Friday, May 13, 2016

[Sinopsis] One Way Trip Part 1


Yong Bi (Ji Soo) berjalan menuju pantai dengan gembira disusul Ji Gong (Ryu Jun Yeol), kemudian Doo Man (Kim Hee Chan) dan yang terakhir adalah Sang Woo (Suho EXO).


Malamnya, mereka dikejar-kejr oleh dua orang polisi. Mereka berempat berlari sekuat tenaga untuk menghindari kejaran polisi tersebut. sampai pada akhirnya mereka menemui jalan buntu.

Mereka tidak bisa mundur lagi karena akan tertangkap. Akhirnya mereka memutuskan untuk sembunyi. Kedua polisi melewati begitu saja tempat persembunyian mereka namun kembali lagi karena anjing tak henti-hentnya menyalak.

Salah satu polisi (yang lebih tua) berkata dari luar kalau dia tahu mereka berempat bersembunyi dibalik gedung, dia menyuruh semuanya untuk segera keluar selagi dia masih baik.

Yong Bi menyarankan agar mereka berpencar dan berkumpul lagi di mobil. Sang Woo tidak mengerti, kenapa mereka harus melarikan diri, dia mengajak teman-temannya untuk keluar saja dan bicara jujur, mereka kan tidak melakukan kesalahan apapun.

Yong Bi tidak setuju karena akan aneh rasanya kalau tertangkap sebab mereka tidak melakukan kesalahan apapun. Ji Gong setuju dengan Yong Bi, kalau misalnya sampai ditangkap lalu dilepas lagi, yang ada makin menyusahkan saja.

"Ayo, sebaiknya kita pulang dan istirahat." Ajak Doo Man.

Kedua polisi mendekat dengan hati-hati ketempat persembunyian mereka. Mereka berhasil keluar dan bisa melewati kedua polisi tadi dengan mudah. Mereka memutuskan untuk berpencar, Ji Gong dengan Doo Man dan Yong Bi dengan Sang Woo.

Setelah beberapa meter berlari, Yong Bi mengajak Sang Woo berpencar lagi, dia ke kanan dan Sang Woo ke kiri. 


Bruak!!! Yong Bi mendengar suara tabrakan. Yong Bi memanggil-manggil Sang Woo, dia akan menuju Sang Woo. Kedua polisi tadi datang dan menghalanginya untuk menuju Sang Woo. Yong Bi meronta, dia berteriak kalau ada kecelakaan.

Yong Bi pun berhasil menuju Sang Woo. Yong Bi panik melihat sang Woo terbaring di aspal dengan kepala berlumuran darah, dia menngoncang-goncang Sang Woo untuk menyadarkannya. Si penabak melarikan diri, Young Bi memaki-maki si penabrak.

Sang Woo menggumamkan sesuatu, Yong Bi memintanya untuk bertahan sebentar, lalu dia meminta pak polisi untuk menghubungi 119. Pak polisi tetap menyeret Sang Woo untuk ikut denga mereka.

"Sang Woo, kau akanbaik-baik saja. Kau akan baik-baik saja. Bertahanlah sebentar. Sadarkah dirimu! Lihatlah aku! Sang Woo! Lekas buka matamu, kumohon! Sang Woo! Sang Woo! Sang Woo! Sang Woo!" Teriak Yong Bi yang diseret polisi.

Dan tinggallah Sang Woo disana sendirian menunggu penyelamat datang.

-= One Way Trip a.k.a Glory Day =-


Sang Woo dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh tim 119. Kesadarannya hilang dan pendarahannya masif. Dokter dan perawat segera melakukan tindakan. Dokter memerintah perawat untuk segera menyiapkan ruang operasi dan menghubungi wali Sang Woo.

Yong Bi dibawa ke kantor polisi, dia tetap meronta untuk dilepaskan. Dia meminta pengertian pak polisi, dia berjanji akan kembali setelah melihat keadaan Sang Woo di rumah sakit. Yong Bi gemetar melihat darah di tangannya, darah Sang Woo saat tadi dia memegang kepala Sang Woo.

Pak polisi malah marah-marah karena Yong Bi terus merengek, menambah kesibukannya saja. Polisi yang satunya lebih pengertian, dia mendudukkan Sang Woo dan menenangkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Jika terus berada di tempat ini, yang rugi adalah kau sendiri. Cepat selesaikan penyidikan atau mau tetap berada di sini?" Tanya pak polisi.

Yong Bi menjawab kalau tidak ada yang bisa ke rumah sakit karena Sang Woo hanya punya seorang nenek. Pak polisi membentak, Kesana sekarang juga tidak ada gunanya, mereka tidak akan bisa membesuk Sang Woo.

"Aku harus ke sana. Jika Nenek ke sini akan memakan waktu lama. Aku harus ke sana!" Yong Bi masih memaksa.

Pak polisi berjanji akan membolehkan Yong Bi kesana dengan syarat Yong Bi segera menyelesaikan penyidikan secepat mungkin, dengan begitu baru Yong Bi bisa menjelaskan semua pada nenek.

"Anak-anak yang kabur itu adalah teman-temanmu? Panggil mereka semua ke sini! Setelah itu, kau akan kuantar ke rumah sakit. Oke?" tawar Pak polisi.

Young Bi berpikir sebentar..

-= Kilas balik =-


Sebelum berangkat ke Pohang. Yong Bi menjemput Ji Gong terlebih dahulu di rumahnya. Yong Bi menekan bel dan yang membuka adalah Ibunya Ji Gong. Yong Bi bertanya, apa Ji Gong ada di rumah karena telfonnya tidak dijawab oleh Ji Gong.

"Tadi pagi katanya mau bertemu denganmu, jadi dia sudah pergi." Jawab Ibu.

Yong Bi balik bertanya, kapan tepatnya. Ibu kurang tahu pastinya, mungkin sekitar 2 jam yang lalu. Young Bi merasa itu tidak mungkin karena dia sudah menunggu di depan selama itu.

Anjing di dalam terus menyalak, namanya Ji Jae. Ibu menyuruh Ji Jae untuk diam dan Ji Jae pun diam. Lalu ibu bertanya pada Yong Bi lagi, apa Young Bi lulus ujian masuk PT (Perguruan Tinggi). Yong Bi menjawab tidak, lalu ibu bertanya lagi, apa Young Bi mau ikut ujian lagi. Yong Bi masih mempertimbangkannya.

Ibu mengatakan kalau Ji Gong sudah mulai mengulang dan saat ini sedang konsentrasi belajar jadi dia minta kerjasama Yong Bi agar tidak mengganggunya, bantu saja dalam doa.

Sementara itu di dalam rumah, Ji Gong diam-diam berjalan menuju jendela dengan menggendong Ji Jae. Ibu belum selesai bicara dengan Young Bi, dia berpesan agar Young Bi juga rajin belajar dan hati-hati pulangnya, lalu menutup pintu.


Yong Bi keluar gedung apartemen, tiba-tiba jatuhlah sebuat tas dari atas. Dia melongo ke atas dan ternyata Ji Gong sudah bergelantungan di teralis jendela rumahnya (rumah Ji Gong ada di lantai 2). Kemudian Ji Gong melompat sampai ke tanah. pendaratannya tidak mulus, kakinya sakit.

Yong Bi memberi salam dengan melihat ke atas (ke jendela rumah Ji Gong). Ji Gong langsung berdiri karena mengira kalau itu mungkin ibunya. ternyata Yong Bi cuma mengerjai Ji Gong saja.

Ji Gong kembali duduk dan merengek kalau kakinya benar-benar sakit. Yong Bi tidak peduli dia jalan saja, kemudian Ji Gong menyusulnya.

"Sakit sekali, cuma karena Sang Woo mau pergi wamil, jadi kutahan-tahan." Alasan Ji Gong.

Ini adalah kali terakhir mereka bisa jalan bersama makanya Ji Gong bela-belain, Ji Gong sih lebih suka pergi bersama cewek sebenarnya.

"Cewek saja gak punya,masih sok-sokan. Kau tidak bercermin ya?" Ledek Yong Bi.

Ji Gong mencopot hodi jaketnya untuk menunjukkan pesonanya, gimana? sudah ganteng? Yong Bi hanya tersenyum. Ji Gong melanjutkan kalau sebenarnya dia itu tidak mau pacaran bukan tidak bisa pacaran.

Ji Gong lalu bertanya apa Yong Bi membawa mobil. Yong Bi menunjukkan kunci mobilnya. Ji Gong tersenyum lebar dan mengajak Yong Bi tos.

Mereka sudah naik mobil Yong Bi yang ternyata mobilnya sangat butut. Ji Gong mau turun saja. Yong Bi menahannya dan menyuruhnya untuk memekai sabuk pengaman karena dimobilnya tidak ada airbag (yang bisa mengembang secara otomatis saat terjadi apa-apa untuk melindungi penumpang dari benturan). Ji Gong pun menutup pintu kembali dan memakai sabuk pengaman.


Doo Man sedang latihan basket, namun dia terus dibentak-bentak sama pelatihnya karena tidak bisa melakukannya dengan benar.

"Bangunlah! Jika tidak berusaha lebih keras kau akan terpuruk." Ujar pelatih.

Ada suara bunyi ponsel, Pelatih marah, siapa yang berani-berani menghidupkan ponsel saat latihan. Doo Man tegang, keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya.


Yang menelfon Doo Man adalah Yong Bi. sementara itu disampingnya, Ji Gong malah ribut dengan perlengkapannya.

"Jika dua hari satu malam persiapan barang-barang seperti ini sudah sewajarnya. Baju yang akan dipakai dalam perjalanan ke sana dan pulang. Serta baju untuk keperluan tidak terduga. dan satu lagi baju untuk keperluan emergensi. Terakhir Senjata rahasia, parfum dengan feromon." Jelas Ji Gong.

Ji Gong langsung menyemprotkan parfumnya keseluruh badan, katanya cewek-cewek akan nempel.

"Parfum bukan disemprot seperti itu, harus dipakai. Antara ada dan tiada, samar-samar" Jelas Yong Bi.

Ji Gong lalu menyemprotkn parfumnya ke Yong Bi, dia menyuruh Yong Bi menikmatinya saja, buat diri Yong Bi menjadi 'antara ada dan tiada'. Yong Bi mencoba menghindar tapi sia-sia karena ia tidak bisa melepas setir.

Yong Bi mengangkat telfon tanpa melihat, dia langsung bicara, dia anggap itu adalah telfon balik dari Doo Man. Yong Bi langsung berubah sopan setelah mendengar suara si penelfon, kemudian ia memberikannya pada Ji Gong karena itu dari ibu Ji Gong.

"Ah sialan, mau gila rasanya. Aku harus bilang apa?" Tanya Ji Gong.


Ji Gong berbicara di telfon, ia bilang pada ibunya kalau ia akan pulang segera. Ji Gong tidak melihat siapa yang menelfon, dikiranya Yong Bi mengerjainya lagi, dia lho mengatakan ungkapa-ungkapan kasar karena dia kira itu Doo Man. Yong Bi hanya tersenyum.

"Ya Tuhan, kau sudah tidak waras ya sekarang? sedang apa kau ini? Pulang sekarang juga! Kemana kau bersama dengan anak tidak berguna itu?" Balas ibu di seberang telfon.

Ji Gong langsung memutus telfon. Dia kesal pada Yong Bi, seharusnya langsung bilang saja kalau itu dari ibunya. Yong Bi mengingatkannya kalau dia juga sudah bilang tadi kalau itu dari ibunya. Ji Gong mendesah, ia yakin kalau ponselnya siperiksa oleh ibunya.

"Hei, angkat telfon dan katakan dengan jujur. Bilang saja kita cuma pergi main sehari terus pulang." Ide Yong Bi.

Ji Gong menjawab kalau ibunya pasti tidak akan setuju, tadi saja Ibunya berbohong pada Yong Bi. Yong Bi mengambil jalan tengah, kalau takut ya balik saja. Ji Gong sulit untuk memutuskannya, ia melihat ke layar ponsel, ibunya terus menelfon.

"Aku ingin bebas, sekalipun itu cuma sehari." keluhnya.

Lalu Yong Bi memutar lagu kerohanian dan itu membuat keduanya tertawa ngakak. Yong Bi meleng sampai akan ketabrak truk dari belakang, untungnya dia masih bisa mengendalikan mobilnya.  


Nenek Sang Woo menabung uang pada seseorang jika ditambah bunga totalnya jadi 7 juta won. Nenek tersenyum senang, dia bertanya  kapan kira-kira akan ditransfer. Orang itu menjawab kalau nanti malam akan ditransfer.

Orang itu menyuruh nenek untuk beli baju baru, jangan hanya Sang Woo saja yang dibelikan baju baru. Nenek menjawab kalau bajunya masih bagus dan tidak membutuhkan baju baru, toh dia sudah bau tanah.

Nenek mendekati Sang Woo yang sedang memilah rongsokan. Nenek memberi Sang Woo uang untuk beli baju baru. Sang Woo mengatakan tidak usah tapi nenek memaksa.

"Kelak jangan pakai seragam lagi. Beli yang bagusan." Jawab Nenek.

Sebenarnya Sang Woo ingin mengatakan sesuatu pada nenek. Nenek meletakkan uang di tangan Sang Woo, untuk uang les baru akan nenek kasih nanti malam.

"Sudah kebilang aku tidak mau mengulang." Balas Sang Woo.

nenek tidak mau mendengarnya. Nenek berpesan pada sang Woo agar pulang duluan karena dia mau mampir restaurant dulu dan dia sudah memasak sup labu kesukaan Sang Woo di rumah.

"Panaskan dulu baru dimakan. Pastikan untuk memakannya Ya!"

Sang Woo kesal karena nenek tidak mau mendengarkannya. Ia benci melihat nenek yang harus banting tulang untuk menghidupinya.


Di tempat latihan, Doo Man dihukum oleh pelatih untuk jalan jongkok dengan terus mengulang kalimat 'Menjadi pribadi yang baru.'

Yong Bi dan Ji Gong mengintip di pinggir lapangan. Ji Gong dan Yong Bi berbincang mengenai Doo Man. Yong Bi tidak setuju kalau jalan jongkok seperti itu bisa mnjadikan pribadi yang baru. Ji Gong setuju, seharusnya Doo Man sudah melarikan diri dengan gagah seperti dirinya.

"Rumah itu setidaknya harus bertingkat tiga biar lebih keren lagi. Sayang sekali, iya kan?" Ide Yong Bi.

Ji Gong menyombong, demi Sang Woo yang mau ikut wamil ia rela melompati dari lantai 63. "Tahu maksudnya kan?" Tanya Ji Gong sambil tersenyum. Yong Bi meminta Ji Gong untuk mencoba menunjukkan ketrampilannya. 


Selanjutnya, Ji Gong sudah ada di ruang speaker. Dia menggunakan pengeras suara untuk memperdengarkan suara aneh-aneh. Hal itu menarik perhatian pelatih. Pelatih segera menuju ruang speaker untuk menangkap Ji Gong.

Selanjutnya adalah tugas Yong Bi, dia membantu Doo Man melarikan diri. Sebenarnya Doo Man ragu, dia masih takut dengan pelatih tapi Yong Bi memaksanya. Mereka sudah berlari kabur tapi tas Doo Man ketinggalan. Yong Bi kembali untuk mengambil tas Doo Man dan menyuruh Doo Man untuk tetap berlari kabur.

Pelatih semakin dekat ke ruang speaker, Ji Bong belum berhenti, setelah ia melihat kalau Yong Bi berhasil mengambil tas Doo Man, barulah ia berhenti dan langsung berlari menyusul keduanya.

Pelatih mendapati ruang speaker kosong, kemudian ia melihat kalau Doo Man kabur. Selanjutnya, dia mengomando anak-anak yang lain untuk menangkap Doo Man. tapi ketiganya berhasil melarikan diri dan langsung naik mobil. Aman.


Di mobil, Doo Man menyesali apa yang dilakukannya tadi. Yong Bi dan Ji Gong tersenyum puas. Yong Bi menasehati Doo Man untuk tenang saja sekarang, nanti waktu kembali minta maaf dan berusaha dua kali lebih giat.

Ji Gong setuju, dia menyemprotkan parfum ke Doo Man karena bau keringat.

"Kalau sekolah sampai tahu bisa berabe." Jelas Doo Man.

"Tidak akan ada apa-apa. Pasti tidak akan ada apa-apa. Dasar penakut!" Yong Bi meyakinkan + mengatai.

Doo Man membuka tasnya, namun ternyata itu bukan miliknya dan di dalamnya hanya ada baju norak. Doo Man mengeluh, kenapa semuanya tidak ada yang berjalan sesuai rencana. Ji Gong menyuruhnya memakai baju itu saja karena Sang Woo sudah menunggu mereka.

-= Kilas balik selesai =-


Ji Bong dan Doo Man datang ke kantor polisi. pak polisi menyuruh mereka untuk bergabung dengan Yong Bi.

Doo Man bertanya pada Yong Bi mengenai keberadaan Sang Woo, juga apa Sang Woo baik-baik saja. Pak polisi melarang Doo Man berbicara dan menyuruhnya untuk duduk dengan benar.

Pak polisi mengatakan kalau ketiganya ditahan dengan tuduhan kekerasan. Ji Gong mengelak, mereka tidak pernah melakukan itu. Pak polisi sudah menduga hal itu, 99% dari pelaku biasanya mengaku tidak berbuat, tapi pada akhirnya mereka semua terbukti bersalah.

Selanjutnya tugas polisi kedua untuk mendata mereka. Dimulai dari Doo Man yang harus menyebutkan nomor KTP-nya. Doo Man bertanya, kenapa harus mulai dari dirinya.

"Kau kelihatan paling lugu diantara kalian semua." Jawab pak polisi.

lalu pak polisi mengomentari gaya berpakaian Doo Man yang mirip preman. Doo Man menjawab kalau dirinya adalah pelajar. Pak polisi yang satunya tertawa, dia sudah berpengalaman menilai orang-orang makanya tahu mana yang baik dan mana yang jahat. melihat muka Yong Bi yang terluka dibeberapa bagian dia langsung bisa menyimpulkan.

"Kami dianggap penjahat tanpa ada penyidikan yang jelas." Bela Yong Bi.

Yong Bi memaksa lagi agar diijinkan ke rumah sakit. Pak polisi lagi-lagi tertawa, mereka ini main sinetron ya.. Sang Woo jadi korban tabrak lari juga karena mereka kabur setelah berbuat jahat, sekarang sok mengkhawatirkan teman.

"Ayo! Bangun!" Ajak Yong Bi, Ji Gong mengikutinya.


Pak polisi membentak mereka agar duduk kembali. Dan karena mereka tidak mau kooperatif maka pak polisi akan mengirim mereka ke kantor detektif saja sekalian.

Yong Bi memaksa keluar. disana ada satu polisi lain. jadinya mereka ber6 saling tarik dan akhirnya satu kulkas jadi korban insiden ini. Kulkasnya rusak karena dibuat pegangan oleh Yong Bi. Pak polisi pun semakin mantap untuk mengirim ketiganya ke kantor detektif.


Nenek sampai di rumah sakit, disana nenek kebingungan mencari Sang Woo, nenek bertanya pada salah satu dokter. Dokter menunjuk ruang operasi.

Nenek mengetuk pintu ruang operasi, seorang perawat keluar dari sana. Perawat itu bertanya, nenek ada urusan apa.

"Aku segera ke sini begitu mendapat telepon. Tidak tahu siapa yang mengatakan hal yang begitu tidak masuk akal."

Perawat mengerti, jadi nenek adalah keluarga Sang Woo. Lalu dia menjelaskan bahwasannya Sang Woo semalam sekitar jam 10 malam terlibat kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit. Dikarenakan kondisinya yang serius, terpaksa langsung dioperasi.

"Pertama, kami harus mengkonfirmasi identitas pasien. Mari kita masuk ke dalam!" Lanjut perawat.

Nenek tidak mau, Konfirmasi identitas siapa? Tidak mungkin ada kejadian seperti itu. Tidak mungkin. Perawat mengatakan kalau nenek harus segera tanda tangan surat persetujuan operasi.

"Tidak mungkin. Mana mungkin Sang Woo datang ke Pohang? Jelas-jelas dia ada di rumah. Kalian jangan bercanda dengan orang yang bekerja tengah malam. Tidak!" Nenek masih tidak bisa percaya

"Anu, lalu kenapa mau datang?" Tanya perawat.

"Tidak mungkin, tidak. Sekalipun dia tidak pernah sakit."


Mobil sudah sampai di kantor detektif, Ketiganya diturunkan dan digiring masuk kedalam oleh dua detektif lalu disuruh duduk untuk diinterogasi.

Kepala Detektif bertanya, kenapa mereka. Detektif menjelaskan kalau mereka membuat kerusuhan di kantor polisi setempat lebih tepatnya Kekerasan.

"Hal seperti itu cukup diselesaikan sendiri oleh kantor polisi setempat." Ujar Kepala. "Kenapa dibawa ke sini? Kita sendiri saja sibuk sekali."

"Mereka merusak kulkas. Mengamuk besar-besaran." Jelas detektif.

Lalu kepala memerintahkan Detektif Choi untuk mengambil alih kasus itu. Jika membuat onar lagi, kurung saja di penjara. Kepala kembali fokus pada komputernya, ia meneluh kalau mereka sibuk setiap hari. Sibuk nge-game ternyata.

detektif menakut-nakuti mereka agar tidak membuat onar lagi atau mereka akan langsung dimasukkan penjara seperti kata kepala tadi. Ji Gong dan Doo Man menunduk mengerti

"Kulkasnya? Tidak mau jawab?" Tanya pak polisi pada Yong Bi.

"Iya."

Lalu detektif mengenalkan Detektif Choi yang akan bertanya beberapa pertanyaan pada mereka. Detektif menjelaskan kalau detektif Choi adalah detektif yang paling gahar, mereka bisa dalam bahaya jika berbohong. Ketiganya mengerti.


Detektif Choi mulai bertanya. belum apa-apa di meja lain sudah ada detektif yang membentak-bentak orang yang ditanyainya dengan kata-kata kasar, mereka langsung takut. Detektif Choi mengatakan kalau orang itu dibawa kesana karena sudah berbuat jahat.

"Kalian kan bilang sama sekali tidak bersalah, kan? Ya, kan?" Tanya Detektif Choi.

"Iya." Jawab ketiganya.

"Baik, kalau begitu... Cepat selesaikan setelah itu pulang. Berlama-lama di sini tidak ada untungnya. Mengerti?"

Mereka bertiga mengaku kalau mereka berteman dan datang ke Pohang karena salah satu teman mereka akan masuk wamil besok. Mereka akan mengantarnya ke pusat pelatihan.

-= Kilas Balik =-


Mereka bertiga sampai di tempat Sang Woo menunggu. Ji Bong memanggil Sang Woo untuk segera gabung. Ketiganya kompak memberi jempol untuk Sang Woo.

Sang Woo kelihatan tidak semangat. Ji Gong menyuruhnya untuk segera masuk.

"Bagaimana kalau... tidak jadi pergi saja?" Usul Sang Woo.

"Serius?" Yong Bi terkejut, kalau Sang Woo tidak ingin ikut ya sudah. Mereka juga tidak akan bilang apa-apa. Cuma pergi melihat-lihat laut dan menikmati Hoe (hidangan laut mentah)

"Hei, aku gak bisa makan hoe nih!" Sela Doo Man.

"Hei, jangan macam-macam! Ke Pohang gak makan hoe mau makan apa memangnya?" Balas Ji Gong.

Ji Gong memaksa Sang Woo untuk ikut saja, masa mau menyia-siakan masa muda di militer doang. Sang Woo tersenyum, saat keluar dari wamil juga masih muda tapi ia setuju untuk ikut.


Perjalanan ke pohang pun dimuali. Tujuan utama mereka adalah pantai. Makan es krim melihat wanita-wanita yang lewat di depan mereka. Bercanda-canda dengan makanan. 


Pada akhirnya mereka tidak jadi makan makanan laut. Cuma makan ayam dan minum. Makannya rebutan, siapa cepat dia dapat yang paling banyak.

Doo Man bertanya pada Sang Woo, apa Sang Woo bisa masuk wamil dengan umurnya. Sang Woo menjelaskan kalau semua boleh masuk wamil asal sudah lewat 18 tahun, Doo Man pun bisa ikut Wamil. Yong Bi menambahi, mereka sudah termasuk dewasa juga karena sudah punya SIM.

"Sudah dewasa. Boleh makan+minum secara terang-terangan." Tambah Ji Gong.

Doo Man mengajak semuanya untuk ikut Sang Woo saja masuk wamil, dia akan berhenti main bisbol. Ji Gong meyakinkannya lagi, mau ikut? mau? mau?”. Lalu dia membahas mengenai makanan, jauh-jauh ke Pohang cuma makan ayam goreng, dia menyalahkan Doo Man sebagai penyebab utamanya.

"Hoe-nya mentah soalnya. Bergerak-gerak lagi. Kasihan banget." Alasan Doo Man.

"Kalau ayam? Ayam itu sudah mati. Memangnya ayam itu digali dari dalam tanah kemudian dimakan? Ayam itu juga hidup kemudian disembelih buat dimakan. Sebagai seorang atlet kau itu pemilih sekali dalam hal makanan. Karena itulah bobot tubuhmu
terus menurun." Balas Ji Gong.

Doo Man beralasan kalau itu karena dia stress. Ji Gong membandingkan, lebih stress-an mana coba dengan dirinya yang dikurung selama sebulan di rumah. Doo Man menjawab kalau ia sanggup bertahan dirumah Ji Gong selama 100 tahun.

"Coba saja sana tahan 100 tahun. Coba saja. Kau tidak tahu betapa menderitanya. Nilai akademikmu tidak bagus. Untung kau masih bisa masuk universitas karena kelebihanmu di bidang olah-raga. Bersyukurlah kau."
Jawab Ji Gong.

Doo Man tidak setuju kalau nilai akademiknya dibilang tidak bagus. mereka berdebat dengan perbedaan poin saat tes ujian masuk. 


Dan perdebatan itu terhenti karena ada pemandangan menarik. Ada sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Mereka tidak memusingkan hal itu, malah menyusun rencana saja untuk besok, mau membuat rencana untuk menciptakan kenangan indah buat Sang Woo.

"Eh sebentar, bajuku agak gimana gitu.." Kata Doo Man.

"Yong Bi, ini termasuk situasi darurat gak?" tanya Ji Bong.

Yong Bi mengangguk. Ji Gong menjelaskan pada Doo Man kalau dia sudah menyiapkan segalanya. Doo Man pun menikmati minum-minumnya.

Doo Man muntah-muntah setelah minum-minum, Ji Gong menepuk-nepuk punggungnya. setelah itu menyemprotkan parfum ke Doo Man karena bau.

Sementara itu Yong Bi dan Sang Woo ada di mobil. Sang Woo mengatakan kalau Doo Man benar-benar kurus banyak gara-gara sekolahnya yang melelahkan. Yong Bi setuju.

"Tapi Sang Woo, tidak bisa ya jika kau tidak pergi?"

2 komentar

WHOAAAA... Ga nyangka kamu ngambil one way trip-nya jung hwan,eh ryu jun yeol.
Aku belum nonton ini. Tengkyu banget chinggu!!
Gapapa deh ni film kamu duain ma skrip,daku rela...wkwkwk.
Plisss bikin yang detail yah..(ommo,ommo,permintaan tak berperasaan macam mana pula itu,dasar!)
Ega ya,hwaiting!!

Chinggu ya,hiks, potonya kecil kecil...buka di hp ga keliatan..hiks.
He...

Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon