Sunday, June 12, 2016

[Sinopsis] Love, Lies Part 1


Siaran berita salah satu stasiun TV

"Kemarin di sebuah lapangan konstruksi sebuah bank di Seoul, ditemukan sebuah piringan hitam usang. Anda sekalian sudah dengar berita ini? Yang lebih membuat orang senang adalah piringan hitam tersebut hanya pernah sekali diperdengarkan kepada publik di tahun 1944. Menurut kabar burung, ini adalah piringan hitam penyanyi cantik berbakat Seo Yeon Hee Seonsaeng-nim yang belum sempat dirilis 'Semangat Joseon'. Tidak lama lagi piringan hitam tersebut akan dipublikasikan. Nantikan saja. Lagu Anda semua 'Kereta Api telah berangkat.' "

-= Love, Lies =-

-Daeseong Gwonbeon-



Narasi Jeong So Yool dewasa: Seo Yeon Hee... adalah di Daeseong Gwongbeon yang sudah tidak ada sekarang. Walaupun negara sedang dijajah, tapi keluarga kami tidak merasakan perubahan apapun. Jika butuh hiburan, ada gisaeng. Butuh seniman ada gwonbeon (institusi pelatihan gisaeng di awal abad ke-20) dipenuhi dengan seniman berketrampilan. Di luar itu, ada juga sebuah sekolah Geisha. Mendidik dan membimbing anak-anak menjadi seniman.

So Yool kecil menyanyi di kelilingi oleh anak-anak lain. Setelah So Yool kecil selesai bernyanyi, Ibunya (San Wol) menjelaskan pada yang lain kalau lagu yang baru dinyanyikan oleh So Yool adalah lagu yang berjenis jeongak.

"Sulit untuk dinyanyikan dan membutuhkan kemampuan apresiasi musik yang tinggi. Mulai dari zaman kuno, mereka yang mengerti hiburan dan memiliki apresiasi yang tinggi terhadap musik, yang paling mereka sukai adalah tipe lagu yang dinyanyikan So Yool ini.” Lanjut San Wol.


Salah seorang murid menguap ditengah penjelasan San Won dan tertangkap mata San Wol. Murid tersebut refleks menutup mulutnya. San Won menegur murid tersebut yang usianya diatas So Yool, setidaknya jika tidak memiliki talenta maka harus bisa menjadi bahan perbandingan.


Semua murid Geisha yang terdiri dari para gadis kecil mandi bersama di sebuah ruangan khusus.  Dari luar terdengar keributan, dikarenakan penasaran apa yang sedang terjadi, semua gadis cilik itu mengintip dari balik teralis jendela.


Diluar ada keributan masalah hutang. Ayah Seo Yeon Hee kecil memiliki hutang pada orang pengurus Geisha dan sebagai gantinya, dia menyerahkan puterinya untuk bekerja disana, suruh kerja apapun juga boleh. Yeon Hee memohon pada ayahnya agar tidak ditinggalkan disana tapi Ayahnya tidak peduli, toh Yeon Hee juga sudah tidak memiliki Ibu.

“Aku tidak butuh kau lagi.” Bentak ayah.

San Won hanya menyaksikan semuanya dari atas balkon.


Mulai saat itu Yeon Hee bekerja sebagai buruh cuci di sana. Yeon Hee juga suka menyanyi, dia mendendang sambil mencuci. So Yool mendekati Yoon Hee, dia mengenali lagu yang dinyanyikan Yeon Hee itu, lagu milik Lee Nan Yeon Seosaeng-nim.  So Yool menanyakan nama Yeon Hee, namun Yeon Hee cuek dan tak kunjung menjawabnya.

Yoon Hee beralih ke sumur untuk menimba air. So Yool mengikutinya dengan terus menanyakan nama Yeon Hee, dia juga membantu Yoon Hee menarik tali timba air. Yeon Hee kemudian mengatakan namanya dengan ketus tapi So Yool membalasnya dengan ramah.

So Yool mengatakan kalau di Geisha itu banyak hal yang bisa dipelajari dan jika Yeon Hee mau, ia bisa bilang pada ibunya untuk mengijinkan Yeon Hee ikut belajar juga.

“Kau ini benar-benar usil ya!” Yeon Hee masih tetap ketus.

So Yool tetap membalasnya dengan senyum, dia malah mengajak Yeon Hee untuk belajar bersama dengannya.


Narasi So Yool Dewasa: Yeon Hee yang tajam bagaikan gasikkoch (bunga berduri). Dengan demikian, bertemulah aku dengan Yeon Hee. Dan kami pun menjadi dua orang sahabat yang sangat karib.

So Yool dan Yeon Hee sudah dewasa, sekarang saatnya pengumuman ujian akhir. Mereka berdua berlari untuk menuju tempat pengumuman. Yeon Hee sangat gembira sampai rasanya mau terbang.  Mereka berdua berharap kalau mereka mendapat warna merah, pokonya jangan sampai warna biru. Yeon Hee bahkan lebih baik mati jika mendapatkan warna biru.



Satu per satu murid dipanggil oleh Manager untuk maju ke depan mengambil kotak dari San Wol.  Setelah semua murid menerima kotaknya masing-masing, San Won menjelaskan bahwa setelah mereka semua membuka kotak tersebut makan status mereka bukan lagi murid tapi sudah resmi menjadi gisaeng yang akan membawa keajaiban bagi Daeseong Gwonbeon.

“Segala sesuatu harus dilakukan dengan sangat berhati-hati. Jangan sampai mencoreng nama baik Gwonbeon. “ Tutup San Won.

Semua murid kompak menjawab “Iya.” . Selanjutnya San Wol menyuruh mereka untuk membuka kotak masing-masing.


Kim Ok Hyang membuka kotaknya dan ia langsung cemberut karena mendapat payung warna hijau, sedang yang dibelangnya bersorak gembira.


Sedangkan Yeon Heed an So Yool sama-sama mendapat payung merah. Mereka pun tersenyum lebar.

San Wol mengingatkan bagi mereka yang tidak mendapat warna payung sesuai harapan agar tidak kesal maupun kecewa, tetapi gar lebih meningkatkan ketrampilan diri sendiri sebagai seorang gisaeng.


Selanjutnya manager mengambil alih. Ia memerintahkan para murid yang mendapat payung merah atau merah muda untuk berfoto. Jangan lupa dandan yang cantik kemudian berkumpul di sampinh kolam teratai.

Tinggal lah para murid yang mendapatkan payung warna biru. Ok Hyang prites, bagaimana dengan mereka masa foto juga tidak kebagian. Manager mengatakan kalau mereka itu mendapat warna biu.

“Jadi, kami ini gisaeng kelas tiga?” Tanya Ok Hyang memastikan.

“Iya.” Jawab Manager.

“Kami bagaikan pelacur yang menjual tubuh kami. Empat tahun bersusah payah, tidak seharusnya seperti ini.”


Sebelum foto bersama san Wol memberi petuah. Dari zaman dahulu kala, Gisaeng diringkas dalam satu kata yaitu haeeohwa. Artinya adalah harus bisa memahami arti dari omongan orang. Tapi yang jauh lebih penting dibandingkan dengan itu adalah harus mengerti ilmu dan seni., orang yang statusnya rendah tidak peduli menghadapi pejabat tinggi atau orang penting manapun akan selalu bersikap rasional.


“Jadilah bagaikan sekuntum Bungan yang memancarkan aroma wangi yang tidak berani dipetik oleh siapapun. “
 

Manager memberi petuah bagi yang mendapat warna biru. Baik itu yang menjual seni, menjual senyum ataupun menjual diri, yang terpenting adalah tahu caranya menjual.

“Menjual untuk membeli apa?” Tanya manager.

“Beras.” Sahut salah satu dari mereka.

“Tampangmu yang asin enggak, manis enggak masih berani bilang beras?”

Ok Hyang mencoba menjawab “pakaian”. Manager mengatakan kalau Ok Hyang memang pantas menjadi gisaeng kelas 3.  Ok Hyang pun cemberut.

"Asal kan memiliki ini, mau itu beras ataupun pakaian, seumur hidupmu akan berkelimpahan. Lantas apakah itu? Hati seorang lelaki."


San Wol melanjutkan...

"Tidak ada hal yang lebih bodoh lagi daripada percaya dengan hati seorang lelaki. Kalian hanya perlu menari dan menyanyi di saat para pria berpesta pora. Bakat, tidak untuk disia-siakan bagi para lelaki."


Manager menjelaskan cara memperoleh hati seorang lelaki. Bukan di kepala maupun hati. Ok Hyang menangis karena itu artinya sama saja dengan menyuruh mereka untuk jadi pelacur. Dan yang lain juga ikut manangis.


Sedangkan yang mendapat payung gradasi merah, bersenang-senang dengan berfoto bersama.


-=Tahun 1944, Wisuda Angkatan ke-12 Daecheong Gwonbeon=-

San Wol: Ingat baik-baik, Gisaeng memiliki nama lain yaitu seniman.

Narasi Soo Yol: Aku yang bertumbuh dewasa di Gwonbeon. sama sekali asing terhadap dunia di luar Gwonbeon. Dengan status sebagai seorang gisaeng dan juga seniman, hari demi hari menyanyikan jeongak.


Kala itu Lagu Lee Nan Yeong -- Air mata Mokpo menjadi sangat populer.

Narasi So Yool: Tapi dunia seniman telah berubah.Dunia ini telah dipenuhi oleh berbagai macam lagu baru. Tanpa terasa, Yeon Hee dan aku dengan cepat telah terjerat ke dalam dunia itu.

So Yool dan Yeon Hee sama-sama menjadi penggemar Lee nan Yeon. mereka memanggilnya Lee Nan Yeon Seosaeng-nim.


Petinggi datang mengunjungi Gwonbeon. San Wol menjamu petinggi tersebut. Tujuan petinggi tersebut adalah untuk melihat perkembangan anak-anak Geisha, maka dia pun melihat Album foto Daeseong Gisaeng.

Saat halaman yang menampilkan foto So Yool, ternyata ada amplopnya, kemudian San Wol duduk di samping petinggi tersebut, San Won mengambil amplop tersebut lalu memasukkannya ke saku celana si petinggi. 

"Ini adalah putri Cho Hyang? Aku sudah dengar. Katanya dia adalah orang yang sering membuat para lelaki mabuk kepayang. Ibu dan anak tidak ada bedanya." Ujar petinggi.

San Wol menuangkan minuman untuk petinggi dan mengajaknya bernostalgia bersama.


Seseorang pemuda turun dari sebuah mobil, lalu dia mengambil foto So Yool.


So Yool sedang bersama Yeon Hee, dia bertanya, uang minuman keras yang pertama kali Yeon hee terima, digunakan untuk membeli apa?

"Yah, gitu deh!" Jawab Yeon Hee.

So Yool menebak, pasti Yeon Hee memberikan semua uangnya untuk ayahnya. Yeon Hee tidak mengelaknya. So Yool sudah bisa menduga hal itu, maka dia mengeluarkan hadiahnya untuk Yeon Hee.


Yeon Hee membuka hadiah So Yool yang ternyata adalah piringan hitam Lee Nan Yeong. Yeon Hee menangis memandangi piringan hitam tersebut, dia sedih karena tidak punya apa-apa yang bisa ia berikan untuk So Yool.

Yeon Hee memeluk So Yool. So Yool juga ikutan menangis, dia mengatakan kalau Yeon Hee lah temannya satu-satunya. Yeon Hee berterimakasih.


Kemudian datanglah seorang anak kecil yang membawakan surat untuk So Yool. So Yool membuka surat tersebut yang ternyata isinya adalah foto dirinya. Anak itu menunjuk ke arah luar. So Yool pun bergegas kesana.

Di luar sudah ada seorang pemuda tampan yang menunggunya dengan semyum lebar dan tangan terbuka lebar. So Yool mengenali siapa itu, dan dia langsung berlari menuju pelukan pemuda itu, dia adalah Kim Yoon Woo, pemuda yang sama yang mengambil foto So Yool tadi.


Selanjutnya mereka makan bersama. Yoon Woo meminta pendapat So Yool mengenai foto disuratnya. So Yool menjawab kalau diantara semua foto yang ia kirimkan pada Yoon Woo, satu itulah yang tercantik. kemudian Yoon Woo membandingkannya dengan wajah asli So Yool.

"Oh ya? Coba kulihat. Mata bagaikan bulan sabit. Fitur wajah yang proporsional. Orangnya terlihat baik hati. Tapi mulutnya sedikit..."

"Mulutnya kenapa?" Protes So Yool.

"Suka menyanggah dan agak temperamen."

"Mana ada?"

"Tuh lihat! lihat! Sama sekali tidak mudah."

So Yool cemberut. Yoon Woo melanjutkan bahwa dimatanya tidak ada lagi wanita yang lebih cantik dari So Yool.

So Yool mengingatkan, bukannya Ibu Yoon Woo pernah bilang kalau tidak akan pernah bisa menerima seorang gisaeng sekalipun dunia kiamat.

Yoon Woo memegang tangan So Yool, "So Yool... Oppamu ini adalah anak muda zaman sekarang. Ibu-ku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Jiwa yang bebas tanpa terhambat norma-norma yang konvensional."

Yoon Woo mengakhirinya dengan tertawa penuh wibawa. So Yool terharu tapi malah mengatai Yoon Woo yang mirip orang bodoh.


Saat berjalan berdua, Yoon Woo melamar So Yool, dua tahun lagi cukup kan bagi So Yool sebelum menjadi pengantinnya.

"Siapa juga yang bersedia menikahimu?" Goda So Yool.

Kemudian So Yool tertarik dengan piringan hitam Lee Nan Yeong yang dipajang di sebuah etalase toko. Yoon Woo tidak mengerti, kenapa So Yool memanggil Lee Nan Yeong dengan embel-embel Seosaeng-nim, padahal mengenal Lee Nan Yeong sudah cukup membuat orang merasa terkesima.

"Di seluruh pelosok Joseon mana ada orang yang tidak tahu Lee Nan Yeong Seonsaeng-nim?"

Lalu Yoon Woo bertanya, berarti So Yeol sudah pasti pernah dengar lagu-lagu Lee Nan Yeong dong. tentu saja, semua lagu Lee Nan Yeong adalah lagu favorit So Yool dan So Yool sungguh ingin bertemu dengan Lee Nan Yeong.

"Kau pernah dengar lagu ini?" Tanya Yoon Woo sambil menunjuk ke piringan hitam.

"Tentu saja. Ini adalah lagu kesayanganku. Pencipta lagu dan penulis lirik Choi Chi Rim. 'Mimpi di Musim Semi'. Kau tidak tahu lagu ini?"

Yoon Woo mengangkat kedua bahunya.


Yoon Woo mengantar So Yool pulang. Di depan sudah ada Yeon Hee yang menunggu So Yool, dia khawatir karena So Yool dicari-cari dari tadi oleh San Wol sampai kalang kabut.

So Yool tidak panik, dia malah mengenalkan Yeon Hee pada Yoon Woo.

Kemudian San Wol keluar. Yoon Woo menyapanya. San Wol menanyakan kapan kembalinya Yoon Woo.

"Baru hari ini saya kembali ke tanah air." Jawab Yoon Woo.

"Kalau sudah kembali, seharusnya langsung menengok ibumu dulu."

"Wah... Ajumeoni masih tetap secantik bunga yang mekar." Puji Yoon Woo.

San Wol malah menyuruh kedunya (So Yool dan Yeon Hee) untuk masuk ke dalam. Yoon Woo meminta agar San Wol tidak terlalu menyalahkan So Yool karena ia yang mengajak So Yool keluar.


San Wol mendapat telfon dari petinggi yang pernah datang. Mereka meminta diadakan pertunjukan jam 8 malam. San Wol gugup mendengarnya, setelah menutup telfon, dia memerintah Manager untuk menyuruh So Yool bersiap-siap.

Soo Yol sudah selesai dandan, dia mendengar suara klakson mobil. Soo Yol kemudian mengintipnya lewat pagar dekat kamarnya. So Yool melihat Yoon Wo bersandar di sebuah mobil. Yoon Woo mengajak So Yool untuk ikut dengannya naik mobil.

So Yool mengatakan tidak bisa karena dia ada pertunjukkan. Yoon Woo membalas kalau So Yool tidak mau ikut pasti akan menyesal nanti. So Yool terus mengatakan tidak bisa karena pertunjukkannya sangat penting.

"Jam berapa pertunjukannya?"

"Jam delapan."

"Aku akan mengantarmu pulang sebelum jam lima dan dalam keadaan tidak kurang sesuatu apapun. Oke?"


So Yool pun ikut dengan Yoon Woo. So Yool bertanya, mobil siapa yang dibawa Yoon Woo itu. Yoon Woo menjawab singkat kalau itu mobil temannya dan jawaban yang sama saat So Yool bertanya, mau kemana mereka.

"Di mana itu?" Tanya So Yool lagi.

"Di rumah teman."

So Yool iseng membunyikan klakson mobil dan itu membuat keduanya tertawa.


Teman yang dimaksud Yoon Woo ada Lee Nan Yeong. So Yool bahkan sampai terbengong sebentar saat melihat Lee Nan Yeong.

Saat So Yool memanggil Lee Nan Yeong dengan embel-embel Seonsaeng-nim, Yoon Woo dan Nan Yeong sama-sama tertawa ngakak. Nan Yeong menjelaskan kalau dirinya hanyalah penyanyi lagu pop, yang seharusnya dihormati itu adalah So Yool yang adalah seorang penyanyi jeongak.

"Ah, tidak, tidak. Nyanyianku masih sangat..." Elak So Yool tersipu.

Nan Yeong menambahi pujiannya, kenapa So Yool bisa begitu cantik dan proporsional. Yoon Woo melanjutkan, "Bagaikan bunga persik yang merekah." Dan Nan Yeong setuju.

"Judul? Bunga persik. Jika muncul lagu seperti itu, itu adalah lagu tentangmu." Kata Yoon Woo kepada So Yool.

Nan Yeong sekarang mengerti bahwa sumber inspirasi Yoon Woo itu adalah So Yool, pantesan saja semua lagu yang Yoon Woo ciptakan pasti ia suka.

"Lagu?" Tanya So Yool bingung.

"Kau tidak tahu? Dia adalah salah satu pencipta lagu paling terkenal di Jepang." Jawab Nan Young.

Yoon Woo meminta agar So Yool merahasiakan hal itu dari San Wol. Kemudian Nan Yool menyebutkan bahwa lagunya yang berjudul "Mimpi Musim Semi" juga ciptaan Yoon Woo. So Yool masih belum paham karena setahunya lagu "Mimpi Musim Semi" itu ciptaan dan tulisan Choi Chi Rim.

"Betul! Choi Chi Rim! Itu adalah nama alias Mr. Kim." Jelas Nan Yeong.


So Yool menelfon Yeon Hee untuk datang ke tempat Nan Yeong sekarang, namun dia tidak mengatakan kalau itu adalah rumah Nan Yeong, So Yool ingin mengejutkan Yeon Hee.

So Yool minta sesuatu yang tidak masuk akal pada Nan Yeong. Tetapi Nan Yeong tidak keberatan, untuk penggemarnya kapan saja tidak masalah. Tapi sebagai gantinya, Nan Yeong meminta So Yool untuk menyanyi sebuah lagu jeongak untuknya karena ia sungguh menyukai jeongak. So Yool pun dengan senang hati menyanyikan lagu jeongak terbaiknya.


Yeon Hee menunggu di luar rumah. Saat So Yool keluar, barulah Yeon Hee turun dari mobil. Ternyata Yeon Hee datang bersama manager datang untuk menjemput So Yool.

So Yool meminta Yeon Hee tinggal di rumah itu, semantara ia akan pulang bersama manager. So Yool meminta Yoon Woo untuk menjaga temannya itu. Setelah SO Yool pergi, Yoon Woo mengajak Yeon Hee masuk ke dalam.


So Yool mulai pertunjukkannya di depan Hirata Seorang Direktur di Chongdokbu (Istana Gubernur). Meskipun terkenal dengan sikapnya yang dingin, tapi Hirata Ito juga terkenal akan apresiasi seninya yang tinggi.

"Kau harus bisa merebut hatinya." Pesan San Woll untuk So Yool.

Pertama, So Yool menari selanjutnya barulah menyanyikan sebuah lagu jeongak. Hirata Ito sampai menutup mata untuk meresapi lagu So Yool.

Selanjutnya So Yool diminta untuk menuangkan minuman pada Hirata Ito.

"Ini adalah jeongak Joseon, bukan?" Tanya Hirata Ito dalam bahasa Jepang.

"Iya, Ujo p’yŏngjo." Jawab So Yool dalam bahasa jepang pula. [Ujo p’yŏngjo - musik yang menggunakan skala pentatonik anhemitonic]

"Kau tahu Joruri Jepang?" [Joruri - kombinasi antara nyanyian narasi Jepang dan samisen].

So Yool menjawab kalau dia sering ada kesempatan untuk menikmati Yokok, tapi kalau Joruri belum pernah. Tapi Jika ada kesempatan, pasti akan ia nikmati dengan baik. Hiata Ito tersenyum mendengarnya.


So Yool selanjutnya diminta untuk mandi dan berganti pakaian, tapi ia tidak mau.ia menghadap sendiri pada Hirata.

"Saya dengar apresiasi seni Kakka (Yang Mulia) sangatlah tinggi. Sangat menghargai seniman. Saya akan membalas kebaikan Anda dengan suaraku ini. Yang bisa kupersembahkan bagi Kakka hanyalah suaraku. Yang lain-lain tidak ada yang saya bawa serta."


So Yool bergegas menemui ibunya. dia kesal, Bukankah ibunya pernah bilang jika hae-eo-hwa adalah bunga yang tidak akan dipetik?

"Tahukah kau kenapa gisaeng dipanggil dengan sebutan 'bunga'? Uang minum disebut uang vas? Asalkan setelah bunganya dipetik ditancapkan ke dalam vas. Gisaeng itu adalah merekah dengan cara memberikan apa yang diinginkan oleh lelaki. Kemudian dipetik." Jelas San WOl.

"Kalau begitu gisaeng... ternyata adalah pelacur."

"Susah payah aku membimbingmu. Kau malah..."

So Yool tidak mau lagi mendengar penjelasan ibunya.


~ Bersambung ~

3 komentar

Chingu ya...ada "libur" dikit dari bejubelnya aktivitas reallife-ku, maka here I am, kembali menikmati recap-an mu.
Daku salah satu fans-nya han hyo jo lho. Suka dia sejak dong yi, trus I miss you yang sama so ji sub, chemistrinya itu loh, tak kira pacaran beneran. Lanjut ke brilliant legacy..eh eh, skip. #banyakbacot
Ega ya, udah nulis film lagi gumawo...
Hwaiting!!

di lanjutin ya chingu recapnya 😊
Hwaiting..!!!

Mbak kangen...πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon