Thursday, February 18, 2016

[Sinopsis] Choco Bank Episode 3


Episode 3: Serangan Dal Su


Saat Dal Su kecil ia melihat Jin Woo kecil yang dimanja oleh orang tuanya dalam membeli roti.

Dal Su (Narasi): Sejak kecil, aku bermimpi menjadi pemilik toko roti. Jadi aku bisa makan roti sebanyak yang ku mau.



Lalu Choco kecil datang membawakan coklat.

Dal Su (Narasi): Lalu, setelah bertemu Mal Nyeon, aku punya mimpi yang baru. Aku ingin menikahi pemilik kafe cokelat. pemilik kafe cokelat. Tapi...


Dal Su melihat Eun Haeng dan ia tak suka. Eun Haeng membuang CV-nya ke tong sampah.


Dal Su bilang pada Choco kalau ia ingin bekerja di kafe Choco. Karena Choco yang menyuruhnya meninggalkan Seoul untuk mencari pekerjaan baru. Oleh karena itu, sampai ia mendapat pekerjaan baru, ia akan kerja di kafe Choco,,” Noona akan memberiku makanan dan tempat tinggal. Setuju?”

“Kau sudah gila? Kenapa kau mau makan dan tidur di rumahku? Mumpung aku masih baik, kau pulang sana.” Jawab Choco jutek.


Kemudian ada pelanggan datang seorang Ahjumma nyentrik. Ahjumma pesan minuman rendah kaloi dan satu kue. Ahjumma tertarik pada Dal Su, ia menganggap kalau Dal Su adalah pekerja paruh waktu disana, ia merasa Dal Su cute. Lalu bertanya berapa umur Dal Su.

“Aku lima tahun lebih muda dari Noonim (sambil menunjuk Ahjumma.” Jawab Dal Su.

Ahjumma tak percaya kalau umur Dal Su sudah 35, jika dihitung dari umurnya. Dal Su kaget, berarti Ahjumma umurnya sudah 40-an.

“Aku 23 tahun, noonim. Noonim terlihat baru 29 tahun.” Puji Dal Su.

Ahjumma langsung meminta daftar produk pada Choco. Choco tersenyum, Dal Su ada gunanya juga.


Lalu Ahjumma berikutnya datang dengan teman-temannya. Dal Su yang melayani mereka dan ia bercanda kalau ada sesuatu di wajah Ahjumma. Ahjumma langsung mengambil cermin.

“Sesuatu itu adalah kecantikanmu.” Goda Dal Su. Dan itu membuat Ahjumma klepek-klepek.


Choco bisa tersenyum lebar. Ia berkata pada Eun Haeng kalau ini menakjubkan.

“Senyummu terlalu lebar, Boss Byun Mal Nyeon.” Jawab Eun Haeng.


Choco membalas kalau Dal Su melakukan hal yang cute. Eun Haeng bertanya, apa hubungan Choco dengan Dal Su. Choco menjawab kalau Dal Su seorang adik baginya, mereka dulu tinggal di kamung yang sama dan rumah Dal Su di sebelah kios neneknya. Choco menambahkan kalau Dal Su adalah anak tunggal dan sejak kecil terus mengikutinya.

Choco balik bertanya, kenapa Eun Haeng tanya. Eun Haeng menjawab kalau ia hanya sekedar tanya saja.

“Yaa! Apa kau berpikir untuk membiarkannya bekerja disini?”

“Tentu! Aku harus memakai apron tiga kali dari biasanya.(artinya penjualan coklatnya semakin laris)”.

Eun Haeng tak suka melihat Dal SU yang bercanda dengan Ahjumma yang lebih tua dari Ibu Dal Su.,,” Ada apa dengannya? Disini bukan kabaret.”

Tapi bagi Choco hal itu lucu, seperti hubungan kasih sayang ibu dan anak. Eun Haeng menjelaskan kalau hal itu melukai harga dirinya sebagai pria dan ia tidak bisa lanjut menjalankan bisnis jika seperti ini, selamanya.


Tapi kemudian ia berkumpul dengan para Ahjumma dan memamerkan keahliannya yang bisa mengajukan pinjaman melalui ponsel. Ahjumma tertarik dan ingin belajar.


Choco  tersenyum terpesoana padaEun Haeng.

Dal Su tak suka dengan apa yang dilakukan Eun Haeng, kan ini kafe bukannya Bank. Tapi bagi Choco, Eun Haeng itu keren dan cerdas.

“Apa? Bukankah kau pernah bilang kalau kau benci pria culun yang hanya tahu tentang belajar.”

Choco menjelaskan kalau ia benci pria yang "hanya" belajar. Bukan pria yang rajin belajar. Dal Su tetap tak terima, mana bisa begitu,,” Itu karena seseoranglah aku menyerah belajar.”

Choco malah memukul kepala Dal Su karena Dal Su menjadikannya penyebab untuk tidak belajar,,” Dan juga, meskipun kau belajar sampai kepalamu pecah, kau tak kan bisa menyamai Kim Eun Haeng.”

Lalu Choco menyuruh Dal Su untuk bersih-bersih dan memilah sampah. Dal Su kesal tapi ia tetap melaksanakannya.


 Dal Su sekarang diluar hendak memasukkan sampah ke tempatnya, tapi sampahnya terlalu berat, makanya ia menyeret kresek sampahnya dan berakibat kresek itu sobek dan sampah berhamburan. Dal SU tambah kesal,,” Kau juga mau mencampakkanku?”

Dal Su menginjak sampah yang berserakan dengan kesal.


Ia menemukan CV Eun Haeng yang Eun Haeng buang tadi, sepertinya ia mempunyai rencana.


AHjumma bertanya pada Eun Haeng apa itu ISA. Eun Haeng menjawab kalau ISA Mudahnya adalah seperti buku bank. bisa digunakan untuk memasukkan dana, saham, dan sebagainya. Semua Ahjumma kagum dengan pengetahuan Eun Haeng masalah finansial.

“Ketika berkumpul disini untuk makan siang, kita menerima konsultasi keuangan. Sempurna sekali. Kami akan sering mengunjungimu. Tapi, apa kau sudah menikah?”

Eun Haeng menjawab belum. Ahjumma satunya bertanya, apa mereka hendak menjadikan Eun Haeng menantu?  dan mereka semua tertawa.


Lalu Dal Su masuk membawa CV yang ia temukan,,” Kan menjadi masalah kalau membuat kekacauan seperti ini, Tn. Pengangguran tanpa kualifikasi.”

Dal Su sengajamembaca resume yang di tulis Eun Haeng keras-keras bahawa Eun haeng sudah menganggur selama 5 tahun. Choco berusaha untuk menghentikan Dal Su. Dal Su tak bisa berhenti, ia menuduh Eun Haeng menipu Noona-nya agar bisa bermitra dengan Noona-nya dan menjadi enasehat finansial.


Eun Haenng keluar dengan kesal. Para Ahjumma malah balik mencibir Eun Haeng yang pengangguran. Choco merasa bersalah.

Ia mengikuti Eun Haeng keluar. Eun Haeng akan naik taxi. Choco berteriak menyuruhnya menunggu. Choco menyeberang tanpa melihat kanan kiri. Ada mobil yang hampir saja menabraknya dan supir mobil memarahi Choco lalu lanjut menjalankan mobilnya lagi.

Choco syok dan masih berdiri di tempatnya. Eun Haeng datang, ia khawatir+kesal ddengan Choco,,” Kau sudah gila? Kau kepala batu. Apa kau tak punya rasa takut? Iya?”


Di rumah, Dal Su menunggu Choco yang tak kunjung pulang padahal ia sudah mengirim banyak SMS. Ia bersikeras tak melakukan kesalahan (karena telah mengungkap jati diri Eun Haeng). Ia kesal pada Eun Haeng yang muncul dalm kehidupannya. Ia membuak CV Eun Haeng kembali dan melihat ada tulisan panjang.


Choco dan Eun Haeng makan bersama di warung tenda. Choco mengatakan kalau Eun Haeng sama persis seperti pegawai bank. Lalu Choco bertanya, apa jika mereka bekerja di bank, mereka perlu menggali semua informasi keuangan.

Eun Haeng menjawab tidak. Ia hanya membantu AHjumma dan teman-temannya tadi yang ingin mendapatkan konsultasi masalah keuangan karena Ia ahlinya.

“Tapi kenapa kau ingin mendapat pekerjaan? Daripada menjadi karyawan, kau lebih cocok berbisnis.”
“Aku juga ingin melakukannya. Tapi haruskah aku melakukan apapun yang ku inginkan? Aku harus menilai situasi terlebih dahulu.”
“Kenapa? Apa ada yang akan membunuhmu kalau kau berbisnis?”
“Kenapa kau berpikiran ekstrim? Meskipun tidak sampai membunuhku, tapi ibuku akan benar-benar menentangnya.”
“Ibumu? Kenapa ibunya menentang?”


Beralih ke Dal Su yang membaca tulisan panjang di CV Eun Haeng,,” Ayahku bankrut ketika melakukan bisnis retail, dan penyakitnya semakin parah sampai akhirnya dia meninggal. Dalam proses untuk memahami segala hal, aku jadi mengerti tentang pentingnya mengelola uang.” Dal Su tersentuh.


Kembali ke Eun Haeng dan Choco. Eun Haeng lanjut menjelaskan kalau setelah ayahnya meninggal, Ibunya ingin ia mencari pekerjaan yang aman,,” Meskipun diancam dengan pisau di leherku, aku tak kan berbisnis. Ibuku meyakinkanku.”

Lalu Choco bertanya apa yang sebenarnya ingin Eun Haeng lakukan. Eun Haeng menjawab kalau ia ingin berbisnis. Chaco menyuruhnya melakukan hal itu. tapi Eun Haeng tetap tak bisa karena Ibunya pasti akan menentangnya. Ia harus mengabdikan dirinya untuk membayar hutang-hutang ayahnya. Dan untuk membuat ibunya bahagia ia harus mendapat pekerjaan.


“Kau bodoh sekali. Hey, lihat baik-baik (Choco menuang semua isi Soju ke gelasnya lalu meneguknya). Bisakah kau mengisi gelas ini dengan botol soju yang kosong?” kata Choco setelah botol Soju jadi kosong.

Eun Haeng merasa kalau Choco sudah masuk dan mengajaknya pulang.


Choco meminta Eun Haeng untuk mendengarkannya saja,,” Untuk mengisi gelas ini, botol soju harus diisi dengan alkohol. Seberapa kalipun kau menuangkan botolnya, kau tak kan bisa mengisi gelas ini. Kau harus bahagia agar ibumu juga bahagia, bodoh.”

 Karena Choco sedang dalam Mood baik ia akan membantu Eun Haeng, ia akan membuat Eun Haeng bahagia. Eun Haeng tak mengerti.

“Aku akan membuatmu bahagia hingga kau dapat membuat ibumu bahagia. Sangat bahagia.” Jawab choco.


EUn Haeng bertanya lagi, kenapa, kenapa Choco harus melakukan hal itu untuknya. Chocojadi cegukan, tapi ia bisa mengatasinya, ia ingin memberitahu Eun Haeng satu hal.

“Sebenarnya.. sejak awal…”



Kata Choco dipotong oleh suaran Da Su yang memanggil Eun Haeng dengan sebutan Hyung. Dal Su langsung menghampiri Eun Haeng dan memeluknya dari belakang. Eun Haeng tak mengerti dengan kelakuan Dal Su ini.

“Aku bersalah, hyung. Ku mohon maafkan aku.” Pinta Dal Su.

Eun Haeng bingung, ia minta Dal Su melepaskan pelukannya dan juga kenapa Dal Su memanggilnya Hyung.

“Aku tak tahu kau punya cerita seperti itu. Maafkan aku, hyung. Tidak! Menurutku kau sangat tampan dan cerdas. Aku pasti sudah keterlaluan. Ayo kita mulai lagi dari awal. Mulai sekarang, aku akan memperlakukanmu dengan baik.”

“Bagaimana kau akan melakukannya?” Tapi Eun Haeng tersenyum, dan mengelus kepala Dal Su layaknya Hyung yang sebenarnya.


Choco (Narasi): Saat itu aku bahkan tidak tahu, bahwa aku akan berbagi kebahagiaan yang melimpah.

*********

Epilogue:

Sebelum membuka kafe. Choco menjajakkan coklatnya di jalan dan meminta orang-orang untuk mencobacoklat buatannta, gratis, tapi tak ada yang mau karena mereka lebih tertarik dengan selebriti yang juga melakukan hal yang sama.

Bahkan ada orang yang menyenggol coklat yang ia pegang sampai jatu. Choco hendak  mengambilnya bersamaan dengan tangan orang yang juga akan mengambil coklat yang jatuh.


Orang itu mengambil coklat yang jatuh dan memakannya,,” Ini enak. Terima kasih.”

Dan orang itu adalah Eun Haeng.

Choco terpesona pada Eun Haeng saat itu.



~Bersambung~


Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon