Monday, March 28, 2016

[Sinopsis] Page Turner Episode 1 Part 2


Jin Mok membuka matanya dan tepat saai itu temannya menelfon mengabarkan bahwa Yoo Seul baru saja mengalami kecelakaan mobil dan saat ini sedang dalam keadaan kritis.

"Apa? Jin Mok kaget.

temannya menjelaskan kalau semua guru sedang menuju ke rumah sakit. 

"Seberapa parah lukanya?"

"Dia tidak akan meninggal tapi matanya terluka, kemungkinan ia akan buta."


Jin Mok sudah tak mempu mendengar lagi, ia menurunkan ponselnya, lalu menatap ke patung Yesus. Ia tak pernah menyangka kalau doanya akan terkabul secepat ini.


setelah Yoo Seul pulih dari luka-lukanya dokter mulai memeriksa mata Ye Seul, Ye Seul hanya tahu kalau disana ada cahaya tapi gak jelas, ia juga sama sekali tak bisa melihat ibunya.

Dokter menjelaskan kalau otot penglihatan Yoo Seul rusak akibat kecelakaan itu. Ada beberapa pasien yang bisa memperoleh penglihatannya kembali tapi keadaan Yoo Seul bener-benar tidak baik.

"Jangan bicara demikian. saya yakin masih ada jalan. Bagaimana dengan transplastasi kornea. Saya bersedia memberikan kornea mata saya, kedua-duanya."

Dokter menjelaskan kalau kornea Yoo Seul baik-baik saja, otot penglihatannya yang bermasalah jadi transplantasi kornea tak akan ada gunanya.

Ibu malah meributkan maslah piano, bagaimana Yoo Seul bisa bermain piano lagi jika tidak bisa melihat. Piano adalah segalanya bagi Yoo Seul.

Dokter membentak Ibu, tidakkah Ibu seharusnya lebih khawatir dengan kesehatan Yoo seul, bukan malah piano.

Ibu tak percaya lagi dengan dokter dan mengajak Yoo Seul untuk menemui dokter lain.


Ibu membereskan pakaian Yoo seul,,

"Ibu akan memperbaiki matamu jadi jangan berpikir untuk menyerah bermain piano."

Ibu memakaikan mantel Yoo Seul sambil berkata kalau Yoo Seul sudah cukup lama tidak berlatih dan harus segera berlatih saat kembali ke rumah.

"Walaupun penglihatanmu tidak kembali, tetaplah optimis. Pendengaranmu mungkin akan lebih tajam...dan mengubahmu menjadi pianis yang lebih baik."


Ibu memberikan alat latihan Yoo Seuk lalu keluar untuk mengecek proses keluarnya Yoo Seul dari RS. Ibu meminta Ye Sul menunggunya disana.


Ketegaran Ibu mulai runtuh, ia masuk ke ruang kosong dan menangis sejadi-jadinya. sambil memukul-mukul dadanya yang sesak.

dua perawat heran mendengar tangisan pilu ibu. salah satu dari mereka mengetuk pintu, lalu ibu keluar seperti tak terjadi apa-apa.


"Apa Anda baik-baik saja? Tanya perawat.

"Aku baik-baik saja. Aku harus begitu. AKu harus membuatnya begitu." Jawab ibu.

Ibu bergegas ke tujuan awalnya dan melewati ruangan dokter yang sedang melakukan konsultasi untuk pasiennya.


pasien dokter tersebut adalah Cha Sik yang ditemani ibunya. Dokter menjelaskan kalau kecelakaan yang menimpa Cha Sik tidak akan mempengaruhi masa depannya untuk memiliki anak. Ibu dan Cha Sik bisa tersenyum lega.

Tapi dokter belum selesai, masalah yang sebenarnya adalah Cha Sik yang mengalami spondylolysis serius. Ibu bertanya apa itu.

"Kau menggunakan tulang belang ke-5 untuk proses olah raga.Tapi kecelakaan itu menyebabkannya bermasalah." Jelas DOkter.

Dokter menyarankan agar Cha Sik menjalani operasi penyambungan tulang tersebut dan bisa dijamin setelah operasi Cha Sik tak akan mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari namun Cha Sik tak bisa lagi berolahraga.


"Bagaimana jika saya melakukan program rehabilitasi? Jika saya bekerja keras siang dan malam... Saya yakin bisa melakukannya."

Dokter menjelaskan kalau hal itu tidak mungkin dan jika Cha Sik memaksa maka akan membahayakan tulang belakang yang lain.

Dokter membolehkan Cha Sik pulang dan akan menjadwalkan operasi bulan ini.


Cha Sik tampak murung, namun saat ibu bertanya, apa Cha Sik baik-baik saja, ia langsung ceria lagi dengan memaksakan senyumnya.

"wahhh... aku sangat beruntung."


Jin Mok berlatih piano tapi ia tidak bisa konsen, di depannya ia menaruh foto Yesus.

"Kenapa Kau melihatku seperti itu?"

Lalu ia menidurkan foto Yesus.


Cha SIk pergi ke toko bunga. pemilik toko bertanya, apa Cha Sik mau beli untuk pacarnya.

"Tidak, dia hanya teman. Eh bukan Sih,, dia pesaingku."

Si pemilik toko mengerti. lalu Jin Mok menunjuk bunga yang ia inginkan. Tak usah dirangkai cantik, cukup ikat seadanya saja.

"Eiiieeee.. Dia kekasihmu, kan? Kau tahu kalau bunga ini berarti 'cinta sejati' kan?"

Jin Mok menegaskan kembali kalau dia benar-benar bukan kekasihnya. ia hanya mau menjenguknya di rumah sakit karena dia sakit.

"Apa Anda punya bunga yang berarti 'cepat sembuh'?"

Jelas pemilik toko punya, dan akan mengambilkan bunga tersebut.


Jin Mok mengubah keinginannya, ia bertanya apa pemilik punya bunga yang berarti 'aku minta maaf' atau 'maafkan aku'.

pemilik balik bertanya, kenapa Jin Mok mau minta maaf karena dia sakit? Apa Jin Mok telah melakukan kesalahan sama dia?

Tapi tanpa menunggu jawaban Jin Mok, pemilik langsung mengambilkan bunganya.


Cha Sik turun dari tangga atap dengan tampang penuh putus asa. Tiba-tiba ada yang memukul kakinya dengan tongkat.

Cha Sik sangat keget dan ternyata itu adalah tongkat jalan Yoo Seul. Yoo Seul minta maaf, kemudian bertanya arah ke atap karena ia mendengar kalau tangga disana langsung menuju ke atap.

Cha Sik menjawab kalau bukan tangga itu yang menuju ke atap tapi ada satu tangga lagi. Cha Sik bersedia untuk mengantar Yoo Seul. 

"Bolehkah aku memegang tanganmu?"


Yoo Seul ragu. 

"Kalau begitu pegang tanganku." lalu Cha Sik memegangkan tangan Yoo Seul ke lengannya.


Cha Sik membimbing yoo Seul untuk mengikutinya bahkan melindungi Yoo Seul saat ada orang yang mau menabrak Yoo seul.


Jin Mok datang, ia melihat Yoo Seul jalan dengan memakai tongkat dan bimbingan Cha Sik.

"Tidak mungkin... Apa dia buta?" Gumamnya.


Cha Sik dan Yoo Seul sudah sampai di atap. Yoo Seul bertanya, apa ada orang lain di sana. Cha Sik menjawab tidak ada. lalu Yoo Seul berterimakasih dan Cha Sik meninggalkannya.


Yoo Seul mendekat ke arah pagar, ia melipat tongkatnya dan meletakkannya lalu ia memberanikan diri untuk melangkahi pagar, dan ia berhasil namun kentara sekali kalau ia takut.


Ternyata tadi, Jin Mok mengikuti Yoo Seul. dan Cha SIk tidak benar-benar pergi, ia masih ada di sana dan melihat interaksi Yoo Seul-Jin Mok.

"Yoon Yoo Seul, apa yang kau lakukan disana?"

Yoo Seul menengok kebalakang, ia melarang Jin Mok untuk mendekat.

"Kau tidak bisa melihatku? sama sekali?"

"Iya aku tidak bisa melihat. Apa kau kesini untuk memastikan hal itu? APa kau senang sekarang?"


Bukan begitu maksud Jin Mok, ia hanya khawatir pada Yoo Seul. Yoo Seul balik arah, ia menanyakan alasan kenapa Jin Mok mengkhawatirkannya.

"Aku senang kok. Aku senang sekarang bahwa aku kelilangan penglihatanku. AKu tidak perlu lagi melihat wajah memuakkanmu. Dan aku tidak harus melihat lembaran musik yang seperti kecoa. Aku super senang. Ini bagus, aku seang, tapi...Aku senang menjadi buta, tapi...Ibuku tetap ingin aku bermain. Ibuku ingin aku tetap bermain piano meskipun mataku begini. Dia menyuruhku untuk berusaha lebih keras lagi!"

"ibu seperti apa itu? hihihi... Ibu seperti apa itu?"


"Yoo Seul ~ aa.." Panggil Jin Mok.

Yoo Seul menyalahkan Jin Mok sebagai penyebab semua ini. Di hari saat Jin Mok merendahkan ibunya, ibunya jadi berubah. 


Yoo Seul membuang alat latihannya. Cha Sik memutuskan untuk pergi dari sana.

"Aku muak dengan semua ini. Aku muak berpura-pura menyukai piano. Dan aku muak memandang rendah dirimu.  Kau mungkin juga muak denganku. Sama halnya denganku. Jadi kuputuskan untuk berhenti."

"Berhenti apanya?" 


"Bye.. Seo Jin Mok."

Yoo Seul melepaskan pegangannya dan membiarkan tubuhnya terjatuh.

"Yoon Yoo Seul!"


Tapi tenang, dibbawah sudah ada Cha Sik yang sugap untuk menangkap Yoo Seul.

Ternyata tadi Cha SIk membawa Yoo Seul ke tempat parkir karena ia punya firasat kalau Yoo Seul bakalah ngelakuin hal bodoh. 


Yoo Seul kesal, ia akan memukul Cha Sik tapi tentu aja gak kena.

"Bagaimana rasanya tertikam dari belakang? gak enak, kan?"

Cha Sik melanjutkan, kalau Ibu Yoo Seul juga akan merasakan hal yang sama jika mendengar Yoo Seul tadi. Yoo Seul tak mengerti.

"Kau membodohi ibumu dengan pura-pura menyukai bermain piano. Itu salahmu karena berbohong padanya, bukan salahnya yang masuk dalam kebohonganmu. Jangan menimpakan kesalahan pada ibumu. dan jangan menimpakannya juga padanya (Jin Mok)."

Cha Sik minta maaf sudah menghentikan Yoo Seul, mungkin akan lebih baik jika tadi ia membiarkan Yoo Seul mati. 


"Yaa! bagaimana kau bisa mengatakan hal itu? Tidakkah kau sadar akan situasinya?"

Cha Sik membalik pertanyaan Jin Mok, apa Jin Muk juga gak sadar situasi? dan membeli bunga untuk cewek buta? 

Jin Mok menatao bunga di tangannya.

"Semua tertulis diwajahmu... bahwa kau bodoh."


lalu Cha Sik lanjut berjalan, ia memungut alat latihan Yoo Seul dan menatap ke aarah Yoo Seul.


Cha Sik cerita ke Ibunya kalau ia sudah menyelamatkan cewek yang mau bunuh diri. Cha Sik mendengar tentang Yoo Seul dari perawat dan heran kenapa TOP siswa kaya Yoo Seul bisa berpikiran pendek seperti itu.

"Cukup membahas gadis itu. kenapa kau tadi di atap?"

Cha Sik menjawab tidak ada alasannya hanya ingin mencari udara segar saja.

"Tak ada alasan?"

"Ya tentu saja. kenapa? Apa ibu pikir aku bakalan merokok? Aigo... Jangan khawatir. AKu tak akan pernah merokok. Ibu tahu kan kalau aku gak bakalan ngelakuin sesuatu yang membut Ibu khawatir." 

Ibu tahu hal itu, karena ibu yang paling tahu Cha SIk dari siapapun.


Mereka sudah sampai di luar dan ternyata hujan turun. Ibu mengeluarkan payung dari tasnya, dan saat mau membukanya, payungnya terlepas dari pegangannya. 

Cha Sik tertawa terpingkal-pingkal karenanya. Ibu mencoba lagi tapi hasilnya sama saja.


Cha Sik tidak bisa berhenti tertawa, ia sampai menangis. namun Ibu tak merasa ini lucu sama sekali.  

"Cha Sik~aa. apa kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja Ibu. Itu hanya lucu saja. Payung itu sama sepertiku.."

Cha Sik terus mengatakan kalau ini lucu tapi ia tidak berhenti menangis, Ibu memeluk Cha SIk.


"Apa yang harus aku lakukan, Ibu? AKu tak punya hal lain kecuali olah raga. Aku hanya mempunyai satu hal. Bagaimana bisa mereka mengambilnya dariku?" 

"Benar! mereka keterlaluan."


Cha Sik membalas pelukan ibunya, tangisnya semakin keras..

"Ibu... Ibu... Ibu, apa yang harus aku lakukan? Apa? Ibu... Ibu... Ibu..."


Cha SIk beberapa hari hanya menghabiskan waktunya di kamar, bermain game, mendengarkan musik dan meletuskan plastik jendela. ia memutuskan untuk keluar dari sekolahnya.

Ibu ikutan sedih melihat puteranya itu.


lalu ibu kembali ke kamarnya dan membuka album foto. Ibu mengambil salah satu foto, ia teringat kata-kata Cha Sik di rumah sakit.


"Ibu, katakan padaku kenapa. Apa yang harus aku lakukan sekarang jika aku tidak bisa berolah raga lagi? Ibu..."

Ibu berkata: Bisakah ini menjadi alasannya?

Sambil menatap foto yang tadi dikeluarkannya.


Sekarang di rumah Yoo Seul banyak buku-buku braile dan alat tulisnya. Ibu memasang spons di pinggiran meja sambil menjelaskan pada Yoo Seul.

"Ibu diberitahu Guru Song bahwa ada Guru yang hanya menerima murid buta. Ibu akan menelfonnya besok jadi, mari temui mereka."

Yoo Seul mengerti. 

Dan satu lagi, Yoo Seul akan sulit jika pergi kesekolah sendirian, maka ibu akan menemani Yoo Seul disekolah. Jadi Yoo Seul tak usah meminta bantuan teman karena akan terlihat menyedihkan.

"Tak usah khawatir, fokuslah pada latihanmu saja."

Yoo Seul diam saja, ia mengingat kejadian dulu-dulu. Saat ia hanya menngangguk mengiyakan apa kata ibunya.


"Ibu meminta Gurumu untuk memperpanjang latihamu selama 2 jam. Kau harus mempersiapkan ujianmu."

"Iya"


"Ibu, bolehkah aku naik sepeda kesekolah?"

"Tidak. Kau bisa melukai jarimu jika terjadi kecelakaan."

"Iya."


"Oke. Oke" "AKu akan melakukannya." "AKu mengerti, akan kulakukan". 


Yoo Seul jadi kepikiran kata-kata Cha Sik kalau ia yang menjadikan ibunya seperti itu karena ia tak pernah berkata jujur mengenai perasaanya.


Ibu berkata kalau ia akan menemani Yoo Seul memasuki stiap kelas dan akan mencatatkan pelajaran Yoo Seul. 

"Ibu."

"Iya?"

Yoo Seul punya sesuatu untuk dikatakan pada ibunya. 


Ibu memanggil Cha Sik untuk makan, tapi Cha SIk diam saja tak berkutik. 

"Ada yang ingin ibu bicarakan setelah makan. ini tentang ayahmu."

Cha Sik langsung melotot. 


Ibu memberikan foto AYah cha Sik. Cha Sik tak bisa percaya karena tampangnya sama sekali tak mirip dengannya. 

"Dia terlihat sangat kaya dan pintar."

Ibu membenarkan dan menambahi kalau sejak muda, Orang-orang memanggil ayah Cha Sik jenius.


Lalu Ibu menunjukkan biografi Ayah Cha Sik yang sangat mudah dicari diinternet.

Ayah Cha Sik namanya Hyun Myung Sae seorang pianis terkenal.

Cha Sik tak percaya, masa orang seperti itu adalah ayahnya.


"Itu benar, Apa kau ingat bagaimana anak-anak menjadikan tanganmu sebagai candaan karena sangat panjang dan runcing? dan tidak kelihata seperti tangannya atlit?"

"Iya, aku ingat."

"Dan apa ringtone ponselmu?"

"Fur Elise."

"Tidakkah itu aneh? Siapa diumur sekarang yang akan memilih lagu itu untuk ringtone ponsel?"

"Ibu benar!"


Lalu mereka membicarakan keanehan-keanehan lain, mulai dari Cha SIk yang tiba-tiba menangis saat mendengar Park Shin Yang bermain piano dalam drama. Cha Sik baru nyadar ternyata itu karena ia mirip ayahnya.

"Bahkan jika kau hanya meniru secuil dari bakat ayahmu, kau bisa 10 kali lebih pintar dan lebih baik dari anak lain. Jadi jangan berpikir kalau kau ini adalah sampah yang rusak. jangan pernah, mengarti?"

"Iya bu."

Tapi satu pertanyaan yang masih menggelayut di benak Cha Sik, apa ayahnya tahu kalau ia adalah anaknya?


Ibu menjawab tidak, dan kembali terduduk lesu. Ibu menjelaskan kalau ia sadar sedang hamil Cha Sik saat ia dan Ayah cha SIk sudah putus.

"Tapi, kenapa ibu tidak pernah memberitahuku mengenai Ayah sebelumnya? Kenapa Ibu tidak menemuinya?"

Ibu menjelaskan bahwa alasannya karena Ayah Cha SIk terlalu besar dan berada diatas mereka jauh. saat Ibu hamil Cha Sik, ibu tidak bisa dibandingkan dengan Ayah Cha Sik. Waktu itu Ibu terlalu malu dan sekarang...

"Aku yang lebih memalukan? kan?"

Cha Sik tahu kalau ia pecundang. Bisa-bisanya seorang pria menangis seperti dirinya dan mengurung diri di kamar. Ia juga malu untuk menunjukkan dirinya di depan ayahnya.


"Tapi kau lebih ganteng dari ayahmu."

"Ibu..."

"Kau pasti belum tahu seperti apa dirimu yang sebenarnya. Tapi Ibu tahu, Kau sangat mengagumkan sampai sulit bagi Ibu untuk percaya bahwa kau putra Ibu. Ibu bersyukur kau mirip Ayahmu."


Yoo Seul mengatakan pada Ibunya kalau ia mau ke sekolah sendirian. 

"Apa maksudmu? bagaimana kau bisa ke sekolah sendirian dengan mata seperti itu?"

Itulah sebabnya, Yoo Seul ingin kesekolah sendirian. Ia tidak bisa selamanya bergantung pada Ibu karena matanya.

"Jangan khawatir, Ibu tidak akan meninggalkan sisimu walaupun sekejap. Tidak apa-apa bergantung pada Ibu."


Tapi, Yoo Seul lah yang merasa apa-apa. Selama bertahun-tahun Ibu mengorbankan hidupnya untuk dirinya dan sekarang ia buta. Pada tingkat ini, ibu tidak akan memilki hidupnya lagi.

"Aku akan mengatakan untuk yang pertama kalinya tentang sesuatu yang aku putuskan sendiri. Jadi mulai sekarang, Ibu jangan mengabaikannya dan tolong hormati apa yang harus aku katakan."

Ibu tak mengerti Yoo Seul kali ini.


"Orang seperti apa aku ini, Ibu?" Tanya Cha SIk.

Ibu menjawab kalau Cha SIk selalu membual seakan tak ada hari esok. 

"Ibu.."

Tapi Ibu sungguh-sungguh. Ayah Cha Sik menurunkan terlalu banyak bakat untuk Cha SIk. Dan yang keluar dari semua itu baru satu, Lompat Galah.

"Jika yang Ibu katakan itu benar, artinya aku bisa melakukan apapun?" 

"tentu."

"Kalau begitu, Ibu. Jika aku menemukan hal baru dan menjadi seseorang yang menakjubkan, bolehkan aku menemui Ayah?"

Ibu mengijinkannya. Tentu saja boleh. 


Ibu ingin lebih diperjelas, sebetulnya Yoo Seul maunya apa.

"AKu akan menjadi siswa baik. AKu akan mengikuti seiap kelas... dan belajar giat untuk memperoleh sertifikat."

"APa itu? Kau menakuti Ibu untuk alasan kosong."


"Dan juga... Aku mau berhenti bermain piano."

Ibu tak percaya mendengarnya. Yoo Seul tak bisa memenuhi exspektasi Ibu dengan matanya yang sekarang dan pastinya ibu juga tahu hal ini.

"Yoo Seul ~ aa"

"Aku tak mau terlibat pertengkarang yang sudah kuketahui kalau aku akan kalah. Jadi, aku akan berhentu bermain piano."


Cha Sik berlari ke akademi piano Ayahnya yang sudah tutup.

Ia melihat tangan Ayahnya yang tampak mirip sekali dengan tangannya. 

"Ayah, Aku akan menemuimu segera."


"Piano, Senang bertemu denganmu. Mari berteman baik."


"AKu akan berhenti bermain piano." Ujar Yoo Seul."

"Putera Ayah, Jeong Cha Sik, akan mulai bermain piano." Ujar Cha Sik.

****

Episode 3 AKan tayang Sabtu depan

2 komentar

Aaaa chingu suka banget jeong cha sik , ga sabar nunggu ep 3 semangat chingu gomawo buat sinpnya 😊☺ hwaiting

Kayanya seru, kapan tayang di TV Indonesia ya? Gak sabar baca sinopsis lanjutannya

Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon