Wednesday, November 18, 2015

[Sinopsis] Falling for Challenge Episode 4



Seminggu telah lewat, waktunya mengadakan pemungutan suara. Gong Dae ingin mereka makan dulu agar mereka tidak salah pilih. Gong Dae mentraktir mereka dengan banyak makanan. Gong Dae menyodorkan ayam goreng untuk Ha Na. kesal, Do Yeon merebutnya dan langsung melahapnya.
Gong Dae belum menyerah, ia  menyodorkan pizza dan lagi-lagi Do Jeon merebut danmemakannya. Gong Dae menyodorkan ayam lagi, Do Jeon siap merebutnya tapi kemudian Gong Dae melahapnya sendiri.



Setelah semua makanan habis, waktunya pengambilan suara. Hasilnya marathon : 1, film documenter : 1. Gong Dae kecewa dengan Yeo Woon.

Ha Na : Sebenarnya pagi ini Yeo Woon menelponku untuk mengatakan kalau ia ingin membuat film marathon ektrim.    Kau bertanya bagaimana aku menjawabnya? Aku bilang padanya silahkan saja. Melihat temanku mempunyai mimpi seperti itu, bukankan aku harus memberikannya saran yang tulus?

Pengambilan suara berlanjut. Pertunjukkan badut mendapat 1 suara dan suara terakhir juga untuk pertunjukkan badut. Jadi pertunjukkan badut resmi menang.



Gong Dae langsung duduk lesu. Ia kemudian menyeret Yeo Woon untuk bicara berdua, ia meminta penjelasan Yeo Woon yang bilang kalau Ha Na menyukai makanan tapi kenapa gak ngefek. Yeo Woon lalu menjelaskan kalau Ha Na sebenarnya terobsesi dengan truk makanan dari dulu dan bermimpi dapat menjalankan bisnis truk makanan. Lagi-lagi Gong Dae kesal karena Yeo Woon.

Ha Na menyuruh semuanya untuk mengikuti suara yang terbanyak. Gong Dae masih kesal. Ha Na menyerahkan tanggung jawab kepada Do Jeon untuk mengajari mereka semua. Do Jeon akan memulai latihan besok dan menyuruh mereka datang besok dengan hati yang cerah (maksudnya gak ada yang gondok).



Do Jeon mulai memimpin latihan. Latihan pertama adalah mengungkapkan emosi dengan berlebihan. Pertama mereka harus tertawa terbaha-bahak. Do Jeon menunjukkan cara tertawa, mulut terbuka lebar, suara keras, salah satu tangan memegang dada dan sampai membungkuk saking senangnya.

Ha Na dan Yeo Woon mencoba mempraktekannya tapi belum ada penjiwaan jatohnya malah garing. Gong Dae hanya menatap mereka tak ada niat untuk mengikuti instruksi Do Jeon.

“Kita tidak tertawa karena bahagia, tapi kita tertawa karena dipenuhi dengan kebahagiaan.” Jelas Do Jeon.
 

Gong Dae menganggap semua gila, ia tidak mau melakukannya, ia berhenti. Do Jeon menghentikan langkahnya dengan menertawainya keras-keras, Ha Na dan Yeo Woon tak bisa menahan tawa melihat Do Jeon tertawa terbahak-bahak (aku juga) tapi anehnya Gong Dae tak terpengaruh. Gong Dae mengatakan kalau ia itu bangsawan, meskipun DO Jeon mengancamnya dengan pisau di leher ia tidak akan mengikuti instruksi Do Jeon, ia tidak akan tertawa, tidak akan pernah!


Tapi beberapa saat kemudian, Gong Dae tertawa terbahak-bahak bahkan melakukan improvisasi dari yang dicontohkan Do Jeon. Ha Na bertanya, bagaimana cara Do Jeon memaksa Gong Dae.

“aku mengatakan akan memberinya 10juta won” jawab Do Jeon.

Ha Na tertawa dibuatnya.



Pelatihan terus berlanjut. Pagi-pagi mereka jogging. Gong Dae menanyakan manfaat jogging untuk pertunjukkan. Do Jeon menjelaskan kalau tubuh yang fit diperlukan agar mereka bisa tertawa dan menangis dengan keras.

Latihan selanjutnya adalah tertawa terbahak-bahak kemudian mengis tersedu-sedu dan tertawa lagi menagis lagi dan begitu seterusnya. Sampai anak-anak lain melihat mereka dengan tatapan aneh. Mereka bahkan berteriak dari atap. Pokoknya mereka menggila deh.



Do Jeon pulang, Seol menghampirinya, ia membagi permennya pada Do Jeon. Seolbertanya apa Do Jeon sudah mengatakannya hari ini. Do Jeon menunduk dan cling… di hidungnya terpasang hidung badut. Seol menyuruhnya untuk memencet hidung sekali kalau sudah mengatakan dan dua kaki kalau belum. Do jeon menekannya dua kali.

“aigo… Pede Dong! Aku yakin unnie merasakan hal yang sama.” Nasehat Seol sambil mengelus lengan Do Jeon, seperti orang dewasa.

Do Jeon takut kalau tebakannya salah (artinya kalau ternyata Ha Na tidak menyukainya). Seol heran,bagaimana mungkin ada pria yang sangat tidak percaya diri seperti Do Jeon. Akhirnya Seol bersedia mengatakan rahasia untuk memastikan perasaan  Ha Na tentang Do Jeon. Rahasianya adalah wanita akan berada di pihak orang yang mereka sukai. Do Jeon manggut-manggut.

“Seol, kau seperti orang dewasa. Apa karena kau hidup dengan kakekmu?” tanya Do Jeon heran.

“Semua orang juga mengatakan kalau aku seperti orang dewasa.” Jawab Seol.



Do Jeon mengira kalau Seol gak punya ortu tapi ternyata Ortunya Seol di Amerika. Do Jeon bertanya apa Seol tidak ingin menemui mereka? Tentu saja Seol ingin tapi jika ia pergi juga maka kakeknya akan sendirian.

“kakek bilang kalau dia tidak akan meninggalkan tempat ini” lanjut Seol lalu ia memasukkan permen ke mulutnya lagi. do Jeon mengelus rambutnya bangga.



Gong Dae dan Yeo Woon jogging berdua. Tiba-tiba Gong Dae berhenti, ia mengeluh, sampai kapan mereka harus melakukan ini, pada akhirnya Gong Dae satu-satunya yang akan menunjukkan trik sulap berada di depan sementara mereka hanya akan menjadi latar belakang dan lama-lama memudar. Yeo Woon malah berpikir kalau itu menyenangkan.

“tentu saja kau baik-baik saja. Kau memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin kedua” jawan Gong Dae.

Yeo Woon meras tersinggung, kenapa ia jadi pemimpin ke dua? Gong Dae menjelaskan kalau Yeo Woon tak bisa mengatakan apa pun pada Ha Na. yeo Woon membela diri, ia tidak seprti itu dan malah mengejek Gong Dae kalau dialah yang senang tiap kali membicarakan Ha Na. yeo Woon lalu pergi duluan.

“Aku pria tangguh yang selalu mengatakan apa yang aku inginkan bahkan jika pisau diletakkan di leherku” teriak Gong Dae.



Ha Na sudah menunggu di atap. Kemudian Yeo Woon datang bersama Gong Dae. Yeo Woon minta maaf karena terkambat walaupun ia hanya pemimpin kedua. Barulah Do Jeon datang, ia teringat pesan Seol yang menyuruhnya pede sampai ia tak konsen.

Yeo Woon membubarkan lamunan Do Jeon, bertanya apa yang akan mereka lakukan sekarang. Do Jeon mengatakan kalau mereka akan berlatih pantomime. Gong Dae sudah tak sanggup lagi karena pada akhirnya hanya Do Jeon yang menjadi pusat perhatian dan mereka hanyalah latar belakang.



“Hei! Bagaimana kau bisa mengatakan itu? Do Jeon sedang mencoba menyelamatkan club kita” jelas Ha Na.

Lagi-lagi Gong Dae mengatakan tentang dirinya yang seorang bangsawan yang tidak seharusnya melakukan hal-hal seperti itu. lalu ia pergi. Ha Na menyuruh Yeo Woon untuk mencoba membujuk Gong Dae. Yeo Woon malah setuju dengan Gong Dae, ia ingin melakukan hal lain dan malah terjebak disini.



“kami bukan vas dekorasi. Apa kau tahu rasanya menjadi pemimpin kedua?” bentak Yeo Woon , ia kemudian menyusul Gong Dae.



Ha Na pusing dengan kelakuan mereka, ia lalu duduk. Do Jeon bertanya, kenapa Ha Na tak ikut pergi.

“AKu harus pergi kemana? Hari H segera tiba dan sekarang aku merasa sedikit menyesal.. karena keserakahanku, kau jadi dimarahi.” Ujar Ha Na.

Do Jeon hanya menatapnya membuat Ha Na gak enak. Gong Dae menggunakan kesempatan ini untuk memastikan perasaan Ha Na padanya seperti saran Seol.

“HaNa-ya, jika aku pergi seperrti Nam Gong Dae, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan tetap tinggal disini?” tanya Do Jeon.

“apa yang kau katakana? Tentu saja aku akan tetap disini…. Atau tidak ya?” Ha Na ragu.  “Yah,, aku akan memikirkannya jika itu benar-benar terjadi. Kenapa kau menanyakan itu?”



Do Jeon hanya menatapnya. Ha Na jadi tidak nyaman..

“Ha Na-ya … katakana dengan jujur. Apakah kaau … Apakah kau punya …”



Belum sempat Do Jeon menyelesaikan pertanyaannya, ponsel Ha na berbunyi dari mentoring aplikasi truk makanan. Dan Ha Na lulus, ia sangat bahagia sampai memeluk Do Jeon. Yang dipeluk sih seneng-seneng aja malah bersyukur kali. Heheheh..


2 komentar

Manis,,dridlu kimsoeun dpet peran jdi cw ngenes manis cute gitu ya,,,^^

Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon