Friday, November 13, 2015

[Sinopsis] Falling for Challenge Episode 2



Yeo Woon menempel poster untuk mendapatkan anggota baru di madding. Ia mengeluh “seandainya ini adalah ekerjaan paruh waktu pasti aku lebih semnagat mengerjakannya.” (mungkin kalau pekerjaan paruh waktu ia akan mendapat bayaran).

Tiba-tiba bulldog datang dan mengambil satu poster. Bulldog bertanya “sepertinya semua anggota yang bergabung beberapa hari lalu sudah berhenti?”
Yeo Woon menyangkalnya. Ia bersandiwara kalau iahanya ingin melepas poster karena terlalu banyak yang mendaftar. Bulldog mengatakan kalau ia sedang mempertimbangkan untuk membubarkan “one more” karena tak mengalami peningkatan. Yeo Woon syok dan langsung menjatuhkan poster-poster yang dilepasnya tadi.

Bulldog melihat catatan “one more” yang ternyata bernilai nol dalam keaktifan. Bulldog menggunakan itu untuk mengancam akan membubarkan “one more”. Sebelum pergi ia menginjak poster yang terjatuh di lantai.



Kemudian Yeo Woon berjongkok dan memunguti poster-poster tersebut. Tiba-tiba ada yang menginjaknya. Yeo Woon mengira kalu itu adalah Bulldog makanya ia bertanya, “anda mau apa lagi?!”dengan kesal.

Setelah ia melihat ke atas. Ternyata itu adalah Nam Gong Dae. Gong Dae menurunkan kaca matanya dan berkata Sorry. Yeo Woon menyuruhnya untuk terus jalan saja dan tak mempermasalahkan kejadian itu.



Ha Na sedang di luar, ia mendapat kabar soal pembubaran clubnya dari Yeo Woon dan itu membuatnya stress. Ada badut yang memperhatikan Ha Na. Ha Na melihat ada ‘pengamen’ yang menawarkan untuk menghilangkan stress dengan tinju, yang berminat bisa memukul wajah dan  kepalanya untuk melampiaskan stress hanya dengan membayar 10.000 won.



Ha Na langsung mencobanya, ia berhasil memukuli si petinju berkali-laki tampaknya ia seorang ahli. Para penonton menyorakinya. Tapi haya satu pukulan dari petinju ia langsung pingsan. Badut tadi langsung berlari untuk menolong Ha Na.



Ternyata badut itu adalah Do Jeon. Ia memanggil-manggil Ha Na untuk menyadarkannya, tapi tak mempan. Do Jeon berdiri memarahi petinju itu yang melukai wanita, ia bahkan mengajaknya bertanding.

Do Jeon sudah membuka penutup kepalanya. Seorang penonton mengenali siapa petinju itu sebenarnaya (Kim Yoon Min – juara dari timur/seorang petinju professional). Kemudian para penonton meminta foto bersama. Karena tahu kalau Yoon Min bukan lawannya, Do Jeon memakai kembali penutup kepalanya lalu menggendong Ha Na pulang.



Di ruang club Ha Na mendengar pengakuan Do Jeon kalau Do Jeon tak pernah berkelahi/menantang apapun sejak kecil. Ha Na menyuruh Do Jeon cerita apapun, ia akan mendengarkannya. Do Jeon tak tahu memulai dari mana. Ha Na mengerti kalau tak ada yang menyenangkan dengan cara hidup Do Jeon (karena hidupnya datar-datar saja karena Do Jeon tak pernah memilih untuk menghadapi tantangan). Ha Na mengatakan “Bagaimanapun, karena kau ada di club kami, kau harus berusaha keras untuk menemukan jalanmu sendiri.”
 
Ha Na mengajak Do Jeon keluar. Do Jeon diperintah untuk membawa payung gede. Do Jeon menurut saja dan mengekori Ha Na.



Sekarang giliran Yeo Woon yang melakukan wawancara.

Yeo Woon : Sebenarnya mimpiku adalah menjadi sutradara film documenter. Seperti yang anda tahu, untuk film documenter. Topiknya sangat penting. Namun orang yang ingin membuat film documenter … dia sedang disana memakai sunblock.

Maksudnya Gong Dae yang sekarang lagi bercermin di cermin lebar dan memakai sunblock. Yeo Woon sangat kesal dibuatnya.



Yeo Woon : Akhir-akhir ini,bukanlah keren jika para pemuda menantang marathon ekstrim? Apa lagi,ini adalahpertama kalinya aku dimintai oleh seseorang untuk memfilmkan mereka. Beruntungnya aku ~ Begitulah yangkupikir …  (kayaknya Gong Dae ini seorang atlet marathon).

Yeo Woon mendekati Gong Dae untuk memintanya melakukan wawancara. Gong Dae malah heboh sendiri mengarahkan Yeo Woon untuk mengambil video dari sudut yang menurutnya keren yaitu menempatkan kamera di tempat rendah.

Yeo Woon tersenyum garing. Ia langsung memulai wawancara dengan bertanya apa mimpi Gong Dae. Gong Dae bermimpi untuk menyelesaikan grand slam marathon ekstrim dan untuk mencapai itu ia harus memiliki staminabbaik, ketahanan dan keberanian.



Dan sepertinya Yeo Woon tak merekamnya, ia melakukan itu hanya untuk basa-basi tujuan utamanya adalah mengajak Gong Dae untuk bergabung dengan clubnya. Sayangnya Yeo Woon ditolak mentah-mentah ia kembali bercermin (btw cerminnya lo gede banget tingginya lebih dari 1 meter ).

Yeo Woon memaksanya, ia berjanji akan mewujudkan impian Gong Dae. Gong Dae menepuk pundak Yeo Woon dan ia menjelaskan : “tantangan adalah sesuatu yang murni namun kesepian. Tantangan seperti kecakapan memainkan pertunjukkan untuk dibanggakan kepada orang lain? Itu merupakan penghinaan terhadap tantanganku yang murni.

Yeo Woon melepaskan tangan Gong Dae dari pundaknya. “kalau kau tidak mau, kau bisamemilih tidak mau” ujarnya. Gong Dae menganggap itu sebagai akhir dari wawancaranya. Ia lalu pergidengan membawa cerminnya (gila..  cermin segede gitu dibawa kemana-mana ). Yeo Woon berpikir untuk merekam Gong yang kemudian bisa ia masukkan ke topik “gila”.



Ha Na dan Do Jeon membuka stand untuk memikat mahasiswa lain agar mau bergabung dengan club mereka. Ha Na bagian duduk-duduk dan Do Jeon yang mengedarkan selebaran ke mahasiswa. Yeo Woon datang menghampiri Ha Na.

Ha Na menanyakan dimana anggota baru yang dibilang Yeo Woon? Yeo Woon bingung, untungnya ia menemukan alasan kalau anggota baru yang ia bicarakan sedang sibuk mempersiapkan ujian makanya tidak bisa kesana.

Ha Na menyinggung masalah wawancara film documenter Yeo Woon. Yeo Woon merasa kalau Ha Na sudah tahu. Lalu ia jujur kalau baru kali ini ada orang yang memintanya untuk memvideokan dan ia minta maaf pada Ha Na.

Yeo Woon melihat Do Jeon sedang membagikan brosur. Ia bertanya, kenapa Do jeon melakukan itu. Ha Na menjawab kalau ceritanya panjang. Setelah memperhatikan Do Jeon, Yeo Woon merasa kalau Do Jeon pucat, apa ia sakit?

“ Kalau seperti itu, aku mungkin sudah kasihan padanya. Ini pertama kalinya aku melihat ada orang lemah seperti itu.” Jawab Ha Na.

Walaupun begitu menurut Yeo Woon, Do Jeon memiliki wajah yang tampan.



Gong Dae melihat Yeo Woon sedang bersama Ha Na kemudian ia mendekat. Yeo Woon PD banget tuh mengira kalau Gong Dae mengikutinya padahal Gong Dae terpikat sama Ha Na. ia menyuruh Yeo Woon minggir sehingga ia bisa duduk disamping Ha Na, ia kesal karena Yeo Woon tak memberitahu sebelumnya kalau ada jiwa yang murni dan kesepian, belahan jiwanya (Ha Na) adalah anggota club one more. Gong Dae langsung bergabung seketika.



Anggota club One More sekarang 4 orang, mereka berdiskusi untuk mencari cara agar prestasi club mereka meningkat. Karena itu syarat dari Bulldog agar club mereka tak dibubarkan. Ha Na jadi kesal dengan Bulldog.

Gong Dae menyarankan untuk melakukan marathon ekstrem. Arti ekstrem : tempatnya di negara-negara lain seperti Saudi, China, kutub utara). Tapi ia tidak bisa memberi solusi untuk biaya tiket pesawatnya. Ide Gong Dae Out!

Yeo Woon menyarankan untuk membuat film documenter yang otomatis lebih murah. Tapi Yeo Woon belum menemukan tema yang pas. Ide Yeo Woon Out!

Ha Na mengeluh kalau sangat sulit untuk mengumpulkan anggota baru dan sekarang harus meningkatkan prestasi dalam waktu 1 bulan. “akan lebih bagus kalau badut itu ada” kata Ha Na.

Yeo Woon bertanya, badut? Lalu Ha Na menjelaskan kalau ia bertemu badut saat bertemu dengan Bulldog. Saat Ha Na bertemu orang itu (badut) ia merasa takjub seolah-olah ia berada di dunia lain. Masalah lainnya adalah Ha Na tak mengenalnya dan tak ada cara untuk menghubunginya.

Gong Dae tiba-tiba menggedor meja lalu berdiri, mengedipkan mata sebelah untuk Ha Na dan pergi begitu saja tanpa bilang apapun. Do Jeon juga ikut-ikutan pergi. Ha Na menyuruhnya cepat kembali jika Dong Jae mau ke kamar kecil.



Ha Na meminta pendapat Yeo Woon untuk menutup club One More. Tentu saja ditolak oleh Yeo Woon. Ha Na sudah putus asa, mereka sudah punya angggota baru tapi tak ada hal baru yang bisa mereka buat sementara Bulldog sudah siap-siap untuk membubarkan club.

“Ha Na!!! Apa Cuma segitu arti One More untukmu? Orang lain mungkin melihat kualifikasi atau jaringan sebagai tujuan tetapi kau berbeda. Mari kita menikmati perasaan murni saat menantang (menghadapi tantangan). Tak apa-apa bila gagal tapi jangan menyerah. Kau adalah orang yang mengatakan hal itu! tapi sekarang kau bilang kalau kau ingin menyerah? Baiklah. Jika kau ingin menyerah. Maka aku akan melakukan hal yang sama.” Ancam Yeo Woon, ia kemudian bangkit.



Ha Na menghalanginya, kemudian si badut muncul dan menunjukkan triknya tapi kali ini ia tak memakai make up lengkap jadi mereka bisa mengenali kalau itu adalah Do Jeon. Ha Na terdiam melihatnya. Yeo Woon terkagum-kagum sampai menutup mulutnya. Ha Na mengingat pertemuannya dengan badut yang sama dan saat Do Jeon muncul tiba-tiba di depan ruangan One More, ia merangkai semua itu.



“Kau…” ucap Ha Na. Do Jeon hanya menunjukkan senyumnya.


1 komentar so far

Di lanjut y chingu..

Lumayan seruu,,,

Tolong tuliskan komentar ya.. biar lebih semangat ngrecapnya... ^^

Untuk mengetahui postingan terbaru bisa follow akun twitter @Diana_Recap
EmoticonEmoticon