakan?"

Kata-kata Yoon Woo barusan mengetik hati Yeon Hee, ia berkaca-kaca lalu maju dan memayungi Yoon Woo.


Saat di rumah, Yeon hee bilang pada So Yool kalau dia akan menjadi penyanyi. Seperti yang dikatakan Yoon Woo, suaranya akan menjadi semangat Joseon.

So Yool langsung bangkit, ia tidak peduli dengan hujan yang turun. Ia nekat untuk menemui Yoon Woo malam itu juga.


"Kenapa bukan aku tapi Yeon Hee?" Tanya So Yool dengan penuh emosi.

Yoon Woo menyuruhnya masuk dulu. So Yool bertanya lagi, kenapa harus Yeon Hee.

"Maafkan aku. Tapi lagu yang akan kuciptakan sekarang ini butuh Yeon Hee."

Yoon Woo kembali menyuruh So Yool masuk tapi So Yool malah berbalik pergi. Yoon Woo memanggil So Yool.


So Yool berbaik menatap Yoon Woo.."Karena itu kau memilihnya? Orabeoni sama sekali belum pernah mendengar aku nyanyi. Karena selalu mendengarku nyanyi jeongak, sehingga Orabeoni dan Lee Nan Yeong Seonsaeng-nim jadi berpendapat demikian."

So Yool menyanyikan sebuah lagu ditengah isaknya. Karena Yoon Woo hanya diam saja, Yoon Hee mencoba menyanyikan lagu yang lain.

Yoon Woo mendekat danmemeluknya, Yoon Woo meminta So Yool untuk mendengarkan baik-baik bahwa sampai saat ini, selain So Yool, Ia sama sekali tidak punya hati terhadap orang lain.

"Ke depannya juga demikian. Hatiku tidak akan pernah berubah." Yakin Yoon Woo.

So Yool juga tahu hal itu namun ia tidak berhenti menangis, ia juga ingin menyanyikan lagu ciptaa Yoon Woo.

"Nyanyi saja. Tinggal nyanyi saja, kan? Mau berapa banyak lagu pun, akan kuciptakan untukmu. Sampai kau muak." Hibur Yoon Woo.


Yeon Hee menghadap San Wol untuk meninggalkan gwonbeon. San Wol tidak menghalangi, mungkin lagu pop memang lebih cocok untuk Yeon Hee.

"Tahukah kau kenapa disebut lagu pop? Karena pada akhirnya akan hilang dan terlupakan. Karena itulah disebut lagu-lagu pop. Kau camkan dengan baik-baik, begitu pergi kau tidak akan bisa kembali lagi."


Setelahnya, ia menemui So Yool untuk perpisahan. Tanpa kata-kata mereka sudah saling mengerti satu sama lain.


Yoon Hee mulai berlatih lagu pop dan mulai rekaman. Sementara So Yool mengajari anak-anak di gwonbeon.

Yeon Hee berteman baik dengan Yoon Woo dan PD-nim, sementara So Yool seorang diri di gwonbeon.


Yoon Woo menawar Yeon Hee untuk mencoba menulis lirik lagu sendiri. Yeon Hee pesimis, mana mungkin ia bisa.

"Segar tidak butuh ketrampilan. Hal ini yang paling penting. Oke?" Bujuk Yoon Woo dan Yeon Hee mau mencoba. mereka sudah sangat akrab.

Suatu hari. So Yool mengnjungi tempat rekaman Yeon Hee dengan mambawa makanan. Dia ada disana tapi yang lain malah sibuk membahas mengenai lagu Yeon Hee. Pada akhirnya, ia pulang dan tak ada yang menyadarinya.


Kim Ok Hyang lagi-lagi protes pada manager karena dia tidak lagi disuruh untuk pentas. Kalau begini terus bisa-bisa ia bangkrut padahal ia harus membayar uang sekolah adiknya.


Yeon Hee sengaja menunggu So Yool, kali ini dandanannya sudah berubah menjadi lebih modern. So Yool memuji Yeon Hee yang cantik dan sudah mirip penyanyi.

Yeon Hee menyempatkan diri untuk menemui So Yool hanya untuk memberikan piringan hitamnya. Masih belum dirilis secara resmi, masih dibuat 20 keping dulu.

"Demi bisa memberimu sekeping, aku harus memohon-mohon pada mereka dulu."

So Yool berterimakasih, ia kemudian mengajak Yeon Hee untuk masuk dulu. Yeon Hee tak sempat karena Band dan penari latar sedang menunggunya. So Yool pun tak bisa memaksa.

Sebelum pergi, Yeon Hee mengatakan kalau sebelum piringan hitamnya rilis akan diadakan konser dan ia ingin sekali So Yool datang menyaksikan. Tentu saja So Yool bersedia datang.


So Yool membuka bungkus piringan hitam pemberian Yeon Hee, di luar ada tulisan "Dipersembahkan untuk satu-satunya temanku di dunia ini, Jeong So Yool". So Yool menghembuskan nafas berat.

Konser Yeon Hee sangat meriah. So Yool juga datang menyaksikan. Dari balik panggung, So Yool mengintip ke barisan penonton, mencaro-cari sosok So Yool.

Yoon Woo melihatnya dan mengkode Yeon hee untuk bersiap. Tak lam kemudian seorang memanggil Yeon Hee untuk segera ganti baju.

Yeon Hee jalan tanpa memperhatikan. Ia kesandung dan kakinya tergilir mungkin, tapi ia tidak merasakannya dan tetap memaksakan diri untuk tampil.

Yeon Hee bener-benar seorang bintang yang mempu menghipnotis semua penontonnya. Dia mampu membawakan setiap lagu dengan penghayatan penuh.

Narasi So Yool : Gasikkoch (bunga berduri) - Yeon Hee. Yoon Hee di atas panggung memancarkan aura gasikkoch.

So Yool melihat Yoon Woo yang menatap Yeon Hee penuh kekaguman.. Air matanya mengalir tapi ia memaksakan sebuah senyuman. dia pun berjalan keluar.

Yeon Hee juga meneteskan airmata mendengar tepukan meriah peneontonnya.


Yoon Woo ada diluar dan ia melihat So Yool. Yoon Woo memegang So Yool tapi So Yool menepisnya.

"Kau sudah nonton pertunjukannya?" Tanya Yoon Woo.

"Tidak mau. Aku menunggu diajak oleh Orabeoni. Orabeoni yang sedikit keterlaluan. Bukankah begitu? Kau perlu introspeksi diri. Aku permisi dulu." Jawab So Yool.


So Yool kemudian masuk ke gedung konser diikuti Yoon Woo. Konser sudah usai tinggal pesta minum-minum.

Yeon Hee melihat So Yool datang langsung memeluknya.

"Sungguh merdu sekali." Puji So Yool.

PD-nim mengatakan pada Yeon Hee kalau hidup Yeon Hee akan berubah mulai besok. Lalu seorang memberikan bunga untuk Yeon Hee. So Yool jadi sedih karena ia tak membawa bunga.

Selanjutnya, Yeon Hee diminta untuk menyanyi satu lagu lagi.


"Terima kasih semuanya. Sungguh terima kasih semuanya. Aku ingin bernyanyi bersama seseorang. Seseorang yang merasa jauh lebih bahagia dari diriku sendiri. So Yool."

So Yool pun terpaksa menyanyi dengan Yeon Hee. Dan mereka menyanyi dengan gembira.


Yoon Woo memandang keduanya, awalnya ia hanya memandang So Yool namun teralihkan pada Yeon Hee. Sekarang pandangannya terfokus pada yeon Hee seorang.

Nah lho..


So Yool dalam perjalanan pulang, namun ia berhenti dulu di toko bunga.

Yeon Hee juga belum pulang, ia menyapa Yoon Woo dulu. Yoon Woo menyuruh Yeon hee pulang saja. Yeon Woo melangkah dan agak pincang.

Yoon Woo khawatir, lalu ia mengecek kaki Yeon Hee. Yoon Woo membopong Yeon Hee ke dapur.  Ia mengompres kaki Yeon Hee dengan es.


So Yool kembali ke tempat Yoon Wo dengan membawa bunga yang tadi dibelinya, ia melihat ke piano Yoon Woo juga melihat lagu-lagu Yoon Woo.

Yeon Hee menegaskan kalau ia benar-benar tidak apa-apa.

"Kau tidak dengar? Hong Seok (PD-nim) juga sudah bilang. Yeon Hee mulai saat ini bukan orang biasa lagi."

Yeon Hee heran, kenapa Yoon Woo harus marah padanya.

"Aku memang marah. Aku memang marah. Kau tanya kenapa aku harus marah? Aku memang marah." Teriak Yoon Woo.

So Yool mendengar suara itu dan ia mendekat. Dan ia melihat kalau Yoon Woo dan Yeon Hee berciuman mesra. Hatinya hancur. Ia meremas lembar musik Yoon Woo.


So Yool berbaring di kamarnya, ia teringat kembali kata-kata Yoon Woo sambil menatap lembar musiklusuh yang ia remas tadi.

"Hingga hari ini, kecuali dirimu, aku sama sekali tidak punya hati terhadap orang lain."

"Dua tahun lagi cukup, kan? Menjadi pengantinku."

Kebayang kan sakitnya gimana... T____T

~bersambung~


1 komentar so far

Chingu ya,
Mian...kesibukan menyita waktu dan tenagaku, hiks!
Tapi syukurlah ada Love, Lies ini, jadi ga suntuk pas sedikit merehatkan diri. Tengkyu ya...
Aku iri banget ma kamu, masih sempat2 aja bikin rekapan, wkwkwk..
Tapi yang part II ini kok bikin nyesek ya..
Aku lanjut part III dulu ah, moga aja hep-end.
Ega ya,hwaiting!!!

Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon