Tuesday, March 22, 2016

[Sinopsis] Mood Of The Day Part 3


Soo Jung kedinginan dan kakinya juga mulai terasa gak enak. Jae Hyun menyuruhnya duduk lalu memakaikan mantelnya.

Kemudian ia jongkok untuk mengecek keadaan kaki Soo Jung. Soo Jung sebenernya gak enak tapi Jae Hyun memaksa.

Kaki Soo Jung terkilir, Jae Hyn memijitnya. Sayangnya Soo Jung  tak punya sepatu lagi.

“memang kelihatannya biasa, tapi bisa berakibat fatal. Kalau kau terus begini, kemungkinan buruk bakal lebih besar.” Jelas Jae Hyun.


Soo Jung gak fokus pada omongan Jae Hyun, ia fokus melihat pundak Jae Hyun yang kehujanan. Soo Jung tersenyum. Jae Hyun menggosok-gosok kan kedua tangannya lalu menempelkannya pada kaki Soo Jung agar lebih hangat, kemudian ia berpesan agar Soo Jung segera mengompres kakinya dengan air hangat sesampainya di Seoul.

“Baiklah.” Soo Jung mengerti dan sepertinya ia mulai terpesona dengan Jae Hyun.


Hujan sudah reda dan mereka melanjutkan perjalanan. Setelah di bawah, Soo Jung mampir dulu ke toilet, beneran kayaknya ia mulai terpesona dengan Jae Hyun.

Saat ia keluar dari toilet, ia melihat Jae Hyun sedang bermain dengan anak kecil.

Jae Hyun mengatakan kalau mereka tidak mungkin bertemu Jin Chul hari ini. dan ia akan mengantar Soo Jung ke stasiun Busan.


Sebelum ke stasiun mereka mampir dulu ke minimarket untuk membeli minum. Soo Jung bicara soal bayar setengah-setengah agar rasa tanggung jawab mereka adil. Saat membeli minuman ia juga minta pembayarannya dipisah.


Soo Jung sudah di hotel sekarang, ia langsung menenggak dua kaleng minuman yang tadi dibelinya sekaligus. 


Sebelum mereka mulai melakukannya, Jae Hyun menanyakan alasan Soo Jung mau tidur dengannya. Soo Jung menjawab kalau ia yakin Jae Hyun adalah orang yang baik.

“Aku? Baik dari mananya?” Tanya Jae Hyun.

Soo Jung merasa kalau Jae Hyun selalu berkata hal-hal baik tentangnya. Bahkan jika Jae Hyun mengencani wanita dengan mudahnya, Jae Hyun tetap hanya fokus pada wanita itu saja. Saat Jae Hyun tersenyum pada anak kecil tadi, kelihatan tulus sekali. Walaupun sibuk, Jae Hyun tak lupa makan 3 kali sehari. Bagi Soo Hyun itu tanda orang yang sangat baik.

Mendengar jawaban Soo Jung, Jae Hyun tak bisa melakukan itu dengannya, ia rasa ini bukan waktu yang tepat. Soo Jung marah dan memutuskan untuk pergi, ia menganggap kalau Jae Hyun hanya mempermainkannya saja.


Jae Hyun mengejar Soo Jung keluar hanya dengan memakai sandal hotel. Ia ingin menjelaskan pada Soo Jung kalau Soo Jung salah paham dengan ucapannya tadi, ia cuma merasa kalau mereka tidak harus melakukannya.

“Aku sampai kehabisan kata-kata dengan orang ini. Lihatlah, kemana perginya dirimu? Dirimu yang selalu memintaku melakukan hal itu? Kau bahkan lupa memakai sepatu.” Ujar Soo Jung.

Jae Hyun menjelaskan kalau ia jadi begitu karena Soo Jung terlalu cantik dimatanya. Soo Jung tak mengerti, sisi mana dari dirinya yang bisa dibilang cantik?

“Kau bertingkah seolah tak mau menjawab pertanyaanku tapi kau mampu menjawab semuanya dengan hebat. Kau bertingkah seperti tidak mau menerimanya, tapi kau tidak melepaskannya. Kau bahkan tidak ada hubungannya dengan oarang yang menagis. Tapi kau menumpahkan airmata mu. Kau tetap mengikutiku walau kau memakai heels.” Jelas Jae Hyun.

“Jadi itu yang membuat ku cantik?”

Jae Hyun mengangguk, ia tetap ingin bersama Soo Jung. 


Sunbae Kang mengorek tempat sampah untuk mencari mantel. Tapi untung ia menemukan mantel, walupun warnanya pink dan motifnya bunga-bunga, yah setidaknya ia gak akan kedinginan malam ini.


Jae Hyun membawa Soo Jung ke stadion basket, mereka harus kucing-kucingan sama petugas, tapi untungnya mereka bisa masuk tanpa ketahuan.


Soo Jung melihat foto masa lalu Jae Hyun dengan tim basketnya, sekarang ia yakin kalau Jae Hyun adalah mantan pemain basket.


Mereka memutuskan untuk minum-minum di tengah lapangan. Disana Soo Jung minum banyak sekali padahal tadi bilang kalau ia tak minum alcohol. Soo Jung merasa demikian dan berkata kalau hari ini ia agak aneh.


Setelah agak mabuk, Soo Jung mulai curhat mengenai hidupnya yang tak berjalan sesuai harapan, bahkan temannya yang baru berkencan 2 bulan saja bisa memutuskan untuk menikah.

“Bagaimana perasaanmu... Kalau kau putus dengan pacarmu?” tanya Jae Hyun.

Rasanya tidak adil, karena Soo Jung sudah memberikan segalanya pada pacarnya. Cinta pertamanya yang akan menikah dengan sahabatnya dan pria yang  sudah 10 tahun bersamanya juga akan mendapatkan wanita lain. Jadi ia harus kemana?

Pemikiran Jae Hyun simple. Jika pacaran lalu putus , apa semua kenangan akan hilang juga? Ngapain pacaran kalau takut begituan.

Soo Jung juga tahu hal itu, itu adalah kata-kata yang sangat sulit ia ucapkan. Kenangan yang ada selama 10 tahun itu tak bisa ia buang begitu saja.

“10 tahun atau 20 tahun, apa masalahnya? Maksudku itu... Cukup pikirkan saja hari ini. Saat ini. Dan di waktu ini.” Saran Jae Hyun.

“Banyak orang yang hidup seperti itu. Dan orang-orang itu, bukan hanya memikirkan hari ini. Tapi setiap harinya.” Balas Soo Jung.


Mereka diam sebentar, lalu Jae Hyun mengajak Soo Jung untuk main basket saja.


Soo Jung mau memulai duluan tapi Jae Hyun merebut bolanya. Jae Hyun melemparkan bolanya tapi gagal, bolanya memantul. Saat Soo Jung yang melempar bolanyamasuk ke keranjang. Soo Jung pun girang.

Jae Hyun tak habis pikir, bagaimana ini bisa terjadi.


Kemudian Soo Jung menarik matras ke bawah keranjang, ia ingin melakukan dunk shot, itu adalah impiannya. Jae Hyun membantunya menumpuk matras. 


Saatnya melempar. Percobaan pertama gagal, Soo Jung gak nyampe. Percobaan kedua berhasil, dengan bantuan Jae Hyun. Soo Jung berhasil bergelantungan di keranjang. Namun Jae Hyun melepaskan tangannya jadinya mereka jatuh bersama.


Romantic time, tapi sayang karena terdengar suara langkah kaki penjaga yang keliling. Jae Hyun lalu menarik Soo Jung untuk sembunyi. 


Mereka sembunyi di balik tiang guede. Penjaga yang tak melihat siapapun disana langsung mematikan lampu lalu pergi.

Suasana mendukung sehingga mereka melakukannya disana.


Saat pagi, jae Hyun mandi. Soo Jung menunggunya di luar. Kemudian terdengar suara ribut-ribut diluar. Soo Jung panic, jangan-jangan ada orang.

“Ah? Tapi mereka semua tidak ada jadwal hari ini..” Jawab Jae Hyun.


Tak lama kemudian sekelompok Ahjumma dan Bo Kyung masuk. Mereka kaget, kenapa ada orang pagi-pagi di sana, apa lagi ini kan toilet cowok ditambah ada pakaian cowok disana.

Soo Jung mengatakan kalau itu adalah pakaiannya bukan pakaian cowok. Kemudian Jae Hyun keluar hanya dengan memakai handuk, ia menerobos kerumunan Ahjumma. Soo Jung mengikutinya dari belakang dengan membawa pakaiannya. mereka malu banget.


Saatnya perpisahan, karena Soo Jung sudah harus kembali ke Seoul. Di stasiun Busan mereka berpisah.

“Ujung-ujungnya. Kita pulang tanpa hasil apa-apa.” Ujar Soo Jung.

“Kalau saja aku bertemu Jin Chul, dan mendapatkan tanda tangannya, aku akan... “tapi ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Apa yang akan kita lakukan di akhir pertemuan ini?”

“Kau ingin melakukan apa?”

“Berjabat tangan? Atau berpelukan? Hanya... Sebatas ini.”

Dan pada akhirnya mereka hanya saling bertukar pesan agar menjaga diri masing-masing. Kemudian Soo Jung masuk ke dalam kereta dan Jae Hyun keluar stasiun.


Di dalam kereta, Soo Jung menatap kursi kosong disampingnya. Ia menangis mengingat Jae Hyun.


Jin Chul akhirnya menunjukkan wajahnya di depan Jae Hyun.


Kemudian mereka bicara di suatu tempat. Jin Chul mengatakan kalau ia ke Seoul mencari Jae Hyun, ia tidak mau ke MBA, ia tidak butuh uang. Jae Hyun melakukan ini bukan untuk uang. Tapi bagi Jin Cheol uang adalah tujuan utama pihak agensi.

“Jin Chul, kesempatan ini tidak datang dua kali. Kau yakin bakal lepas semuanya hanya karena wanita?” Tanya Jae Hyun.

“Hyung, bukan hanya wanita. Tapi orang yang aku cintai. Kau juga tahu itu. Kalau bukan karena pacarku, aku tidak akan sejauh ini.”

Jae Hyun mau Jin Chul sadar. Jin Chul melanjutkan penjelasannya, ia ingin beberapa tahun lagi untuk  berpikir. Ia tahu kalau Jae Hyun sudah membantunya menjadi sehebat ini tapi ia ingin memutuskan sendiri. 


Soo Jung jadi tak sesemangat dulu saat bekerja, ia lebih banyak melamun. Ia janjian untuk bertemu dengan pacarnya. 


Jae Hyun mengatakan pada atasannya kalau ia tidak akan mengirim Jin Chul ke Amerika. Si Boss gak setuju, ini bukan apa yang bisa diputuskan Jae Hyun secara sepihak. Tapi Jae Hyun tetap pada keputusannya, Boss marah dan melemparkan kertas di atas meja.

“Kenapa? Kau tahu, bukan hanya dia yang sudah kau sukseskan!”

“Aku tidak bekerja untuk uang.” Lalu ia pergi tanpa menghiraukan panggilan Boss.


Di luar Sunbae Kang sudah menunggunya. Mungkin ia mau membujuk Jae Hyun agar mengubah keputusannya.


Soo Jung memberanikan diri untuk mengajak pacarnya putus, ia yakin kalau pacarnya juga mau melakukan hal yang sama.

“Itu yang terbaik, oppa. Aku tidak ingin kita berdua terluka. Bahkan kita tidak mampu menceritakan semua waktu sulit kita. Kita berakhir disini, tanpa ada air mata yang jatuh satupun. “

Soo Jung berjalan kembali ke rumahnya.


Jin Chul mengunjungi Jae Hyun.

“Kalau ada yang ingin kau sampaikan, katakan langsung. Tapi kalau ingin berterima kasih, mending pergi.” Kata Jae Hyun.

Jin Chul sudah mendengar kalau Jae Hyun keluar dari agensi. Ia sudah berubah pikiran, ia mau memberikan tanda tangannya, ia tetap mau bermitra dengan Jae Hyun, walaupun tidak di MBA ia kan tetap bintang top basket, lagi pula Jae Hyun kan tahu kalau ia tidak akan cocok dengan orang lain selain Jae Hyun.


Jae Hyun setuju tapi ia punya syarat, setelah Jin Chul menandatangani kontrak, ia minta tanda tangan Jin Chul di kertas kosong.



1 komentar so far

Chinggu ya,
Ternyata Jin chul itu cakep ya.. Dari tadi penasaran ma dia.

Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon